Pada Segala Juang Sanak Familia

Pasang surut hidup nampaknya bukan sebuah hal yg jarang ditemui di setiap percakapan kita sama orang lain. Terutama mereka yg sadar akan keadaannya, kondisinya, dan tau kalo dia lagi ga baik-baik aja. Bukan berarti dengan “nerimo” alias pasrah terus hidup jadi ga berasa naik turun, tetep berasa. Yang jadi masalah cuma kita mau menjadikan hal tersebut “big deal” atau sebatas “ah yaudahlah ya”. Semua ini persoal perjuangan dari masing-masing individunya. Ga semua orang bisa seyaudahlah kayak gitu. Wajar dan sah-sah aja ketika ada orang yg merasa dia lagi naik tau-tau ga lama cuma dalam hitungan hari atau bahkan jam langsung terjun jatuh bebas tenggelam ke dasar lautan. Post ini dikhususkan kepada segala sanak familia non kandung, orang-orang yg ditemui seenggaknya dalam 15 tahun terakhir.

Ada kala dimana kita, berbuat bodoh, bukan karena kita ga pinter, tapi karena kita males berusaha dengan cara yg lain, atau kita ga punya cukup support dari lingkungan disekitar, atau bahkan kita cuma salah pemikiran dan main terobos aja. Ada kala dimana kita merasa apa yg kita pijaki sekarang ini sebatas “lucky chance”, yg bahkan kalo disuruh jelasin kitanya juga ga paham kenapa bisa survive sampai di titik ini. Tapi, ada korelasi antara ketidakpahaman dengan kenyataan bahwa kita tetap hidup-hidup aja meski gatau kenapa. Semua ada di sebuah momentum yg disebut “Proses”. Beberapa dari kita sama sekali ga sadar bahwa setiap waktu, meski kadang bolong-bolong, kita berproses. Kita berproses bersama dengan pengalaman, paksaan, pemikiran, ekspektasi, tuntutan, tanggung jawab dan lain hal dimana semua bermuara di sebuah titik, “progres”.

Jangan salah, proses dan progres bukanlah hal yg sama. Proses adalah apa yg terjadi, progres adalah durasi atau kuantitas yg bisa kita ukur. Kita berproses untuk mencapai garis finish, tapi sampe titik mana kita saat ini, itu masuk lingkupnya progres. Kalau dalam POV relativitas, proses adalah apa yg kita lakukan pada kondisi di titik tertentu, tapi progres adalah output dari apa yg kita lakukan tadi. Kita berproses dengan belajar pemrograman misalnya, progresnya bisa jadi kita paham apa itu OOP, Database, API, algoritma dan struktur data, atau apapun itu yg menunjukkan bahwa kita “berpindah” dari satu titik ke titik yg baru. Perlu dicatat, perpindahan itu tidak ada korelasinya dengan pasti maju / positif, progres mundur itu juga hal yg wajar, apalagi saat kita menempatkannya kedalam sebuah konteks yg terkomparasi dengan hal-hal lain yg juga harus diproses bersamaan / paralel.

Sanak familia yg ayas maksud disini, adalah semua orang yg sempat datang, masih ada, ataupun sudah berjarak, yg pernah berproses bersama baik secara langsung ataupun tidak langsung, sengaja ataupun tidak sengaja tetapi saling sadar bahwa kami berada pada botol yg sama. Dimanapun kalian berada, terjal dan mulusnya hidup ataupun manis kecut pahitnya realita apapun yg kalian alami, mari berproses lebih tegas lagi, lebih tertata, agar kita bisa mencapai progres yg memuaskan, yg menapak maju, bukan mundur. Hidup adalah untuk hidup, nikmatilah hidup ini dengan perjuangan dan hasil panen daripada benih tadi.

Mari Bercerita

Kalo ayas inget setahun ini, dari Januari sampai Desember, ayas belajar banyak dari banyak orang juga. Jangan salah paham dulu, ayas menjalankan protokol kesehatan di tengah pandemi dengan sangat-sangat baik meskipun tetep keluar beberapa kali buat manggung atau buat “berproses” bareng temen. Orang-orang yg banyak tadi lebih ke yg ayas temui sekali doang (sampai detik ini) tapi aktif kontak di WA atau Telegram.

Orang-orang tadi adalah orang-orang yg bertukar pikiran secara unik dengan karakternya sendiri-sendiri via suara (mulut). Kebanyakan, hampir semua, emang via call karena meminimalisir ngumpul di tengah pandemi, cuma beberapa memang one on one. Yang lebih utama dari ketemu langsung adalah proses dimana kami bercerita tentang banyak hal, terkoneksi, berjam-jam dan “nelen” hal baru dari POV orang lain. Beberapa ada yg lebih fokus soal problematika idup, beberapa yg lain lebih ke gimana caranya biar bisa lebih maju dari status mereka saat ini.

Kita adalah produk dari diri kita sendiri, kita adalah garis dari apa yg kita gores. Dimanapun, kapanpun, siapapun, kita adalah apa yg kita tanam, tapi kita juga apa yg kita tabur. Dalam artian, lingkungan mengubah cara pandang kita, pengetahuan memberi barikade antara diri kita dengan lingkungan tadi dengan konteks mengolah informasi dan beraksi atas informasi tersebut. Ga semua bisa hidup dengan nyaman, ga semua hidup nyaman sedari lahir dan akan tetap nyaman selamanya. Kita berproses, kita tumbuh bersamaan dengan waktu.

Cerita-cerita yg nampaknya sederhana, bagi ayas selalu punya core, root, pusat yg paling mendalam dimana hal tersebut punya value. Mau apapun itu, problematika, ego, narsisme, ambisi, impian, renjana dan apapun yg mendasari orang untuk bercerita atas dasar meluapkan “isi” dari pikiran dan perasaannya selalu punya value. Ayas berterimakasih telah bertemu cukup banyak orang baru di tahun ini, baik yg perempuan, pula yg laki. Ayas berterimakasih karena mereka, dekat atau jauhnya, sudah membawa pijakan langkah kaki ini setapak lebih maju, menapak lebih tegas tetapi santai dan kalem.

Teruntuk segala makhluk yg menjadikan 2020 sebagai sebuah panggung pengenalan diri dengan sisi lain hidup via POV orang lain dengan segala naik turun hidupnya, Terima kasih. Semesta menuntun kita diantara hamparan batu dan debu-debu angkasa, Terima kasih.

Kota Cerita

Kota menjadi tumbuh kekar besar nan sangar
Julang tinggi menjilat langit pekat
Dan kami masih duduk-duduk cantik di pinggiran mata angin
Menikmati akar rumput bertabur garam diperut
Selayaknya, menuai santai
Menikmati tua yang berangsur damai
Tetapi tidak...
Si tua bangka ini, tak berprogresi
Dengan hiruk pikuk tanah lahir berbuah getir
Pada sebuah kumuh kecil di tepian Sunda Kelapa
Sesak nafas si tua beranjak pikun
Menelan asam tanpa manisnya
Menenggak serat pati pembangunan kota
Dijamunya aku dengan segelas kopi hitam dicangkir pipih
Tertegun tertawa terbahak berdua
Makmurnya peradaban tak tercermin dari sudut sejarah tertinggalkan

Bermain dengan Waktu

Kuhisapi segala inti daripada sarinya
Kuseduh pelan-pelan melalui selongsong sempit sedotan
Biar makin terasa...
Biar makin lama...
Biar semua yang membuatnya terbang tak berakhir dengan dadakan

Sepenggal narasi ku coretkan pada kertas usang
Pada sekumpulan kuno yang bercerita persoal juang
Darah didih mengalir...
Merah membara digilir...
Seakan problematika membawa pangkalnya menuju prahara

Dengan secarik kisah yang tertanam di benak resah
Terurainya dia menjadi muda yang terlambat bisa
Dicekal,
Dicekoki,
Dipaksa untuk menjadi yang bukan dijadikannya jadi

Pada geram eksplisit diraut mukanya sore itu,
Waktu bukanlah hal yang patut dipermainkan

Terima Kasih, Seperempat

Terhitung dini hari pada tanggal ini, ketika memulai bergantinya hari, ayas teriakkan lantang-lantang soal sekilas perjalanan. Persoal detak jantung dan hembus nafas. Persoal masa-masa yg sempat dan mungkin akan kembali terjadi. Dengan menyebut syukur kepada alam dengan segala ruang dan rupanya nan luas, dengan segala eskalasi tata surya dan runtutan debu-debu angkasa, terimakasih untuk Seperempat Abad ini.

Genap 25 tahun di sebuah tahun yg paling amburadul karena pandemi dan social distancing, ayas merasakan ini bukan waktunya untuk submissive layaknya menua di tahun-tahun sebelumnya. Begitu banyak problematika yg sudah sempat terselesaikan, begitupun yg cuma dilarikan, menghiasi segala sisi tapak perjalanan. Karenanya, ayas sudah tidak sudi untuk pura-pura baik-baik saja. Ini adalah fase metamorfosa, fase paling mencekam dalam pelukan dosa dan logika.

Kepada semesta yang menjadikan ayas ada, mari bersulang!

Tumbuh dan Berkembang, Tapi Belum Berbuah

Dari benih-benih sederhana yg diolah dan diproses sekitaran pertengahan tahun 90an, jadilah sesosok biasa dengan segala sarkas dan dosa-dosa dunianya. Selama beberapa tahun kebelakang terhitung dari 2016 dimana bulan yg sama dengan tumbangnya raga Bapak, ayas sudah cukup mendapatkan progres meskipun tidak seberapa. Tapi kalo diliat-liat lagi, ini progres yg lebih nendang ketimbang progres yang lain. Tentu, ini progres yg baik karena sekitara 2 tahunan lebih terakhir-terakhir ini, ayas mendapatkan panggung baru dan menjadi penata panggungnya, bukan cuma pemain.

Kalau diliat lebih dalem lagi, 4 atau 5 tahun yg lalu, ayas masih berada pada kolong-kolong ego, dimana yg ayas lakukan adalah bersenang-senang, digadai dengan waktu, tapi outputnya ga sebegitu keliatan karena jatohnya ke internal diri / otak. Sekarang, tetap menggadaikan waktu, tetapi outputnya ayas rasakan lebih tinggi dan lebih luas plus keliatan dari luar. Ayas tetap belajar mengobservasi orang lain, diri sendiri, dan mendapatkan ilmu kehidupan, pemikiran, ide dan gagasan termasuk pengalaman dari sana. Selain itu, ayas juga sudah mampu menghasilkan sesuatu yg ayas bisa nikmatin sebagai sebuah “reward”. Ayas belajar hal lain yg sangat-sangat baru sekitaran 2 tahunan ini, baik itu inter ataupun intra, baik itu konteksnya personal ataupun hal lain yg masih berhubungan dengan hidup.

Oktober bisa jadi sebuah bulan dimana ayas pernah merasakan tragedi, tentu ini balik lagi ke tahun-tahun itu, bagi yg tahu. Tapi sekarang, ayas sudah berdamai dengan masa lalu, konteksnya yg ada hubungannya sama Oktober tadi, dan ayas sudah bisa melanjutkan kisah-kisah masa sekarang demi sebuah masa depan. Ga kerasa emang, kayak bulan-bulan berganti cepet banget, tapi disini ayas merasakan kenikmatan tersendiri. Ada sebuah nikmat yg ayas sadari, yg ayas pahami, dan yg ayas tahu bahwa hal ini adalah fakta, sebuah hal yg sangat nyata, realita. Untuk sampai di titik sekarang ini, ayas mengorbankan banyak hal, entah itu waktu, diri sendiri, ideologi, impian, dan macam lainnya. Tapi, karena ayas tau ini sebuah progres yg baik, ayas menikmatinya dengan teramat sangat.

Beberapa hal memang masih menjadi sebuah momok, sebuah persentase negatif soal hidup. Ayas ga akan bohong soal hal itu, tidak setiap hal yg ayas lakukan berprosesnya nikmat, bahkan outputnya juga benar-benar nikmat. Banyak, ga jarang, sangat-sangat pahit, ada amisnya kadang, getir. Tapi, ayas membekali diri dengan sebuah ilmu mahal, ilmu menyadari situasi dan kondisi. Ayas tahu, kalo mau A, B, C, ya gerak, usaha, ga cuman leyeh-leyeh sambil metik-metik kata mutiara ataupun menggumamkan keinginan keudara, dengan harapan nanti terwujud secara “ajaib”. No, no, no, hidup tak sekonyol itu. Kita, makhluk hidup, adalah subjek daripada survival. Barang siapa tidak bisa bertahan hidup, dia tewas, simple. Itu terlalu gamblang mungkin ya, tapi analoginya ya misal kita ga bisa catch-up sama problematika hidup, terus kita ga punya skill komunikasi yg baik buat minta bantuan ke orang lain, ya persentase kita terjatuh dan tak bisa bangkit lagi~ itu jauh lebih tinggi, yg berujung bisa jadi kita beneran jatuh ambyar permanen. Kita butuh usaha, kita butuh berproses, kita butuh survive.

Ayas sempat jadi katak dalam tempurung yg mempersetankan orang-orang, mempersetankan masa depan, karena ayas yakin dengan gumam-gumam berhadiah berbekal buku ajaib masa depan pasti cerah. Itu dulu! Lebih dari 10 tahun yg lalu! Ayas ga bangga sama sekali soal hal itu, karena makin kesini makin sadar betapa konyolnya ayas kala itu. Orang yg ga bisa dan ga mau usaha, pas-pasan apa adanya, pengen sesuatu yg wah sekali, berasa kayak dunia berputar hanya pada diri sendiri. No, no, no, hidup tidak sebego itu.

Pelajaran dan ilmu yg sangat mahal tadi, ayas jadikan sebuah bekal, sebagai amunisi, biar nanti ayas bisa survive dalam hidup. Beberapa bulan kebelakang bahkan, ketika pandemi, ayas sempatkan mengalokasi waktu demi mengobservasi orang lain secara lebih aktif dan dalam, demi mendalami soft skill hard skill secara lebih teratur dan efisien, demi menemukan, membangun dan mengerjakan milestone via kesadaran tingkat tinggi.

Tanpa semoga-semogaan, mari ayas tunjukkan, hasil daripada sebuah usaha tanpa kebanyakan delusi meminta-minta. Proses ini adalah sebuah proses untuk tumbuh dan sudah berkembang, tapi masih menanti musim kala berbuah.

Durasi Bukan Batas Seni

Ayas kerap kali menulis bahwa seni ga boleh dibatasi. Seni adalah hal yg memang selayaknya dibiarkan merdeka, bahkan tanpa ada aturan-aturan apapun didalamnya. Hal ini termasuk jangan masukkan hukum politik ke ranah seni sekalipun seni bisa digunakan untuk hukum dan politik. Yang jadi tolak ukur sekarang, bagi para seniman yg baru muncul, adalah durasi. Kenapa kok jadi durasi? Karena akhir-akhir ini, terutama pandemi, seni makin hari makin diminati via media sosial.

Barangkali kita tahu kalo Youtube, IG story, IG TV, twitter, facebook dll bisa digunakan untuk media penyebaran karya. Mau itu tertulis, audio, visual, audio visual, gambar dan lainnya. Bahkan ga jarang ditemui seniman-seniman ini membuka gerbang via virtual secara full. Terlepas mereka menamakan diri sebagai creator atau bukan, karya tetaplah karya dari penciptanya.

Platform digital membawa angin segar ibaratnya ke industri hiburan dan seniman. Patut digaris bawahi, seni bukan berarti hiburan. Di IG story, dengan max 15 detik per story atau 1 menit per post slide, seniman tadi acap mengakali dengan meringkas konten. Ga jarang ada orang yg mendedikasikan karya mereka bisa muat untuk 60 detik saja, bahkan ada yg 15 detik. Mau itu cover lagu, lagu original, short video, monolog, dll yg berhubungan dengan durasi. Showcase mereka punya durasi, tapi karya mereka tidak sedang dibatasi.

Durasi hanyalah sebuah kesepakatan bahwa sebuah karya bisa punya kesempatan untuk ditampilkan “cerita / pesannya” pada suatu waktu. Terlepas penonton bisa menonton ulang terus-terusan, kontennya tetap akan berada didalam koridor durasi tadi. Ibarat kita nonton film 2 jam, mau kita ulang berapa kalipun, konten filmnya akan tetap sama, terangkum di 2 jam tersebut. Yang jadi pembeda ya tentu di social media lebih pendek, 15 detik, 60 detik, 3 menit, dll.

Durasi lagaknya sebagai sebuah tantangan sekaligus peluang, toh pameran tidak selalu dibuka 24 jam, 7 hari seminggu. Cara seniman mengemas konten yg ia punya dalam sebuah karya cipta merupakan sebuah jalur tersendiri. Jalur yg dikhususkan untuk mereka yg menikmati kompresi meskipun ga salah juga ketika seniman tadi mau untuk tetap full durasi terpotong-potong. Semua persoal selera, semua persoal esensi dan estetika.

Ceritakan Harimu

Pada raga yang lekas menua
Tubuh elegan nona bersuara
Seakan aku menanti bersua
Dalam tak bisa yang tak biasa

Ibarat menggores kanvas putih
Lapisan itu sudah pasti tak polos lagi
Dengan berkembangnya angka
Bertambah pula corak rupa sarat makna

Bukankah,
Kita sudah cukup puas berdiri sendiri?

Bukankah,
Kita sudah cukup kenyang saling berdiam?

Meski tak terpungkiri,
Kafeinmu dan Kafeinku beda bumbu
Jalan pikirmu dan pikirku saling berkubu
Narasiku dan narasimu sempat pula bertemu

Lalu,
Rumah mana lagi yang masih kau cari-cari?

Sekalipun akan tetap ada hujan setelah munculnya pelangi
Sudikah ceritakan harimu kepada payung yang terbuang ini?

Nanti,
Akan kuganti,
Setelah kau mau,
Persoal waktumu yang terbuang karena aku...

- 10 Agustus, 2020 -

Blues, Punk dan Rock

Mengawali bulan kemerdekaan Indonesia, Agustus, ayas mencoba mereka ulang trigger-trigger yg membawa ayas dalam menikmati seni. Beberapa post sebelum ini, sempat ayas gelontorkan beberapa band / musisi yg kebetulan didengerin / diikuti jaman kecil, remaja hingga sekarang. List itu didominasi oleh seni musik yg auranya berkutat diseputaran Blues, Punk dan Rock beserta turunannya. Inti dari semua penggambaran ayas terhadap apa yg ayas dengar dan ayas mainkan ya dari 3 style itu.

Blues, sebuah genre musik yg berasal dari nada-nada sederhana tapi saling terhubung, ciri khasnya adalah jembatan nada layaknya chromatic interval padahal bukan. Genre ini seringkali dibilang mbahnya genre / subgenre musik lain. Rock berakar dari Blues dengan balutan keras di musiknya. Jazz berakar dari Blues tapi dengan improvisasi yg lebih tertata. Punk berakar dari Blues tapi dengan irama yg lebih cepat dan singkat dengan konten lirik yg juga hampir mirip, kegelisahan, keresahan, ideologi dari mereka yg ada dipinggir. Metal pun juga Blues dengan improvisasi cadas yg lebih brutal dengan gaya yg lebih bawah tanah. Kalau ditarik garis ga lurus, musik banyak berakar dari Blues, tapi bukan berarti musik-musik tadi sama dengan Blues ya.

Punk, genre yg sering disebut pinggiran karena didominasi rebel dan street life. Ya kalo dilihat dari budaya memang dari sana induknya, tapi sebelum itupun juga punk sudah dibentuk oleh band yg bisa dengan gampang diterima telinga masyarakat umumnya. Punk menjadi salah satu genre yg digandrungi anak-anak 90an remaja ataupun 2000an awal. Jaman itu, skatepunk, melodicpunk, poppunk, punk rock dll bisa ditemukan di gadget lawas / tape dan radio yg memang didominasi remaja. Ambil contoh Ramones, Rancid, Blink 182, Avril, Green Day, dll yg juga dikonsumsi oleh para remaja dimana abang-abangan mereka mungkin juga menikmati selain Metal, Rock ataupun Trash kala itu. Punk soal menjadi bebas, soal menjadi entitas yg punya ideologi, dan idelogi itu disebarluaskan.

Rock, genre yg keras dengan nada-nada yg cukup kuat dan ga jarang didominasi minor. Genre satu ini adalah salah satu musik keras yg masih bisa diterima telinga masyarakat, alias tidak sebegitu underground. Meskipun pesan-pesan didalam lagu-lagu rock juga banyak yg benar-benar memberikan kenyataan pahit, ideologi, ataupun hal-hal yg cukup underground lah ya. Keberadaan Rock menjadi sebuah wadah pengembangan warna seni musik. Dari sinilah banyak muncul musik-musik yg berbeda warna, berbeda bentuk tapi masih dari benih yg sama. Belum termasuk dengan segala fusion genre yg ada dalam musik.

Akan tetapi, ayas adalah orang yg lebih menikmati musik secara musik itu sendiri. Ayas kurang minat mengkotak-kotakkan genre. Semua genre bisa dibilang adalah referensi dan patokan bagi musisinya. Nantinya, dalam proses eksekusi, musisinyalah yg punya andil apakah mengikuti genre itu atau mengeksplorasi dengan semerdekanya. Dari sini, ga aneh kalo banyak orang yg beda pandangan soal sebuah lagu masuk genre mana, meskipun lagu lain bisa dikenali dengan cepat ikut mana. Intinya, lagu tersebut adalah karya musik, sebuah seni, terlepas dari style musik itu sendiri seperti apa. Ayas ketika suka, ga peduli deh genrenya apaan, karya yg bagus pasti ayas apresiasi. Catatan, “Bagus” adalah hal yg relatif, tergantung individunya masing-masing.

Dari Blues yg dibawa B.B. King, Deep Purple, Jimi Hendrix, Led Zeppelin, The Rollies, Deddy Stanzah, Godbless, dll, berangsur ke Punk yg dikenalkan oleh radio dan MTV kalo ga salah saat itu kayak Ramones, Rancid, NOFX, SID, Netral, Social Distortion, Avril, Blink 182, dll, dilanjut dengan Rocknya The Rolling Stones, The Beatles, AC/DC, Pink Floyd, GnR, Queen, Dewa, Nike Ardila, Jamrud, dll. Semuanya mungkin menjadi penerang jalan anak-anak remaja yg menikmati 90an dan awal 2000an secara general, mungkin. Bagi ayas pribadi, mereka menjadi bara api yg siap setiap saat menjadi kobar bakaran obor.

Beruntungnya ayas adalah tidak mengikuti jaman, untuk urusan seni, ayas mencoba mengakar pada hal-hal yg ayas sukai. Dengan kata lain, halam hal seni, ayas tidak mencoba untuk “suka karena terpaksa” dengan membiasakan diri menikmati seni-seni yg emang ga ayas sukai. Beberapa kejadian ada temen-temen ayas yg biar keliatan keren ngikut-ngikutin alur dan arus, biar trendy. Bagus buat mereka, tapi bagi ayas pribadi, selera adalah hak setiap individu. Dan ayas memilih untuk menjadi orang yg berselera seperti itu. Toh dipenghujung episode, seni akan tetap menjadi seni, sebuah karya yg kita sebegai orang kedua ataupun ketiga, menikmati. Biarkan senimannya, orang pertama, yg berkarya semerdekanya mereka. Suka bilang suka, ga suka ya sudah ga suka aja. Blues, Punk dan Rock akan menjadi selera ayas agar ayas tetap sadar untuk kembali ke asal.