Itulah… Aku

Aku...
Seorang janda muda tak beranak
Lahir dari tangan seorang mapan
Dibesarkan oleh sang asing
Didewasakan dengan tangan-tangan gatal
Jemari yang merangkul dan merangkak
Buah karya pemuda-pemuda 80an
Yang merombak paksa kiblat lakuku
23, tiga kali sirih...
Itulah... aku

Aku...
Seorang perawan tak berdosa
Yang menjajakan diri pada gempita layar kaca
Atas dasar kesalahan asuh orang tua
Membesarkan adik yang masih bocah
Dengan recehan ditangan
Dan ratusan ribu disela-sela ikatan pinggang
Menyodorkan produk unggul khas remaja masa kini
Rona berseri, demi seonggok nasi
Itulah... aku

Aku...
Seorang wanita karir kepala tiga
Membesarkan seorang putri dan seorang putra
Menikmati sepahnya serpihan nikah paksa
Karena aku tak berani bersaksi
Karena aku tak sudi terbuang
Tapi lihat aku sekarang ini
Menggerogoti Jogja di Ringroad Utara
Memburu sesosok pria demi kawan satu malam saja
Itulah... aku

Aku...
Seorang pebisnis tajir melintir
28 tahun berselang seling selir
Tanpa pernah merasa tercukupi hatinya
Tanpa pernah peduli akhirnya
Perihal nikmat surga dan gemerlap neraka
Aku bak ratu yang menjembatani hitam putih abu-abu
Lalu dipulangkannya badanku ke kota Cepu
Mengais ironi dari ratapan Papi dan Mami
Itulah... aku

Mereka...
Sebagian daripada betina yang mengubah mataku dalam memandang kehidupan
Dunia...
Bukanlah panggung yang berakhir bahagia sekalipun kau curhatkan semua doa
Itulah... kami
Sebagian daripada debu angkasa yang beranak pinak di muka Bumi...

Percakapan Dengan Mulut

Sekitaran dua tiga hari ini, ayas ngobrol (virtual) dengan 4 orang kawan baru, karena tuntutan dari diri sendiri buat cari inspirasi diluar apa yg selama ini dialami. Ya, recording session sebulan itu cukup melelahkan teman-teman, Freeman Syndicate dengan nuansa baru ini butuh memecah belah kesadaran otak. Kenapa? Karena kami berempat sadar kalo yang lagi kami record ini ga pengen kami jadikan kayak recording 2 tahun lalu, yg terima jadi. Kami semua pengen mengeksplorasi, terlebih karena pandemi, biar nendang. Ayas menyempatkan meluangkan waktu untuk mencoba kenalan dengan orang baru, biar ada ide-ide fresh gitu. Jangan salah, sebatas ngobrol remeh temeh, bahas yg mungkin ga penting gitu, tau-tau ayas dapet ide fill drum / gitar, ambient, bahkan harmoni lagunya.

Empat orang kawan baru ini yg kebetulan emang betina ya, ya sebut saja begitu, kayaknya kejadian lagi isu yg sama. Isu yg sedari dulu kurang bisa dihandle dengan baik, tapi emang ga ada niatan buat ngehandle isu tadi juga. Ya, kembali lagi ke isu komunikasi via ketikan, ayas agak kaku. Alasannya simple, ayas terakhir kali chat ngetik wkwkwk itu paling 2 3 tahun lalu, abis itu ga pernah karena dulu cuman biar ga kaku aja. Sekarang jelas hiyahiya, itupun ga setiap saat aslinya. Ayas juga jarang haha hihi hehe xixixi apalagi emot. Buat beberapa momen, emang sih kadang make sticker / emot, tapi itu juga sangat bisa dihitung. Hal ini bikin isu lama kambuh lagi, sebuah isu yg bikin lawan komunikasi mikir “Ni anak nyolot kayaknya nih”, “Ni orang galak ya?”, “Lah, santai dong gausah ngegas”. Nyatanya, ayas ga ngegas dan ga nyolot, cuman emang ketikan chat ayas aja yg kurang bumbu-bumbu gaul jadi keliatan mayan kaku. Itulah kenapa ayas selalu lebih suka ngobrol make mulut, mau itu voice call atau video call, lebih asik, lebih aman!

Kebetulan empat orang tadi semuanya sepakat bilang ayas mayan ngegas kalo chat, tapi kalem kalo call. Ya karena emang dasarnya ga ngegas-ngegas juga, itu persepsi pembaca chatnya doang. Kita kalau baca sesuatu, bias-bias asumsi itu pasti lebih gede ketimbang kita denger sesuatu. Kata-kata tertulis ga punya nada ketika kitanya juga ga terlalu memainkan tanda baca. Ujung-ujungnya ya yg baca yg ngartiin beda. Banyak kasus kan orang berantem cuma karena chat, dikira nyolot padahal biasa-biasa aja. Hal itu yg bikin ayas males buat chatting, kecuali untuk orang-orang yg emang tau ayas cukup dekat. Ayas lebih doyan berkomunikasi via mulut, percakapan dengan bibir punya nada, maksudnya lebih jelas. Nyolot ketahuan, ga yakin sama omongannya juga ketahuan, bahkan kalo ada maksud terselubung juga lebih gampang ketahuan kalo ngobrol make mulut tuh.

Ayas mencoba buat menemukan ide baru, malah menumukan isu lama yg kambuh. Sisi baiknya, ayas jadi makin paham kalo ga semua orang doyan buat terlalu banyak ngasih bumbu ke percakapan yg remeh temeh ala kadarnya. Beda cerita kalo lagi essay misal, atau lagi bikin sajak, beda kasus. Mereka semua juga sepakat kalo ayas 140 derajat beda, antara ketikan dan obrolan suara, lebih friendly yg make mulut. Ayas juga sepakat, karena ayas ga jarang dikatain kayak gitu, sampe bosen, asli deh. Ngobrol make mulut flownya lebih seru, ketawanya lebih lepas, relationnya lebih relevan. Tapi ya emang ga bisa diganggugugat kalo ga semua orang punya waktu / kesempatan yg pas buat ngobrol make mulut bahkan jarak jauh virtual sekalipun. Misal ada yg tinggal di kamar bareng adek / kakaknya, atau emaknya, mereka ga leluasa ngobrol kalo ada yg dengerin. Mungkin ayas akan belajar sedikit soal percakapan tertulis, tapi bukan prioritas. Yang jadi hal utama sekarang adalah, siapapun itu yg ngajak ngobrol, mau orang yg bener-bener masih baru / asing, ataupun udah sangat dekat, ayas sempatkan diri buat bertanya “Ngobrol call aja yuk? Via suara.

Mungkin sebuah percakapan ga terlihat begitu wah dimata banyak orang, padahal kalo sadar, percakapan = komunikasi = jembatan buat berinteraksi baik itu ngasih input atau dapet output dari orang lain. Ini sama aja kita sedang melakukan proses yg saling terhubung, ini penting! Komunikasi yg buruk bisa bikin salah paham, bisa berantem malah bisa bikin kita salah arah. Semua soal komunikasi yg baik, mau orangnya dicap ga bermoral kek, pendosa kek, kalo cara dia berkomunikasi bisa klop dan pas dengan lawan komunikasinya, pasti hasilnya jauh lebih positif, bahkan di momen yg sangat negatif sekalipun (saling hina contohnya). Tapi emang kalo diliat dari dulu banget, kemampuan berkomunikasi ayas lebih terasa buat ngobrol make mulut ketimbang ngetik. Ngobrol di mulut bisa kuat 8 9 jam (true story), itu bener-bener no bucin, bukan call bahas sayang-sayangan bullshit that kind of a thing. Itu bener-bener bahas sesuatu yg penting / urgent, kadang random tapi bermutu dan lama-lama jadi deep juga.

Sampai di titik ini, ayas bingung, apakah ayas emang ga bisa ngetik dengan baik dan benar dalam konteks Chatting, atau emang ayas ga menikmati berbagi ketikkan? Banyak hal yg lebih gampang dan lebih cepet dipahamin ketika kata-katanya punya nada, tentu doi harus punya sumber suara, vocal chord, corongnya di mulut. Sementara ayas bakalan nyoba buat memperdalam hubungan komunikasi dengan siapapun, di fase apapun, bahkan buat yg paling ga sreg sekalipun. Urusan isu chat yg kaku, ayas pikir nanti aja, toh ga terlalu menikmati.

Sudikah

Berwindu bertamu tanpa bertemu dengan jamuan kerlap kerlip virtual, sudikah kau datang kepada sebuah koordinat yg menjamahmu tepat. Merangkum tentang pagi siang sore dan malammu. Menatap sepasang mata kiri dan kanan dengan sudut pandang yg lurus. Mengawali sekian lama pergi dan mengakhiri sekian lama jumpa. Menggoreskan garis pada garangnya kanvas yg sama. Menutup yg terbuka, dan membuka yg tertutup. Menjadikan kau sebagai lawan dari sebuah pergerakan bibir yg kusebut percakapan. Membagi apa yg menjadikan kisahmu, kamu, dengan tanpa memperdulikan batas-batas tabu yg membuat nadimu membiru.

Demi segenggam kisah lama yg terurai pada keganjalan komunikasi, sudikah kau terduduk didepanku sembari menikmati kopi di malam hari. Dengan sebatang tangkai layu daripada masa lalumu ditangan kiri, ataupun sepatah kosakata yg bertengger ditelapak kanan. Menghembuskan nafas dengan berbagi oksigen yg saling bertautan. Merencanakan kabar daripada kaburnya kibaran kobarmu. Menemani sepertiga pagi hingga bulan tergantikan matahari. Berdua saja.

Demi mengingat segala lelah yg telah kau luluhkan, sudikah kau membagi resahmu kepada si tua yg peduli ini. Mencampakkan segala gengsi dan barikade pertahanan diri. Menuju ke perjamuan sepasang kawan lama yg saling bergerilya. Sembari mendekatkan langkah demi titah yg tertatih, kita tenggak sombongnya dunia dengan racun egoisme diri. Sebelum genapnya menjadi ganjil. Setelah ganjilnya tergenapi.

Kepada arah yg menjadikanmu tertuju, sudikah kau sebentar saja menempatkan aku disamping jalurmu. Biar segala cacian yg terkumandangkan bisa turut kunikmati, selayaknya si bodoh yg menuntunmu dulu kini dan nanti. Bilamana ragamu mau menggandeng pelan sela jemariku, kuijinkan kau mendapat sesosok kawan yg mengedepankan cita rasa bertahan dari gempuran kehidupan. Bilamana ragamu memilih memberi jarak atas dasar ketidakinginan, biarkan hembusan diantara raga kita yg menceritakan segalanya. Persoal hangat, persoal dingin, persoal fragmen hidup kita yg belum sempat terjalin.

Sudikah kiranya kau membagi sedikit cerita yg selalu ku nanti. Ceritakan ceritamu padaku.

Sendiri

Dalam heningnya notif WA untuk beberapa hari ini, ada sebuah renungan yg terbesit alhasil meeting sama sobat sebat kantor. Sebuah renungan yg lebih ke pertanyaan, belum terjawab, tapi kisi-kisinya dapet. Sebuah renungan yg sekiranya ayas, atau mungkin kalian juga, bisa merefleksikan pada diri sendiri, persoal sendiri.

Pernah ga sih ngerasa sendirian? Ngerasa kayak mau ketemu sama berapa orang sekalipun, tetep aja berasa sepi, sendiri. Pernah ga sih ngerasa semakin kita berkomunikasi dengan orang-orang, malah semakin berasa sendirian? Ramai kumpulan manusia ga bikin rasa kesepian kita hilang begitu aja. Pernah ga sih?

Sekiranya Maret ini emang semua sedang sibuk. Ada yg sedang sibuk memperkaya ilmunya demi naik karir ke jenjang yg lebih baik, jadi ketemu aja mulai susah. Ada yg sedang fokus bikin karya, bikin bikin bikin, sampe diajak ngobrol doang aja katanya ga fokus. Ada yg sedang mencoba membangun puing-puing sandi masa depannya, yg kebetulan tengah berserakan antah berantah. Ada yg sedang beradaptasi dengan culture baru, sekalian memantaskan diri sekaligus belajar menjadi sesosok yg telah bermetamorfosis. Ada juga yg sedang berusaha mati-matian biar ga mati.

Dengan segala kesibukan ataupun distraksi yg timbul tenggelam di pertengahan awal Maret ini, ayas terhimpit oleh pikiran-pikiran aneh yg mulai bermunculan tiap kali ayas lagi bener-bener sendiran. Pikiran yg serasa layak untuk dituangkan, tapi minim niatan. Sebuah percakapan dengan diri sendiri yg cukup menguras tenaga, kenapa? Karena ayas serasa menampar diri sendiri, yg mungkin kalau diobrolkan dengan orang lain ya mereka juga akan merasa tertampar. Ada hal-hal yg nampaknya cuma bisa kita sadari ketika kita tidak peduli, dan kebetulan diantaranya malah bisa menjadi sebuah materi untuk kita lebih sadar diri.

Sendiri itu sebuah feeling yg kadang asik, karena ayas doyan sendirian, tapi di momen-momen tertentu rasanya kayak ada kekosongan yg bikin otak dan otot jadi lemah. Pikiran jadi capek, badan jadi lesu, berasa kayak orang abis lari-lari 3 hari non stop. Ayas mencoba berinteraksi dengan kawan, malah menjadi semakin kepikiran. Nampaknya ayas sedang diforsir untuk memahami sebuah kondisi yg ayas sendiri gagal untuk sadar, bisa jadi udah sedari lama ga sadarnya. Masing-masing dari kita emang harus punya semacam companion (bukan yg versi abu-abu boi), tapi lebih ke objek khusus dimana kita bisa berinteraksi dengan mereka dan lega. Oke oke, mungkin beberapa orang emang udah punya yg bisa dijadikan companion, tapi disini maksud ayas adalah jangan terfokus di satu orang doang, bisa jadi kita bakalan dapet POV baru yg lebih nendang dengan nyari companion yg baru. Gunakan companion ini ya untuk companion, jangan campur adukkan sama romance dkk, ga nyambung. Tujuan utamanya adalah merobohkan gengsi pada diri sendiri, biar ketika ada apa-apa, kita punya sosok yg bisa diajak dewasa sementara.

Tapi serius deh, bahkan rasa selalu sendiri di keramaian kayak gini tetep ada sisi positifnya, apa? Ya itu tadi, lebih sadar diri sama apa yg dibutuhin, alih-alih terlalu narsis dan ego sentris. Ayas selalu bilang semua kembali pada diri sendiri dalam konteks survival di dunia, ya benar, tapi ayas ga bilang buat jadi individualis, ayas ga bilang kalo bantuan orang lain itu ga perlu, ayas cuma bilang kalo kita harus bisa berdikari sebisa mungkin, merdeka di kaki kita sendiri hampir setiap waktu, dan saat kita tumbang, kita punya sosok yg mau membantu. Lucunya adalah, kadang kita bingung sebatas mau ngajak ngomong soal yg lebih personal ke orang lain, ngerasa kayak apakah kita sepenting itu sampe mereka bakalan mau dengerin? At least nemenin? Ternyata, setelah ayas praktekkan, membuka percakapan sambil nanya punya waktu ga itu jauh lebih bermanfaat ketimbang mikir ditolak atau ngganya. Kita ga akan tau kalo ternyata orang yg kita minta sebatas dengerin atau nemenin aja, bisa jadi orang yg malah ngelarin banyak segi dan bentuk daripada sebuah masalah. Minimal kita dapet POV baru, relevan tidaknya, itu persoal pengalaman masing-masing.

Mungkin ini dampak dari keseringan muter lagu versinya Chuck Berry – The Thing I Used To Do (asli buatan Guitar Slim) yg bikin nuansa Blues semakin menggila di otak. Tiap hari main gitar Blues Blues Blues, lengking mulu sampe dikira tetangga mulai gila karena main gitar listrik kenceng tapi lengking semua alias bending senar terus biar Bluesy. Lagu itu kayak makin mendobrak feeling kesendirian selama beberapa hari ini. Kita butuh sebuah pemuas nafsu pastikan kalo lagi ga ngerasa nyaman, contohnya tadi nafsunya di keluarin via gitar kenceng-kenceng, kelar. Saran ajasih, coba kita melakukan setback, sebuah cara dimana kita ngeliat hari-hari kemarin entah berapa hari, terus kita lihat hari ini, kita zoom out sampe semua kronologinya keliatan dalam satu frame. Ga perlu fokus ke detail ngapain aja, yg penting kita punya gambaran dan alur soal kelakukan kita dan pengalaman kita beberapa hari kebelakang. Apakah hari ini ayas sudah bahagia? Kalo belum, apakah kemaren dan kemarennya ayas bahagia? Kalo iya, kira-kira apa yg membuat ayas ga bahagia hari ini? Apakah karena input hari ini lebih kecil daripada hari kemaren dkk. Tapi kalo semisal kemaren-kemarennya juga ga bahagia, tarik terus setbacknya sampe ke waktu dimana kita sadar kita sempet bahagia dalam waktu yg paling dekat dari hari ini. Kira-kira, kita kenapa waktu itu? Apakah ayas habis dapet hadiah? Apakah ayas habis nolong orang? Atau ayas nemu ide baru buat karya yg masih belepotan ini? Dari situ, pertanyaan kayak gitu, bisa bikin ayas jadi lebih sadar diri. Apakah ayas benar-benar mendapatkan ketidakadilan hari ini, atau emang dasarnya ayas yg ga bisa paham situasi aja jadi playing victim dan meluberkan ke orang lain padahal parasitnya ada di diri sendiri.

Ayas selalu menerima siapapun yg mau atau membutuhkan companion, katakanlah sebatas jadi temen ngobrol dikala mereka bener-bener down. Kenapa? Karena ayas tau rasanya lega itu lebih enak ketimbang berkecamuk sendirian, meski lawan bercakapnya ga ngasih solusi, sebatas dengerin secara direct (mulut, bukan ketik, terlepas jauh atau dekat). Sementara ayas sendiri suka lupa kalo ayas juga ga jauh beda sama mereka, ayas juga butuh pelega, meski ayas masih bisa nyari tipis-tipis sih. Hal yg paling penting adalah, memulai percakapan dengan ajakan, waktu emang mahal, tapi bagi ayas, selama ayas bisa memberi dampak signifikan secara positif ke orang lain, waktu ayas ga pernah terbuang sia-sia, bahkan untuk orang yg paling ayas ga suka.

Sepotong Syair Tersiar

Beberapa hari kebelakang ini, mungkin ayas sedikit mengeksplorasi tentang kenapa sih ayas dengan senangnya dalam hati membuka diri buat mengakui kalo ayas punya POV yg berbeda ketimbang beberapa sanak kolega. POV ini termasuk dari segi apa yg ayas percaya. Sebelum lebih lanjut, ayas pastikan ayas ga akan secara gamblang menulis apa yg ayas tujukan di sebuah tulisan yg bisa diakses khalayak ramai kayak gini, ayas lebih menikmati jalur private ketika ngebahas hal ini. Tapi, ayas coba analogikan beberapa poin penting yg membuat ayas, menjadi ayas.

Ga bisa dipungkiri, style dan selera musik / seni ayas emang tua, ayas masih ngulik lagu-lagunya AC/DC, masih menikmati swingnya Frank Sinatra dan Dean Martin, masih singalong sama lagu-lagunya The Ink Spot, masih suka dengerin nyanyiannya Tante Lien alias Wieteke Van Dort apalagi yg Halo Bandoeng (ngeri ini). Tapi dibalik selera fashion dan seni yg lawas dan tua, ayas berpikiran ke depan, ayas ga terpaku pada adat-adat usang. Garis bawahi kata adat-adat usang. Adat ini adalah apa yg diturun temurunkan, dari kakek, nenek, ayah ibu, dan leluhur terdahulu. Kalo ditanya kapan melakukan ini itu kayak ortu dulu, ayas dengan senang hati bilang ah udah ga pernah, kemungkinan besar ga akan pernah lagi. Jangan salah, ayas lahir di lingkungan yg kental dengan kepercayaan, meskipun makin kesini makin fleksibel, jaman kecil dan remaja dulu, semua serba kepercayaan, kepercayaan, kepercayaan. Ayas sempat menulis kayaknya di platform lain beberapa tahun yg lalu, semesta tidak peduli dengan apapun yg kita yakini.

Benar aja kan, kalo ayas pikir-pikir lagi, apasih yg semesta mau dari kita itu? Ada yg tau? Ada yg pernah bisa menerka kira-kira kenapa sih orang-orang berteriak soal keadilan sementara dunia ga pernah memberikan sumber daya secara adil. Maksudnya gini, orang yg lahir di negara A, kaya akan minyak, dia kerjaannya minyak semua dari tukang ngebor sampai yg punya kilang minyaknya. Toh tetap, dari sumber yg mahal, si tukang ngebor tadi tidak semerdeka yg punya kilang minyaknya. Bandingkan dia dengan orang di negara B yg isinya konflik semua ga punya minyak ga ada sumber daya alam yg bagus, pekerjaan pun ga ada, mereka makan dari sisa-sisa ladang yg bisa ditanami tanaman pokok. Mereka ga punya privilege yg sama dengan si tukang bor, yg kemungkinan masih bisa beli TV, punya internet atau minimal menyekolahkan anak-anaknya di area yg lebih aman dan nyaman. Bandingkan lagi dengan perempuan-perempuan di negara C, yg selalu dipaksa tertutup, ga boleh keluar malam, ga boleh ini itu dan diwajibkan di dapur dan di kamar, ada! Lalu lantas sisi adilnya dimana? Dunia bukan tempat bagi kita untuk meminta keadilan, dunia adalah panggung bagi setiap individu untuk memperjuangkan keadilan versi mereka sendiri demi mendapatkan hidup yg cukup nyaman dan aman. Semua soal survival.

Masing-masing dari kita merasa takut buat ga mendapatkan haknya, sementara kita sendiri masih mengedepankan ego dalam memilih hak-hak apa saja yg bisa kita peroleh. Kita adalah agen daripada diri kita sendiri, kita adalah makhluk yg memang pada dasarnya tamak dan ingin menjadi titik poros perputaran dunia. Semua tentang kita, dan hanya kita. Sifat dasar inilah yg membuat orang jaman dulu, takut. Mereka merasa harus menemukan sebuah cara, dimana ego daripada orang-orang lain tersebut bisa dikendalikan, bisa tertata, bisa diatur secara hukum. Tapi, mereka ga bisa serta merta bilang “Eh ini kamu harus begini, karena kalo begitu kamu nanti aku hukum” Ya kalo gitu sebelum mereka kelar ngomong udah abis duluan dipukulin satu kampung. Dia mencoba menguasai attitude orang lain dengan membawa nama diri sendiri, sebuah narsisme yg kelewat absurd bukan?

Kalau benar kita ga bisa mengatur orang lain karena masing-masing punya ego dan punya keberanian untuk memberontak, lantas apa yg orang jaman dulu bikin biar bisa mengatur orang lain sesuai kehendaknya tapi meminimalisir konflik yg ada? Jawabannya simple, buat sebuah klaim yg sangat membingungkan, tapi memberikan hadiah dan berisi hukuman bagi yg melanggar, klaim ini harus berasal dari sebuah hal yg ajaib dan menakjubkan. Sebuah entitas tinggi yg melebihi logika manusia jaman itu. Sebuah konsep dimana kamu akan menjadi baik, suci dan tinggi, dan akan menerima kenikmatan melimpah nanti KALAU kamu mengikuti apa yg aku bilang sesuai apa yg entitas ini bisikkan di telingaku, tanpa pamrih, tanpa tanya, tanpa pikir panjang. Menarik bukan? Orang mana yg ga doyan hadiah? Apalagi kalo embel-embelnya hadiah ini diberi oleh sesuatu yg sangat besar, sangat kuat, yg menjadi awal dari sebuah sesuatu dan menjadi akhir daripada segalanya. Kamu bakalan dapet hadiah dari sesuatu yg sangat mencintai kamu, menyayangi kamu sebagai bagian dari dia, melindungi kamu, mendengarkan keluh kesahmu, menjaga kamu disaat kamu sakit, mengasihi kamu sampai kapanpun, dia sangat mencintai kamu sampai-sampai dia bisa ada dimanapun kamu berada, dia tau apa yg kamu mau bahkan sebelum kamu meminta. Sungguh luar biasa bukan?

Bukankah indah jika ada sesuatu yg sangat mencintai kamu segitunya? Tapi ingat, syarat dan ketentuan berlaku, kamu ga boleh melakukan apa yg ga dia suka, kamu wajib melakukan apapun yg dia mau, atau kamu bakalan diseret, digantung dan dijatuhkan kepada sebuah liang penuh bara api, yg berceceran lahar panas yg bakalan bikin kulit kamu kering terbakar dan mengelupas, yg akan menghujami kamu dengan anak panah, batu tajam, bilah pisau, memenggal lidahmu, mengkoyakkan isi badanmu, menginjak kepalamu dan menusuk rongga-rongga dadamu, mencabik-cabik dagingmu dan mencambuk organ vitalmu, mengangkatmu tinggi ke atas langit dan menghempaskan badanmu ke permukaan duri-duri beracun sampai badanmu penuh nanah dan terpecah belah. SEMUA KARENA DIA SAYANG KAMU DAN DIA ADALAH SESUATU YG PASTI BAIK. Sebuah kasih sayang yg dilandasi oleh paksaan dan hukuman bagi ayas adalah hal konyol, lebih konyol lagi ya yang mau.

Ayas ga tega menulis paragraf diatas sebetulnya, tapi ayas merasa memang benar demikian, kita ga perlu jadi pinter buat tau dan paham apasih maksud dari tulisan-tulisan yg tertuang di buku kuno itu, bahkan ketika dipaksa “itu kan cuma perumpamaan”, tetap aja penyiksaan atas dasar hukuman tadi sadar tidak sadar, suka tidak suka, membuat siapaun yg sedari kecil dicekoki aturan-aturan tersebut untuk TAKUT. Alih-alih mereka sepakat menjadi baik, mereka malah fokus untuk tidak tersiksa nantinya. Mereka menjadi produk adat usang yg menarget jiwa-jiwa tak tenang, jiwa-jiwa yg tidak bisa berkawan dengan kenyataan. Jiwa-jiwa tadi adalah sasaran empuk, yg kebetulan mendarah daging, mengendap disetiap lekukan otak anak, cucu, dan cicitnya. Dipaksakan oleh khalayak ramai untuk dipercaya atas dasar kepedulian? Bagi ayas, ketika ayas dipaksa menjadi baik, ayas merasakan bahwa ayas sebenarnya dikekang, bahkan ketika ayas mencoba membebaskan diri, stigma akan hukuman dikala nanti masih akan terngiang-ngiang sekalipun ayas pastikan ayas ga bisa membuktikan apakah hukuman tersebut ada, termasuk apakah beliau juga merupakan sebuah fakta.

Orang jaman dulu mungkin bisa termakan oleh syair yg tersiar dengan tatanan kosakata penuh makna dan mutiara, tapi ayas bisa lihat makin kesini, segalanya semakin tidak relevan, dan ayas ga sendirian. Ketika ayas meng-klaim, Ayas punya mobil yg rodanya 20 tapi jalannya didalam air, sekuat apapun kamu percaya klaim ayas tadi, ga menjadikan mobil dengan 20 roda milik ayas tadi benar-benar ada! Pertama, ayas ga punya mobil dengan roda 20, apalagi mobil yg jalannya didalem air. Satu-satunya cara untuk menunjukkan realita yg sebenarnya adalah, ya ayas harus nunjukkin ke kamu kalo mobil itu emang ada dan bener-bener bisa jalan di air. Simple kan? Keyakinan kamu soal klaim ayas ga relevan dengan kenyataan. Mau kamu ga percayapun, faktanya tetap ga akan berubah. Alih-alih dibilang hebat, klaim ayas di era modern kayak gini malah bisa dibilang gila, terbukti itu sudah berapa banyak orang yg bikin aliran baru dicemooh satu planet, apakabar tetua jaman dulu yg “moon maap nih” nyoba ngetweet komat kamitnya di jaman sekarang, zonk! Ayas memimpikan semua orang bisa berpikir setidaknya sedikit lebih rasional ketimbang submissive iya iya aja ketika ada sesepuh / orang penting yg mengklaim sesuatu. Bung, semua manusia punya cacat, dan circular logic ga kan membantu mereka untuk membuktikan sesuatu yg memang selama ini ga terbukti. Bahkan ketika ayas bikin klaim itu dalam bentuk buku, 2000 tahun lagi, orang debat apakah ayas punya mobil 20 roda jalan di air ga akan ada bisa buktiin, karena emang ga ada barangnya, sekalipun buku ayas sendiri yg menunjukkan kepemilikan barang tadi dalam bentuk tulisan.

Tidak ada kebenaran yg pasti, tapi kita bisa mencari tau kebeneran yg lebih mendekati dengan kenyataan dengan bertanya dan meriset fakta, keluar dari zona iya iya aja dan mulailah berjibaku membasmi tabu. Buka matamu, sebelum ia selamanya tertutup.

Perihal Perih dan Parah

Terhitung akhir Februari ini, ayas menemukan sesosok kawan baru yg ga bisa disebut namanya, kawan yg nampaknya udah tau agak lama cuma baru inget kalo kami pernah satu lingkungan pergaulan. Biasa, karena mungkin terlalu asik dan fokus berkomunikasi dengan orang lain sampai detail-detail diluar konteks kurang dipahami dengan lebih seksama. Doi adalah sama, anak UB juga, alumni lah ya. Kebetulan kami satu grup Line di second account dulu, akun yg cuman buat testing aja. Ternyata dia masih aktif update, ayas kebetulan liat postingannya dan mencoba komen, meski ga kenal dan ga inget kapan saling add-nya.

Doi bikin postingan mini dengan nada satir yg menarik: “Ketika muda dulu, aku nyoba buat ngejar mimpi, pas udah tua kayak sekarang ini, mimpi ini malah yg ngerjain diriku sendiri.” Ayas tertarik untuk komen ngasal, “Iyasih, menua dan hidup di kaki sendiri emang nikmatnya beda kayak pas masih bisa leha-leha sambil TA (titip absen kelas)”. Niatnya iseng, doi malah ngechat, kemungkinan besar kami ini pernah ngobrol tapi lupa aja kapan dan ngapain gitu. Dia buka chatnya dengan sebuah kalimat yg udah sangat jarang ayas temuin semenjak cabut dari Malang, “Yo opo Yo, isih nde Malang a?”. Waduh, itu kosakata ngalam mania dengan logat jatimnya yg bernuansa beda. Makin yakin ini orang udah pernah ngobrol tapi ga diinget.

Ayas selalu makin berani buat ngomong to the point aja sama orang lain bahkan yg baru kenal, ayas bilang terus terang aja soal kondisi dan situasi yg terjadi, toh mikirnya informasi yg ayas beri ga ada dampak negatifnya ke diri sendiri. Chat panjang, dan sampailah kepada titik dimana ayas kembali ke mode normal, mode dimana lebih doyan ngobrol make mulut ketimbang ngetik, ya call. Untungnya doi juga lagi gabut dan ada pikiran makanya diiyain aja. Udah hampir satu setengah tahun mungkin ayas ga pernah make Line, nyoba lagi dan emang feelnya ga seasik dulu, tapi kali ini nyoba buat menggunakan fitur yg dulu sering banget ayas pake, Freecall / FC sekalian cari temen ngobrol.

Rupa-rupanya doi ini pernah satu kepanitiaan, beda divisi, ya kepanitiaan salah satu dari sekian banyak kepanitiaan yg ayas ikutin lah ya. Tapi doi lebih minat buat ngebahas status tadi, tentang Dikerjain Mimpi. Dengan gamblang dan semangat 45 doi ngomong panjang lebar soal keluh kesahnya sehabis punya kerjaan sendiri yg juga salah satu dari hobi, doi adalah seorang Graphic Illustrator, kerjaannya bikin ilustrasi tapi bentuk vector, pekerjaan yg doi kejar meskipun lulusan Fakultas Teknologi Pangan. Di sini ayas menerima info-info menarik nan membuka wawasan, sebuah hal yg ga ayas duga akan berasal dari seorang kawan lama yg ayas sendiri bisa-bisanya lupa. Dia nyeritain tentang kerjaannya yg serba tertekan, penuh dengan paksaan, ga ada bebas-bebasnya, padahal seni. Dia mati-matian belajar bikin ilustrasi dan desain grafis, ikutin course yg berbau DKV dan semacamnya demi nyalurin hobi dia, design dan ngegambar. Sayangnya, hal yg dia dapet dikantornya itu sebatas kayak tukang setting, dia ga menciptakan ilustrasi sesuai apa yg dia mau, dia harus nurut ke siapapun yg ngebayar dia. Namanya juga jualan jasa mau seni ataupun ngga, kebanyakan clientnya lah yg pasti bakalan minta ini itu disesuaikan meskipun mereka ga sebegitu paham teknikal ataupun segi artistiknya.

Dia cerita perihal perih dan parahnya menjadi orang yg bekerja di bidang desain dan ilustrasi di negeri sendiri. Ga jauh beda kayak orang yg jualan jasa bikin website, serba nurut dan kurang berkembang kreativitasnya karena tuntutan si pemberi cuan. Dia banting setir dari kerjaan yg bisa bikin dia lebih cepat kaya, kalopun itu yg dia cari, ke pekerjaan yg memang dia minati, awalnya. Dia buang kesempatan buat jadi seseorang yg lebih jadi, demi sesuatu yg dia pegang. Ayas malah menikmati kegigihan doi yg merelakan hal-hal yg ga dia sukain tadi meski lebih menguntungkan demi sebuah prinsip. Tapi dia keliatan agak menyesal emang, ayas tau dia pasti merasa kurang dihargai, wajar.

Belajar dengan tidak sengaja dari seorang kawan lama seperti inilah yg ingin ayas coba lakukan kembali. Kali-kali ada kawan lama ayas yg bisa diajak ngobrol lebih asik dan lebih blak-blakan kayak doi. Syukur-syukur bisa diajak sharing dan diskusi. Emang sih, kebanyakan udah pada sibuk, bukan antara ayas dengan mereka aja, tapi antara mereka dengan orang yg paling dekat dengan mereka sendiripun juga sudah saling tersekat kesibukan. Tapi, apakah proses pertemanan juga akan menjadi perih dan parah selayaknya bekerja untuk orang? Ayas rasa tidak, semua tergantung siap atau ngganya kita meluangkan waktu, memberikan ruang untuk menjamu sosok-sosok lama yg pernah bersliweran di sela-sela narasi kehidupan.

Sebuah Bingkisan

Februari ini, rasanya mirip seperti Januari. Tapi, beruntungnya ayas mendapat sebuah bingkisan klasik nan menarik, yg dibalut dengan sentuh-sentuh lembut tangan itu. Terlepas dari kegajean orang Indonesia yg ribut tiap hari Valentine mulai dari anti lah, grebek lah, melebih-lebihkan lah, ayas memantapkan diri pada posisi penikmat dan pelaku, dari dulu. Ayas ga punya masalah dengan sebuah tradisi yg diinangkan banyak orang di banyak negara yg outputnya sebatas menunjukkan kasih sayang, tidak lebih. Ayas ga ada masalah dengan budaya ini, doi ga memaksa otak ayas untuk tunduk dan melakukan sesuatu yg absurd, doi cuman sebatas Festival tak tertulis.

14 Februari biasanya ditandai dengan orang nampang story whatsapp atau IG soal apa sih kado yg mereka dapet, atau minimal apasih yg mereka nikmati di hari tersebut. Kebetulan ayas kemaren ga ada niatan ngapa-ngapain. Cuman kayak biasa aja, ngedate dan udah, minimal ngasih gift kecil-kecilan toh udah sama tau sama tua juga. Tanggal 13 Februari, hari berangsur dari pagi ke maghrib dengan selayaknya. Tanpa ada sesuatu yg lebih istimewa, toh ayas menganggap hari itu biasa aja juga, ga harus wah. Tapi, ada sebuah benih-benih baru yg keliatan tumbuh di secercah senyum kecil itu. Tentu aja, dibalik mata sipitnya, ada rahasia. Tapi ayas sih biasa aja, lanjut ngopi, dan mencoba ngulik lagu-lagunya Frank Sinatra.

Sengaja ayas bawa gitar ke sebuah tempat di tepian tebing, dingin, berkabut. Jam menunjukkan taringnya tepat pukul 11:25 malam, ini tanggal 13 Februari 2021. Ayas duduk di motor sendiri liat kerlap-kerlip kota, nunggu pulangnya kerja seorang nona dari seberang pulau sana. Pesan WA menganga meminta dilirik sukur-sukur dibalas. Doi bilang udah dikontrakan. Wah, terus ngapain nangkring diatas sini gitu kan dari tadi. Kalang kabut dengan ngebut cabut ke kontrakan si nona ini biar ga gabut. Usut punya usut, gelap. Kontrakannya cuman keisi 2 orang, cewek semua, di area yg ga banyak penduduknya pula. Ketika sebuah rumah gelap, kemungkinan besar pada pergi, atau ada sebuah kejutan dibalik tirai nomer 3.

Ayas emang punya kunci kontrakan doi, jadi ya daripada dingin-dingin diluar mending masuk ke dalam. Hening, gelap dan lembab… ngga ngga, ngga segitunya, canda. Ini bukan cerita horor, anti. Tanpa nyalain lampu ruang depan dan garasi ayas nyelonong masuk aja, mulailah pendar-pendar remang gemerlapan nun jauh disana keliatan satu per satu. Nona Manado ini ngeplot twist di awalan hari 14 Februari. Mungkin, baru pertama kali dikasih bingkisan kayak gini, hmm sebut aja bingkisan lah ya, biasanya ayas yg kasih coklat atau sebongkah manis-manisan, kali ini tidak.

Teruntuk apapun yg terjadi di pagi yg seindah itu, terimakasih. Thanks for making me Flying To The Moon.

Mendobrak Monoton

Esok udah Februari aja, sebulan berasa sangat cepat, tanpa satu hal yg menahan sebentar untuk menikmati hari-hari. Pagi ke malam ke pagi lagi. Ayas merasakan segelintir kisah klasik rutinitas yg sejatinya ampas. Ya, ayas emang bukan orang yg bisa nyaman melakukan hal yg sama diulang-ulang. Ayas bisa konsisten untuk beberapa saat melakukan hal yg sama, beberapa hari mungkin, tapi setelahnya jenuh dan enggan buat bilang “Fine”. Monoton membunuh pikiran, mengaburkan kenikmatan dari setiap perbuatan dan pencapaian. Ayas butuh sesuatu yg sangat baru.

Januari ini, lumayanlah ada yg bisa dihasilkan dari banyak segi. Kalo soal kerjaan, kelar. Kalo soal seni, ada yg jadi karya beberapa. Tapi soal hal lain yg selalu bikin “kosong” rongga-rongga dada, belum terpenuhi. Ayas menemukan diri sendiri pada sebuah monoton yg kelewat rutin. Pola yg sama diteruskan berhari-hari, berminggu-minggu. Ayas bosan, sangat! Bosan bukan berarti tidak punya sesuatu untuk dikerjakan, ngga ngga, ayas punya banyak yg perlu dikerjakan, tapi karena sama atau mirip dan itu-itu lagi, bosan!

Demi meneruskan kesehatan pikiran di masa dimana ga bisa asik dan santai kemana-mana, ayas mencoba membuka achievement baru. Alakadarnya aja, yg penting ada sesuatu yg baru. Mulai dari hal konyol sampai hal paling rumit ayas lakukan. Hasilnya? Masih kosong. Biasanya ayas bisa sambil tipis-tipis belajar tech stack baru dikala bosan, tapi sekarang feelnya kayak menggandakan kerjaan kalo habis full ngoding pas kelar ngoding lagi. Ayas butuh sesuatu yg beda yg ga ada sangkut pautnya dengan dunia app / web development.

Usut punya usut, ada yg namanya studio nganggur, ya karena memang pandemi ga ada yg make, sepi. Ayas berkenalan dengan beberapa orang yg punya studio tadi, di pinggiran Magelang. Ga jauhlah dari rumah meski rumah di tengah kota, dan yg penting aman, tempatnya sepi area sepi penghuninya minim. Karena lama ga megang drum, ayas ada keinginan buat sekali lagi nyoba main sambil berajar. O tentu aja, Rockabluesy dan Freeman Syndicate ga ada di daerah ini. Makanya ayas cari temen baru. Kebetulan malah yg punya studionya yg iba… Ngga ngga, maksudnya mereka gabut juga makanya jamming lah dengan frekuensi seadanya. Untungnya mereka banyak tau musik-musik lama, ya kayak Rolling Stones, Deep Purple dan Social D mereka tau, so se frekuensilah sudah seenggknya buat jamming. Di momen inilah ayas mulai ngelirik sesosok emak-emak pantura. Bukan buat apa-apa, tolong kondisikan asumsinya, tapi doi jago nampar drumnya, mungkin karena sering nampar suami dan anaknya hiyahiya. Ngga ngga, canda.

Emak-emak pantura ini jadi cikal bakal Dosis Ngedubrak Mingguan, sebuah proses main dan mendalami drumming setiap minggu, minimal 2 jam. Toh nyewa studio juga murah, ilmunya ga dimintain mahal, cuma disuruh nraktir makan siang kalo kesana, so why not? Weekend disempatkanlah ya kalo ga lagi pergi keluar, buat sekadar haha hihi juga ga masalah, ini hal baru, masih tetep cuci tangan dan pakai masker. Abis dari studio mandi. Ayas mencoba biar lebih mahir aja sih, karena dari dulu emang doyan kalo ngedrum tuh kayaknya lebih menggebu. Cuman dulu skillnya ya… ya sebatas tau aja lah ya. Makanya sekarang mendalami lebih dalam, buat apa? Semua demi sebuah proses dan progres di bidang seni, khususnya musik. Sebuah alur kehidupan yg ayas pegang dengan teramat sangat.

Hidup untuk Hidup

Banyak dari kawan-kawan seperhelatan seperguruan sepertongkrongrongan diskusi dan adu argumentasi soal hidup itu buat apa sih. Kenapa sih harus hidup, kenapa pula kita merasa tertuntut untuk ini itu, jadi seperti A minimal, punya seperti B minimal dan sebagainya. Ga jarang dari kami beda pendapat semua. Kalo diliat lebih luas, semua itu soal selera. Kita bisa jadi apa saja dan mau kapanpun juga, selama kita bisa mewujudkannya. Ibarat kata, kalo kita mau tapi cuma masih malu-malu tanpa aksi, ya gabakal keturutan. Nah, hal itu ada ambil bagian gede buat tujuan hidup. Misal, ingin jadi seniman, ingin jadi entrepreneur, ingin jadi artis, ingin jadi anggota DPR, ingin jadi presiden dan ingin ingin yg lain.

Andai kata kita punya kemauan, kita punya aksi dan waktu untuk mengeksekusi hal itu, probabilitas kita bisa mendapatkan apa yg kita tuju akan jauh lebih besar ketimbang leha-leha foya-foya. Beda otak, beda kemauan, kan wajar. Mereka yg merasa tertuntut biasanya menyamakan selera sesuai apa yg mereka rasa baik. Misal, ortu pengen mereka jadi PNS, yaudah, kalo mereka menghormati ortu dengan cara mengusahakan apa yg ortu mereka mau, ya mereka punya tujuan buat jadi PNS. Sampe sini garis bawahi, ayas bukan orang yg berpegang dari keinginan orang lain, dalam artian, mau orang lain bilang apa minta apa, kalo ayas ga merasa tertarik melakukannya, ayas akan tetap independent, konteksnya hidup ya bukan tugas (kerjaan, tanggung jawab dkk). Tapi ada juga mereka yg memang ga sengaja, ga punya kemauan, akhirnya terinspirasi entah dari ngobrol sama orang atau nonton sesuatu yg bikin mereka pengen jadi XYZ. Sah-sah aja, ga ada yg salah daripada mencoba.

Ayas bisa mengakui, ayas lebih memilih hidup untuk hidup, entah itu buat diri sendiri ataupun juga untuk orang lain. Dalam artian gini, beberapa orang hidup untuk submissive kepada sebuah hal yg mereka anggap sakral, mereka sampai rela mati untuk hal itu. Yang patut dilihat adalah, ketika mereka mati, so far, ga ada jaminan mereka akan mendapatkan hal yg lebih baik daripada ketika mereka hidup. Kita tidak bisa membuktikan bahwa kita akan hidup setelah proses kematian, setidaknya sampe tahun 2020 ini. Yang ada hanyalah sebuah narasi-narasi atas dasar “Yakin” tanpa bukti konkrit, tapi tetep aja banyak yg tunduk tanpa mencoba buat sedikit aja lebih rasional.

Ayas bukan orang mau mengorbankan hidup demi sesuatu yg konyol dan bener-bener ga masuk akal. Tapi semisal, ada hal konyol yg kebetulan memang realita dan faktanya ada, ayas fine-fine aja menjadi si konyol tadi. Tapi kalo hal-hal konyol ini bener-bener diluar kontrol, bener-bener absurd dan ga logis, bener-bener keliatan bangkainya tapi dibodoamatkan khalayak ramai, ayas sangat tidak sudi. Ramai bukan sembarangan ketika banyak orang yg percaya, bahkan kebodohan yg paling mikroskopis pun akan sangat menjadi bahaya.

Mari kita coba merenung sejenak, meluangkan waktu untuk merenungkan segala hal yg kita anggap benar. Mencoba memahami hal-hal yg nampaknya sedari kecil kita yakini tanpa berani mempertanyakan. Mari kita mulai memproses segala sesuatunya dengan mengembangkan pola pikir kita. Biar apa? Biar kita punya tujuan yg jelas, biar kita tak jadi korban dari sebuah adat usang, adat yang sangat-sangat tidak relevan di masa sekarang ini. Semua demi kemajuan diri sendiri, sosial, dan tentunya kemajuan ilmu pengetahuan. Karena belajar untuk nyaman menjadi orang yg “Tidak Tahu” jauh lebih baik ketimbang memaksakan diri mereka sebagai orang yang “Pasti” tahu akan segala sesuatunya, yg pasti “Benar”.

Pada Segala Juang Sanak Familia

Pasang surut hidup nampaknya bukan sebuah hal yg jarang ditemui di setiap percakapan kita sama orang lain. Terutama mereka yg sadar akan keadaannya, kondisinya, dan tau kalo dia lagi ga baik-baik aja. Bukan berarti dengan “nerimo” alias pasrah terus hidup jadi ga berasa naik turun, tetep berasa. Yang jadi masalah cuma kita mau menjadikan hal tersebut “big deal” atau sebatas “ah yaudahlah ya”. Semua ini persoal perjuangan dari masing-masing individunya. Ga semua orang bisa seyaudahlah kayak gitu. Wajar dan sah-sah aja ketika ada orang yg merasa dia lagi naik tau-tau ga lama cuma dalam hitungan hari atau bahkan jam langsung terjun jatuh bebas tenggelam ke dasar lautan. Post ini dikhususkan kepada segala sanak familia non kandung, orang-orang yg ditemui seenggaknya dalam 15 tahun terakhir.

Ada kala dimana kita, berbuat bodoh, bukan karena kita ga pinter, tapi karena kita males berusaha dengan cara yg lain, atau kita ga punya cukup support dari lingkungan disekitar, atau bahkan kita cuma salah pemikiran dan main terobos aja. Ada kala dimana kita merasa apa yg kita pijaki sekarang ini sebatas “lucky chance”, yg bahkan kalo disuruh jelasin kitanya juga ga paham kenapa bisa survive sampai di titik ini. Tapi, ada korelasi antara ketidakpahaman dengan kenyataan bahwa kita tetap hidup-hidup aja meski gatau kenapa. Semua ada di sebuah momentum yg disebut “Proses”. Beberapa dari kita sama sekali ga sadar bahwa setiap waktu, meski kadang bolong-bolong, kita berproses. Kita berproses bersama dengan pengalaman, paksaan, pemikiran, ekspektasi, tuntutan, tanggung jawab dan lain hal dimana semua bermuara di sebuah titik, “progres”.

Jangan salah, proses dan progres bukanlah hal yg sama. Proses adalah apa yg terjadi, progres adalah durasi atau kuantitas yg bisa kita ukur. Kita berproses untuk mencapai garis finish, tapi sampe titik mana kita saat ini, itu masuk lingkupnya progres. Kalau dalam POV relativitas, proses adalah apa yg kita lakukan pada kondisi di titik tertentu, tapi progres adalah output dari apa yg kita lakukan tadi. Kita berproses dengan belajar pemrograman misalnya, progresnya bisa jadi kita paham apa itu OOP, Database, API, algoritma dan struktur data, atau apapun itu yg menunjukkan bahwa kita “berpindah” dari satu titik ke titik yg baru. Perlu dicatat, perpindahan itu tidak ada korelasinya dengan pasti maju / positif, progres mundur itu juga hal yg wajar, apalagi saat kita menempatkannya kedalam sebuah konteks yg terkomparasi dengan hal-hal lain yg juga harus diproses bersamaan / paralel.

Sanak familia yg ayas maksud disini, adalah semua orang yg sempat datang, masih ada, ataupun sudah berjarak, yg pernah berproses bersama baik secara langsung ataupun tidak langsung, sengaja ataupun tidak sengaja tetapi saling sadar bahwa kami berada pada botol yg sama. Dimanapun kalian berada, terjal dan mulusnya hidup ataupun manis kecut pahitnya realita apapun yg kalian alami, mari berproses lebih tegas lagi, lebih tertata, agar kita bisa mencapai progres yg memuaskan, yg menapak maju, bukan mundur. Hidup adalah untuk hidup, nikmatilah hidup ini dengan perjuangan dan hasil panen daripada benih tadi.