Jauhisasi

Persuasif dalam lihainya memainkan suasana
Kita terbawa pada jarak
Pada bentang luas selat
Pada terbang dan apungnya medium

Dari barat laut kabar tersiar
Gempar menampar
Hingar Berbingar
Dan semua menjauh tersebar

Kita bicarakan pada malam yang hampir pagi
Menjerumuskan biasa jadi kecam mencekam
Menafsirkan tangguh dan patuh saling silang
Diakhiri tunduk agar tak batuk

Aku tetap berpangkal di lingkup sini
Dan kau,
Canduku yang bukan berasal dari tembakau,
Berlabuh kencang ke tanah seberang
Ke kota labuhan bersama mama
Menjalin nostalgia ibu dan anak

Nanti, sekiranya sehat berangsur kembali
Regulasi wajibnya tak seketat ini
Sementara tertunda dalam jumpa
Jauhisasi kita nikmati terpaksa

February, 2020

Gelombang Kawula Tua

Tentang sebuah memori yg tersendat di masa lalu, kadang kita ga sadar terbawa untuk bernostalgia. Biasanya ini terjadi kalo ada momentum yg pas, yg men-trigger sebuah rasa lama, gila ga tuh. Kebetulan juga, akhir-akhir ini, ayas sedang merasakan Gelombang Kawula Tua.

Gelombang ini sebenernya simple, hanya bak kita ke-trigger suasana tempo dulu entah itu masa kecil, remaja atau pas lagi kampret-kampretnya. Kenapa disebut kawula tua? Ya karena ayas udah ga muda lah itungannya tapi ga sebegitu tua juga kan, productive stage lah kasarannya. Gelombang ini ga cuman dikasih taburan dari apa yg kita rasakan sekarang, tapi visualisasi dari keadaan kita kala itu. Ambil contoh nih, lagunya Rancid, Time Bomb dan Ruby Soho, ketika lagu itu keputer di youtube, seketika ayas terbawa ke masa kelas 2 dan 3 SD, masa-masa awal kenal musik punk dengan segala tetek bengek kaset pita plus tape recorder kala itu. Ya, ayas kenal musik di era masih Kaset Tape dan Kaset CD, mungkin ada piranti lain waktu itu, tapi karena punyanya cuman Tape dan VCD ya intinya berputar dikisaran itulah.

Dulu, kala kampung halaman ini masih banyak tempat rimbun nan segar, kali masih cukup berisik dan agak jernih, rumah belom makan tempat saling himpit sok kenal, ayas menikmati masa kecil (SD) dengan musik-musik Punk, Rock, Blues, Ska, Pop 2000, Heavy Metal, Rockabilly dan tentusaja Country begitupun dengan subgenre lain yg ga jauh-jauh dari itu lah ya. Jaman itu masih banyak kanal radio, bahkan dulu saking minimnya piranti elektronik, hiburannya ya Radio, Tape, VCD, kadang TV, udah. Jaman itu HP belom begitu marak, ya gimana HP 500 rebu pulsanya 1 juta, bukan ranah kami lah waktu itu. Tahun-tahun itu mungkin sekitar 2002 – 2004 lah ya, bermunculan musik-musik asik yg kalo ga energetic ya bener-bener nampar feeling. Ibaratnya, untuk yg mainstream, Dewa, Peterpan, Tipe-X, Slank, Edane, Jamrud dkk itu muncul mulu di radio, atau diputer di tukang-tukang jualan kaset era itu. Sementara untuk skena indie kebanyakan pada hijrah ke MTV atau kaset-kaset bajakan radio alias hasil record via tape recorder kayak Endank Soekamti, Shaggy Dog, Superman Is Dead, The Upstairs, Netral, Goodnight Electric, Club Eighties dan jajarannya. Asik mafren!

Berlanjut di kelas 3 SD yg pertama kali belajar gitar kopong, make gitar akustik custom pabrikan gada merek seharga 125 ribu kala itu. Momen ini ayas gunakan untuk ngulik lagu-lagu dari abang-abangan lah ya belajarnya, bukan secara langsung tapi via dengerin. Contoh band-bandnya lebih banyak ke Punk dan Rock sih, kayak Ramones, Rancid, SID, Netral, Endank Soekamti, AC/DC, GnR, Dewa, Scorpion, White Lion, Superglad dan Led Zeppelin. Kebetulan juga era itu abang-abangan yg satu RT itu hampir semua ngeband, mereka kadang juga ikut festival yg sempat satu panggung juga pas SMP lawan mereka yg udah kuliah sekitaran.

Dari hasil ngulik lagu tadi, memori tahun-tahun era 2010 kebawah adalah momen kejayaan dalam menikmati lagu-lagu ciamik sih kalo ayas boleh bilang. Disana ga ada band-band yg terkenal karena tampang doang, apalagi karena sensasi, semua dikenal karena karya dan proses panjang jungkir balik di belantika musik planet Bumi. Bisa jadi karena ngulik lagu yg lebih ke Punk, Rock dan Metal dulu, ditambah Ayah ayas suka muter lagu-lagu GnR, Scorpion, Bon Jovi, Heart, Nike Ardila, Rinto Harahap, Iwan Fals, Chrisye, Deddy Dores, Bill & Brod (lagunya: Madu dan Racun, Singkong dan Keju, dll), semua akumulasi itu membekas sampe sekarang. Ya kebanyakan lagu-lagu itu 90 2000an tapi ada juga yg dibawah 90 alias 80an.

Sedikit banyak ayas belajar dari renungan dan tatapan kosong ke atap kamar, ayas terjebak di Gelombang Kawula Tua, meski tetep mengakui dan menikmati hidup di era modernisasi. Ini cuman sebatas selera seni terutama musik, tulis, dan rupa. Semua juga ada unsur ayah ayas yg di tempat kerjanya dulu juga buka club malam gitu beralih fungsi tergantung jam. Isinya ya lagu-lagu joged kala itu cuman mungkin karena isinya kebanyakan musik instrument / pattern dan minim lirik makanya kurang inget. Hal itu juga yg membawa ayas ngulik lagu-lagu lawas termasuk nimbrung di tiap acara wawancara, musik performance, atau apapun itu yg berhubungan dengan era-era lawas tadi, ketemulah Ngobryls nya Jimi Malau yg kebetulan bahas musik dengan kadang bawa kita ke masa era kejayaan itu pula, thank you mafren.

Nanti, entah kapan, kalo jadi, ayas bakalan ikut berpartisipasi bikin gelombang ini merajai lagi di sini, biar musiknya ga absurd gajelas kayak sekarang. Lame!