Dinamika Transisi

Beberapa waktu lalu ayas menikmati bulan purnama dari ruang diantara sekat-sekat jendela lantai 2. Biasa, sembari menimati kopi dengan sebat dimuka. Melihat gelap dari ruang yg ga kalah gelap adalah nikmat sih bagi ayas. Bulan kala itu, seakan melambai didepan mata, ibarat nyuruh tidur, nyuruh rehat. Secara alam bawah sadar, raga memang terus-terusan bilang capek. Diforsir sana sini itu ga ada enak-enaknya mafren!

Biasanya orang-orang diforsir karena ingin jadi lebih bagus. Ayas sedang tidak dalam fase memperbagus diri. Ini semua ibarat ngangkut beban berat karena harus, bukan karena pengen punya otot bagus. Makin dilalui, makin berasa. Makin dinikmati, makin ga ada enaknya. Makin dipaksa, makin enggan buat mencoba sejenak duduk tenang menikmati semua yg dipandang. Rasanya, ada hal-hal yg emang ga bisa untuk digunakan ataupun dipaksakan terus-menerus. Meskipun itu bukan berarti hal tersebut ga bisa digunakan ataupun dipaksa lho ya.

Dengan menikmati setiap tarikan nafas bercampur nikotin, ayas mencoba mencari esensi. Ayas ingin menggali lebih dalam apasih yg membuat raga masih bertengger tegar disini. Apakah karena kebutuhan, atau hanya sebuah bentuk kemalasan? Apakah ayas cuma takut untuk membuat sebuah pergerakan diantara pagar-pagar pengaman yg ayas sendiri sudah lama dirikan? Semua lagaknya harus kembali pada suatu ideologi paling murni. Bisa jadi ini sebatas dampak daripada pandemi, atau bisa juga karena merasakan sendiri dalam ramai.

Ga bakal bohong, segala sesuatunya berasa seperti terlalu banyak cabang, keributan bergelombang. Ayas merasakan sebuah dinamika transisi, dari yg terbiasa menjadi yg mencoba ditidak-biasakan. Pikiran ini hampir mendominasi rutinitas sehari-hari. Kayak candu yg datang tanpa ampun. Lalu dengan bertenggernya bulan disana, di sebuah titik ruang diantara gelap dan cakrawala, ayas pelan-pelan membuka mata.

Hidup nampaknya akan tetap seperti diorama, dimana panggungnya ada, entitasnya ada, tapi mau dibawa kemana?

Pemberhentian Terakhir

Narasi pada tiap tulisan-tulisan kuno yg membahas tentang hidup kedua, atau hidup setelah mati, sangatlah bervariasi. Pada suatu masa, di musim kata-kata mengalahkan logika, ada sabda. Kadang kita terbawa pada cerita klise. Otak jadi terbiasa menerima dan mengamini segala sesuatu yg mayoritas katakan, atau sepakati. Hal ini ga jauh dari sebuah padanan kata, bahwa privileged people tends to have more trusted words, either it’s fact or fiction. Nyatanya semua akan tiba di pemberhentian terakhir.

Ayas mencoba menggambarkan sebuah masa dimana orang-orang mulai merenung. Mereka kian hari kian berkonflik dengan hati mereka sendiri-sendiri. Ibaratnya hewan yg terbiasa makan daun, sekarang jadi karnivora. Berubah drastis dan berbeda destinasi! Naluri akan kembali kepada titik awal, titik dimana bertahan hidup jauh lebih baik ketimbang berpikir rasional. Semua akan terfokus soal hidup, bukan soal mati. Momentum itulah yg membawa segala bentuk makhluk hidup benar-benar menikmati hidup. Semua kembali pada pola yg diberikan tanda alam semesta.

Pemberhentian terakhir adalah sebuah untaian singkat dari sebegitu panjangnya proses kehidupan. Ujung-ujungnya, kita akan berada pada puncak titik, atau akhir garis. Diluar dari frame yg pernah dilalui ataupun kita ketahui, tak ada yg tahu. Semua ibarat hal-hal yg bisa jadi tak kasat mata, bahkan tak mempan dalam logika. Tapi, semua masih tercakup pada probabilitas, pada kemungkinan-kemungkinan yg belum tentu jadi kebenaran. Kenikmatan dari meragu karena ketidakpastian itulah yg membuat kita merasakan hidup ga sebegitu monoton.

Dengan semangat bergelora masih bermodal nada-nada sederhana, ayas membuat sebuah karya kecil. Musik dengan balutan lirik ini menceritakan tentang Kita, makhluk hidup, manusia, kembali memahami pola singkat dalam hidup. Mencoba bertahan agar tetap bisa menikmati hal-hal yg jauh lebih pasti ketimbang apapun itu yg berada setelah mati. Sekian jumpa dan pergi, beberapa tafsir makna dan mimpi, akan meragu. Mereka berkomplot menjadi solid, menunggu kelabu. Menantikan hari-hari yg penuh dengan kelam tanpa cerahnya langit biru. Goresan sederhana itu ayas rangkum dalam lagu Pemberhentian Terakhir.

Dan naluri kian kembali
Bersatu dengan delusi
Dan mimpimu kian meragu
Menanti hari kelabu
Mengharapkan kehidupan setelah kematian...

Penggalan diatas adalah bait-bait awal, pembuka, pengiring kepada sabda buatan sendiri. Dengan maksud membawa pendengar menikmati ragunya, ayas mencoba memberi ruang agar hal ini ga jadi sebatas pengalaman ayas aja. Untuk lagunya ya nanti, masih ada cukup banyak waktu untuk moles sebuah karya jadi lebih bagus. Presisi adalah kunci, sampai bertemu di Pemberhentian Terakhir.