Durasi Bukan Batas Seni

Ayas kerap kali menulis bahwa seni ga boleh dibatasi. Seni adalah hal yg memang selayaknya dibiarkan merdeka, bahkan tanpa ada aturan-aturan apapun didalamnya. Hal ini termasuk jangan masukkan hukum politik ke ranah seni sekalipun seni bisa digunakan untuk hukum dan politik. Yang jadi tolak ukur sekarang, bagi para seniman yg baru muncul, adalah durasi. Kenapa kok jadi durasi? Karena akhir-akhir ini, terutama pandemi, seni makin hari makin diminati via media sosial.

Barangkali kita tahu kalo Youtube, IG story, IG TV, twitter, facebook dll bisa digunakan untuk media penyebaran karya. Mau itu tertulis, audio, visual, audio visual, gambar dan lainnya. Bahkan ga jarang ditemui seniman-seniman ini membuka gerbang via virtual secara full. Terlepas mereka menamakan diri sebagai creator atau bukan, karya tetaplah karya dari penciptanya.

Platform digital membawa angin segar ibaratnya ke industri hiburan dan seniman. Patut digaris bawahi, seni bukan berarti hiburan. Di IG story, dengan max 15 detik per story atau 1 menit per post slide, seniman tadi acap mengakali dengan meringkas konten. Ga jarang ada orang yg mendedikasikan karya mereka bisa muat untuk 60 detik saja, bahkan ada yg 15 detik. Mau itu cover lagu, lagu original, short video, monolog, dll yg berhubungan dengan durasi. Showcase mereka punya durasi, tapi karya mereka tidak sedang dibatasi.

Durasi hanyalah sebuah kesepakatan bahwa sebuah karya bisa punya kesempatan untuk ditampilkan “cerita / pesannya” pada suatu waktu. Terlepas penonton bisa menonton ulang terus-terusan, kontennya tetap akan berada didalam koridor durasi tadi. Ibarat kita nonton film 2 jam, mau kita ulang berapa kalipun, konten filmnya akan tetap sama, terangkum di 2 jam tersebut. Yang jadi pembeda ya tentu di social media lebih pendek, 15 detik, 60 detik, 3 menit, dll.

Durasi lagaknya sebagai sebuah tantangan sekaligus peluang, toh pameran tidak selalu dibuka 24 jam, 7 hari seminggu. Cara seniman mengemas konten yg ia punya dalam sebuah karya cipta merupakan sebuah jalur tersendiri. Jalur yg dikhususkan untuk mereka yg menikmati kompresi meskipun ga salah juga ketika seniman tadi mau untuk tetap full durasi terpotong-potong. Semua persoal selera, semua persoal esensi dan estetika.

Ceritakan Harimu

Pada raga yang lekas menua
Tubuh elegan nona bersuara
Seakan aku menanti bersua
Dalam tak bisa yang tak biasa

Ibarat menggores kanvas putih
Lapisan itu sudah pasti tak polos lagi
Dengan berkembangnya angka
Bertambah pula corak rupa sarat makna

Bukankah,
Kita sudah cukup puas berdiri sendiri?

Bukankah,
Kita sudah cukup kenyang saling berdiam?

Meski tak terpungkiri,
Kafeinmu dan Kafeinku beda bumbu
Jalan pikirmu dan pikirku saling berkubu
Narasiku dan narasimu sempat pula bertemu

Lalu,
Rumah mana lagi yang masih kau cari-cari?

Sekalipun akan tetap ada hujan setelah munculnya pelangi
Sudikah ceritakan harimu kepada payung yang terbuang ini?

Nanti,
Akan kuganti,
Setelah kau mau,
Persoal waktumu yang terbuang karena aku...

- 10 Agustus, 2020 -

Blues, Punk dan Rock

Mengawali bulan kemerdekaan Indonesia, Agustus, ayas mencoba mereka ulang trigger-trigger yg membawa ayas dalam menikmati seni. Beberapa post sebelum ini, sempat ayas gelontorkan beberapa band / musisi yg kebetulan didengerin / diikuti jaman kecil, remaja hingga sekarang. List itu didominasi oleh seni musik yg auranya berkutat diseputaran Blues, Punk dan Rock beserta turunannya. Inti dari semua penggambaran ayas terhadap apa yg ayas dengar dan ayas mainkan ya dari 3 style itu.

Blues, sebuah genre musik yg berasal dari nada-nada sederhana tapi saling terhubung, ciri khasnya adalah jembatan nada layaknya chromatic interval padahal bukan. Genre ini seringkali dibilang mbahnya genre / subgenre musik lain. Rock berakar dari Blues dengan balutan keras di musiknya. Jazz berakar dari Blues tapi dengan improvisasi yg lebih tertata. Punk berakar dari Blues tapi dengan irama yg lebih cepat dan singkat dengan konten lirik yg juga hampir mirip, kegelisahan, keresahan, ideologi dari mereka yg ada dipinggir. Metal pun juga Blues dengan improvisasi cadas yg lebih brutal dengan gaya yg lebih bawah tanah. Kalau ditarik garis ga lurus, musik banyak berakar dari Blues, tapi bukan berarti musik-musik tadi sama dengan Blues ya.

Punk, genre yg sering disebut pinggiran karena didominasi rebel dan street life. Ya kalo dilihat dari budaya memang dari sana induknya, tapi sebelum itupun juga punk sudah dibentuk oleh band yg bisa dengan gampang diterima telinga masyarakat umumnya. Punk menjadi salah satu genre yg digandrungi anak-anak 90an remaja ataupun 2000an awal. Jaman itu, skatepunk, melodicpunk, poppunk, punk rock dll bisa ditemukan di gadget lawas / tape dan radio yg memang didominasi remaja. Ambil contoh Ramones, Rancid, Blink 182, Avril, Green Day, dll yg juga dikonsumsi oleh para remaja dimana abang-abangan mereka mungkin juga menikmati selain Metal, Rock ataupun Trash kala itu. Punk soal menjadi bebas, soal menjadi entitas yg punya ideologi, dan idelogi itu disebarluaskan.

Rock, genre yg keras dengan nada-nada yg cukup kuat dan ga jarang didominasi minor. Genre satu ini adalah salah satu musik keras yg masih bisa diterima telinga masyarakat, alias tidak sebegitu underground. Meskipun pesan-pesan didalam lagu-lagu rock juga banyak yg benar-benar memberikan kenyataan pahit, ideologi, ataupun hal-hal yg cukup underground lah ya. Keberadaan Rock menjadi sebuah wadah pengembangan warna seni musik. Dari sinilah banyak muncul musik-musik yg berbeda warna, berbeda bentuk tapi masih dari benih yg sama. Belum termasuk dengan segala fusion genre yg ada dalam musik.

Akan tetapi, ayas adalah orang yg lebih menikmati musik secara musik itu sendiri. Ayas kurang minat mengkotak-kotakkan genre. Semua genre bisa dibilang adalah referensi dan patokan bagi musisinya. Nantinya, dalam proses eksekusi, musisinyalah yg punya andil apakah mengikuti genre itu atau mengeksplorasi dengan semerdekanya. Dari sini, ga aneh kalo banyak orang yg beda pandangan soal sebuah lagu masuk genre mana, meskipun lagu lain bisa dikenali dengan cepat ikut mana. Intinya, lagu tersebut adalah karya musik, sebuah seni, terlepas dari style musik itu sendiri seperti apa. Ayas ketika suka, ga peduli deh genrenya apaan, karya yg bagus pasti ayas apresiasi. Catatan, “Bagus” adalah hal yg relatif, tergantung individunya masing-masing.

Dari Blues yg dibawa B.B. King, Deep Purple, Jimi Hendrix, Led Zeppelin, The Rollies, Deddy Stanzah, Godbless, dll, berangsur ke Punk yg dikenalkan oleh radio dan MTV kalo ga salah saat itu kayak Ramones, Rancid, NOFX, SID, Netral, Social Distortion, Avril, Blink 182, dll, dilanjut dengan Rocknya The Rolling Stones, The Beatles, AC/DC, Pink Floyd, GnR, Queen, Dewa, Nike Ardila, Jamrud, dll. Semuanya mungkin menjadi penerang jalan anak-anak remaja yg menikmati 90an dan awal 2000an secara general, mungkin. Bagi ayas pribadi, mereka menjadi bara api yg siap setiap saat menjadi kobar bakaran obor.

Beruntungnya ayas adalah tidak mengikuti jaman, untuk urusan seni, ayas mencoba mengakar pada hal-hal yg ayas sukai. Dengan kata lain, halam hal seni, ayas tidak mencoba untuk “suka karena terpaksa” dengan membiasakan diri menikmati seni-seni yg emang ga ayas sukai. Beberapa kejadian ada temen-temen ayas yg biar keliatan keren ngikut-ngikutin alur dan arus, biar trendy. Bagus buat mereka, tapi bagi ayas pribadi, selera adalah hak setiap individu. Dan ayas memilih untuk menjadi orang yg berselera seperti itu. Toh dipenghujung episode, seni akan tetap menjadi seni, sebuah karya yg kita sebegai orang kedua ataupun ketiga, menikmati. Biarkan senimannya, orang pertama, yg berkarya semerdekanya mereka. Suka bilang suka, ga suka ya sudah ga suka aja. Blues, Punk dan Rock akan menjadi selera ayas agar ayas tetap sadar untuk kembali ke asal.