Bermain dengan Waktu

Kuhisapi segala inti daripada sarinya
Kuseduh pelan-pelan melalui selongsong sempit sedotan
Biar makin terasa...
Biar makin lama...
Biar semua yang membuatnya terbang tak berakhir dengan dadakan

Sepenggal narasi ku coretkan pada kertas usang
Pada sekumpulan kuno yang bercerita persoal juang
Darah didih mengalir...
Merah membara digilir...
Seakan problematika membawa pangkalnya menuju prahara

Dengan secarik kisah yang tertanam di benak resah
Terurainya dia menjadi muda yang terlambat bisa
Dicekal,
Dicekoki,
Dipaksa untuk menjadi yang bukan dijadikannya jadi

Pada geram eksplisit diraut mukanya sore itu,
Waktu bukanlah hal yang patut dipermainkan

Terima Kasih, Seperempat

Terhitung dini hari pada tanggal ini, ketika memulai bergantinya hari, ayas teriakkan lantang-lantang soal sekilas perjalanan. Persoal detak jantung dan hembus nafas. Persoal masa-masa yg sempat dan mungkin akan kembali terjadi. Dengan menyebut syukur kepada alam dengan segala ruang dan rupanya nan luas, dengan segala eskalasi tata surya dan runtutan debu-debu angkasa, terimakasih untuk Seperempat Abad ini.

Genap 25 tahun di sebuah tahun yg paling amburadul karena pandemi dan social distancing, ayas merasakan ini bukan waktunya untuk submissive layaknya menua di tahun-tahun sebelumnya. Begitu banyak problematika yg sudah sempat terselesaikan, begitupun yg cuma dilarikan, menghiasi segala sisi tapak perjalanan. Karenanya, ayas sudah tidak sudi untuk pura-pura baik-baik saja. Ini adalah fase metamorfosa, fase paling mencekam dalam pelukan dosa dan logika.

Kepada semesta yang menjadikan ayas ada, mari bersulang!

Dengarkan Podcast di Spotify