Terima Kasih, Seperempat

Terhitung dini hari pada tanggal ini, ketika memulai bergantinya hari, ayas teriakkan lantang-lantang soal sekilas perjalanan. Persoal detak jantung dan hembus nafas. Persoal masa-masa yg sempat dan mungkin akan kembali terjadi. Dengan menyebut syukur kepada alam dengan segala ruang dan rupanya nan luas, dengan segala eskalasi tata surya dan runtutan debu-debu angkasa, terimakasih untuk Seperempat Abad ini.

Genap 25 tahun di sebuah tahun yg paling amburadul karena pandemi dan social distancing, ayas merasakan ini bukan waktunya untuk submissive layaknya menua di tahun-tahun sebelumnya. Begitu banyak problematika yg sudah sempat terselesaikan, begitupun yg cuma dilarikan, menghiasi segala sisi tapak perjalanan. Karenanya, ayas sudah tidak sudi untuk pura-pura baik-baik saja. Ini adalah fase metamorfosa, fase paling mencekam dalam pelukan dosa dan logika.

Kepada semesta yang menjadikan ayas ada, mari bersulang!

Durasi Bukan Batas Seni

Ayas kerap kali menulis bahwa seni ga boleh dibatasi. Seni adalah hal yg memang selayaknya dibiarkan merdeka, bahkan tanpa ada aturan-aturan apapun didalamnya. Hal ini termasuk jangan masukkan hukum politik ke ranah seni sekalipun seni bisa digunakan untuk hukum dan politik. Yang jadi tolak ukur sekarang, bagi para seniman yg baru muncul, adalah durasi. Kenapa kok jadi durasi? Karena akhir-akhir ini, terutama pandemi, seni makin hari makin diminati via media sosial.

Barangkali kita tahu kalo Youtube, IG story, IG TV, twitter, facebook dll bisa digunakan untuk media penyebaran karya. Mau itu tertulis, audio, visual, audio visual, gambar dan lainnya. Bahkan ga jarang ditemui seniman-seniman ini membuka gerbang via virtual secara full. Terlepas mereka menamakan diri sebagai creator atau bukan, karya tetaplah karya dari penciptanya.

Platform digital membawa angin segar ibaratnya ke industri hiburan dan seniman. Patut digaris bawahi, seni bukan berarti hiburan. Di IG story, dengan max 15 detik per story atau 1 menit per post slide, seniman tadi acap mengakali dengan meringkas konten. Ga jarang ada orang yg mendedikasikan karya mereka bisa muat untuk 60 detik saja, bahkan ada yg 15 detik. Mau itu cover lagu, lagu original, short video, monolog, dll yg berhubungan dengan durasi. Showcase mereka punya durasi, tapi karya mereka tidak sedang dibatasi.

Durasi hanyalah sebuah kesepakatan bahwa sebuah karya bisa punya kesempatan untuk ditampilkan “cerita / pesannya” pada suatu waktu. Terlepas penonton bisa menonton ulang terus-terusan, kontennya tetap akan berada didalam koridor durasi tadi. Ibarat kita nonton film 2 jam, mau kita ulang berapa kalipun, konten filmnya akan tetap sama, terangkum di 2 jam tersebut. Yang jadi pembeda ya tentu di social media lebih pendek, 15 detik, 60 detik, 3 menit, dll.

Durasi lagaknya sebagai sebuah tantangan sekaligus peluang, toh pameran tidak selalu dibuka 24 jam, 7 hari seminggu. Cara seniman mengemas konten yg ia punya dalam sebuah karya cipta merupakan sebuah jalur tersendiri. Jalur yg dikhususkan untuk mereka yg menikmati kompresi meskipun ga salah juga ketika seniman tadi mau untuk tetap full durasi terpotong-potong. Semua persoal selera, semua persoal esensi dan estetika.

Ceritakan Harimu

Pada raga yang lekas menua
Tubuh elegan nona bersuara
Seakan aku menanti bersua
Dalam tak bisa yang tak biasa

Ibarat menggores kanvas putih
Lapisan itu sudah pasti tak polos lagi
Dengan berkembangnya angka
Bertambah pula corak rupa sarat makna

Bukankah,
Kita sudah cukup puas berdiri sendiri?

Bukankah,
Kita sudah cukup kenyang saling berdiam?

Meski tak terpungkiri,
Kafeinmu dan Kafeinku beda bumbu
Jalan pikirmu dan pikirku saling berkubu
Narasiku dan narasimu sempat pula bertemu

Lalu,
Rumah mana lagi yang masih kau cari-cari?

Sekalipun akan tetap ada hujan setelah munculnya pelangi
Sudikah ceritakan harimu kepada payung yang terbuang ini?

Nanti,
Akan kuganti,
Setelah kau mau,
Persoal waktumu yang terbuang karena aku...

- 10 Agustus, 2020 -

Blues, Punk dan Rock

Mengawali bulan kemerdekaan Indonesia, Agustus, ayas mencoba mereka ulang trigger-trigger yg membawa ayas dalam menikmati seni. Beberapa post sebelum ini, sempat ayas gelontorkan beberapa band / musisi yg kebetulan didengerin / diikuti jaman kecil, remaja hingga sekarang. List itu didominasi oleh seni musik yg auranya berkutat diseputaran Blues, Punk dan Rock beserta turunannya. Inti dari semua penggambaran ayas terhadap apa yg ayas dengar dan ayas mainkan ya dari 3 style itu.

Blues, sebuah genre musik yg berasal dari nada-nada sederhana tapi saling terhubung, ciri khasnya adalah jembatan nada layaknya chromatic interval padahal bukan. Genre ini seringkali dibilang mbahnya genre / subgenre musik lain. Rock berakar dari Blues dengan balutan keras di musiknya. Jazz berakar dari Blues tapi dengan improvisasi yg lebih tertata. Punk berakar dari Blues tapi dengan irama yg lebih cepat dan singkat dengan konten lirik yg juga hampir mirip, kegelisahan, keresahan, ideologi dari mereka yg ada dipinggir. Metal pun juga Blues dengan improvisasi cadas yg lebih brutal dengan gaya yg lebih bawah tanah. Kalau ditarik garis ga lurus, musik banyak berakar dari Blues, tapi bukan berarti musik-musik tadi sama dengan Blues ya.

Punk, genre yg sering disebut pinggiran karena didominasi rebel dan street life. Ya kalo dilihat dari budaya memang dari sana induknya, tapi sebelum itupun juga punk sudah dibentuk oleh band yg bisa dengan gampang diterima telinga masyarakat umumnya. Punk menjadi salah satu genre yg digandrungi anak-anak 90an remaja ataupun 2000an awal. Jaman itu, skatepunk, melodicpunk, poppunk, punk rock dll bisa ditemukan di gadget lawas / tape dan radio yg memang didominasi remaja. Ambil contoh Ramones, Rancid, Blink 182, Avril, Green Day, dll yg juga dikonsumsi oleh para remaja dimana abang-abangan mereka mungkin juga menikmati selain Metal, Rock ataupun Trash kala itu. Punk soal menjadi bebas, soal menjadi entitas yg punya ideologi, dan idelogi itu disebarluaskan.

Rock, genre yg keras dengan nada-nada yg cukup kuat dan ga jarang didominasi minor. Genre satu ini adalah salah satu musik keras yg masih bisa diterima telinga masyarakat, alias tidak sebegitu underground. Meskipun pesan-pesan didalam lagu-lagu rock juga banyak yg benar-benar memberikan kenyataan pahit, ideologi, ataupun hal-hal yg cukup underground lah ya. Keberadaan Rock menjadi sebuah wadah pengembangan warna seni musik. Dari sinilah banyak muncul musik-musik yg berbeda warna, berbeda bentuk tapi masih dari benih yg sama. Belum termasuk dengan segala fusion genre yg ada dalam musik.

Akan tetapi, ayas adalah orang yg lebih menikmati musik secara musik itu sendiri. Ayas kurang minat mengkotak-kotakkan genre. Semua genre bisa dibilang adalah referensi dan patokan bagi musisinya. Nantinya, dalam proses eksekusi, musisinyalah yg punya andil apakah mengikuti genre itu atau mengeksplorasi dengan semerdekanya. Dari sini, ga aneh kalo banyak orang yg beda pandangan soal sebuah lagu masuk genre mana, meskipun lagu lain bisa dikenali dengan cepat ikut mana. Intinya, lagu tersebut adalah karya musik, sebuah seni, terlepas dari style musik itu sendiri seperti apa. Ayas ketika suka, ga peduli deh genrenya apaan, karya yg bagus pasti ayas apresiasi. Catatan, “Bagus” adalah hal yg relatif, tergantung individunya masing-masing.

Dari Blues yg dibawa B.B. King, Deep Purple, Jimi Hendrix, Led Zeppelin, The Rollies, Deddy Stanzah, Godbless, dll, berangsur ke Punk yg dikenalkan oleh radio dan MTV kalo ga salah saat itu kayak Ramones, Rancid, NOFX, SID, Netral, Social Distortion, Avril, Blink 182, dll, dilanjut dengan Rocknya The Rolling Stones, The Beatles, AC/DC, Pink Floyd, GnR, Queen, Dewa, Nike Ardila, Jamrud, dll. Semuanya mungkin menjadi penerang jalan anak-anak remaja yg menikmati 90an dan awal 2000an secara general, mungkin. Bagi ayas pribadi, mereka menjadi bara api yg siap setiap saat menjadi kobar bakaran obor.

Beruntungnya ayas adalah tidak mengikuti jaman, untuk urusan seni, ayas mencoba mengakar pada hal-hal yg ayas sukai. Dengan kata lain, halam hal seni, ayas tidak mencoba untuk “suka karena terpaksa” dengan membiasakan diri menikmati seni-seni yg emang ga ayas sukai. Beberapa kejadian ada temen-temen ayas yg biar keliatan keren ngikut-ngikutin alur dan arus, biar trendy. Bagus buat mereka, tapi bagi ayas pribadi, selera adalah hak setiap individu. Dan ayas memilih untuk menjadi orang yg berselera seperti itu. Toh dipenghujung episode, seni akan tetap menjadi seni, sebuah karya yg kita sebegai orang kedua ataupun ketiga, menikmati. Biarkan senimannya, orang pertama, yg berkarya semerdekanya mereka. Suka bilang suka, ga suka ya sudah ga suka aja. Blues, Punk dan Rock akan menjadi selera ayas agar ayas tetap sadar untuk kembali ke asal.

Dinamika Transisi

Beberapa waktu lalu ayas menikmati bulan purnama dari ruang diantara sekat-sekat jendela lantai 2. Biasa, sembari menimati kopi dengan sebat dimuka. Melihat gelap dari ruang yg ga kalah gelap adalah nikmat sih bagi ayas. Bulan kala itu, seakan melambai didepan mata, ibarat nyuruh tidur, nyuruh rehat. Secara alam bawah sadar, raga memang terus-terusan bilang capek. Diforsir sana sini itu ga ada enak-enaknya mafren!

Biasanya orang-orang diforsir karena ingin jadi lebih bagus. Ayas sedang tidak dalam fase memperbagus diri. Ini semua ibarat ngangkut beban berat karena harus, bukan karena pengen punya otot bagus. Makin dilalui, makin berasa. Makin dinikmati, makin ga ada enaknya. Makin dipaksa, makin enggan buat mencoba sejenak duduk tenang menikmati semua yg dipandang. Rasanya, ada hal-hal yg emang ga bisa untuk digunakan ataupun dipaksakan terus-menerus. Meskipun itu bukan berarti hal tersebut ga bisa digunakan ataupun dipaksa lho ya.

Dengan menikmati setiap tarikan nafas bercampur nikotin, ayas mencoba mencari esensi. Ayas ingin menggali lebih dalam apasih yg membuat raga masih bertengger tegar disini. Apakah karena kebutuhan, atau hanya sebuah bentuk kemalasan? Apakah ayas cuma takut untuk membuat sebuah pergerakan diantara pagar-pagar pengaman yg ayas sendiri sudah lama dirikan? Semua lagaknya harus kembali pada suatu ideologi paling murni. Bisa jadi ini sebatas dampak daripada pandemi, atau bisa juga karena merasakan sendiri dalam ramai.

Ga bakal bohong, segala sesuatunya berasa seperti terlalu banyak cabang, keributan bergelombang. Ayas merasakan sebuah dinamika transisi, dari yg terbiasa menjadi yg mencoba ditidak-biasakan. Pikiran ini hampir mendominasi rutinitas sehari-hari. Kayak candu yg datang tanpa ampun. Lalu dengan bertenggernya bulan disana, di sebuah titik ruang diantara gelap dan cakrawala, ayas pelan-pelan membuka mata.

Hidup nampaknya akan tetap seperti diorama, dimana panggungnya ada, entitasnya ada, tapi mau dibawa kemana?

Pemberhentian Terakhir

Narasi pada tiap tulisan-tulisan kuno yg membahas tentang hidup kedua, atau hidup setelah mati, sangatlah bervariasi. Pada suatu masa, di musim kata-kata mengalahkan logika, ada sabda. Kadang kita terbawa pada cerita klise. Otak jadi terbiasa menerima dan mengamini segala sesuatu yg mayoritas katakan, atau sepakati. Hal ini ga jauh dari sebuah padanan kata, bahwa privileged people tends to have more trusted words, either it’s fact or fiction. Nyatanya semua akan tiba di pemberhentian terakhir.

Ayas mencoba menggambarkan sebuah masa dimana orang-orang mulai merenung. Mereka kian hari kian berkonflik dengan hati mereka sendiri-sendiri. Ibaratnya hewan yg terbiasa makan daun, sekarang jadi karnivora. Berubah drastis dan berbeda destinasi! Naluri akan kembali kepada titik awal, titik dimana bertahan hidup jauh lebih baik ketimbang berpikir rasional. Semua akan terfokus soal hidup, bukan soal mati. Momentum itulah yg membawa segala bentuk makhluk hidup benar-benar menikmati hidup. Semua kembali pada pola yg diberikan tanda alam semesta.

Pemberhentian terakhir adalah sebuah untaian singkat dari sebegitu panjangnya proses kehidupan. Ujung-ujungnya, kita akan berada pada puncak titik, atau akhir garis. Diluar dari frame yg pernah dilalui ataupun kita ketahui, tak ada yg tahu. Semua ibarat hal-hal yg bisa jadi tak kasat mata, bahkan tak mempan dalam logika. Tapi, semua masih tercakup pada probabilitas, pada kemungkinan-kemungkinan yg belum tentu jadi kebenaran. Kenikmatan dari meragu karena ketidakpastian itulah yg membuat kita merasakan hidup ga sebegitu monoton.

Dengan semangat bergelora masih bermodal nada-nada sederhana, ayas membuat sebuah karya kecil. Musik dengan balutan lirik ini menceritakan tentang Kita, makhluk hidup, manusia, kembali memahami pola singkat dalam hidup. Mencoba bertahan agar tetap bisa menikmati hal-hal yg jauh lebih pasti ketimbang apapun itu yg berada setelah mati. Sekian jumpa dan pergi, beberapa tafsir makna dan mimpi, akan meragu. Mereka berkomplot menjadi solid, menunggu kelabu. Menantikan hari-hari yg penuh dengan kelam tanpa cerahnya langit biru. Goresan sederhana itu ayas rangkum dalam lagu Pemberhentian Terakhir.

Dan naluri kian kembali
Bersatu dengan delusi
Dan mimpimu kian meragu
Menanti hari kelabu
Mengharapkan kehidupan setelah kematian...

Penggalan diatas adalah bait-bait awal, pembuka, pengiring kepada sabda buatan sendiri. Dengan maksud membawa pendengar menikmati ragunya, ayas mencoba memberi ruang agar hal ini ga jadi sebatas pengalaman ayas aja. Untuk lagunya ya nanti, masih ada cukup banyak waktu untuk moles sebuah karya jadi lebih bagus. Presisi adalah kunci, sampai bertemu di Pemberhentian Terakhir.

Seni Seorang Pecandu

Bulan Juni 2020, bisa dibilang dari awal bulan sampe hampir kelar Juni, ayas selalu muter lagunya Anda Perdana – Cukup Dalam Hati. Jangan terkecoh, judulnya boleh dibilang kayak lagu cinta, lagu dayu. Coba deh dengerin, bakalan berputar 180 derajat menjadi sebuah lagu keras dengan lirik yg extra pedas. Ini lagu yg ditulis Anda berawal dari kegelisahan doi dengan kehidupannya, kehidupan teman-temannya yg sama-sama pemakai dan peminum. Siapa itu Anda Perdana? Kalo tau lagunya AADC 1 yg Tentang Seorang apalagi yg versi Dian Sastro nyanyi, itu lagu si Anda ini. Tau band Matajiwa? Vokal gitarnya ya bang Anda ini. Pernah denger lagu Menghitung Hari (2) tapi yg nyanyi cowok suara Rock? Ya si Anda ini juga. Tahu Bonita vokalisnya Bonita and The Hus Band? Anda adalah kakak kandung Bonita, anaknya om Koes Hendratmo “Berpacu Dalam Melodi”.

Anda menempatkan dirinya sebagai objek dan subjek di lagu ini. Melucuti kesadarannya sendiri dengan berterus terang, membuka lebar-lebar tirai kusam yg jarang terjamah oleh pendar cahaya. Anda menyampaikan curhatan singkatnya yg ditulis dalam-dalam disebuah lagu berjudul Cukup Dalam Hati, yg mana doi masukin ke album In Medio (2009). Dengan gayanya yg asik dan keliatan always tipsy, Anda berhasil menciptakan sebuah seni yg menampar keras, ga cuma dirinya sendiri, tapi juga orang-orang diluar sana yg frekuensi hidupnya hampir sama dengan Anda. Bahkan, boleh dibilang orang yg jauh dari lingkaran itu, bisa terbawa dengan sebuah narasi penuh fragmen dan perumpamaan.

Bermodal intisari pengalaman kelam idupnya sendiri, Anda Perdana berhasil menciptakan atmosfir dilagu ini terutama ketika Live. Nanti gout kasih link youtube doi feat Bonita di 10 tahun album In Medio, dan rasakan sendiri betapa ngerinya ini lagu. Sebelum lebih jauh, doi ini memang cukup dikenal dengan musik yg bisa dirasa ada imbuhan experimental. Ada Rocknya, ada Popnya, ada Blues dan Jass kadang ada folksnya. Semua diblender jadi satu dah di album In Medio dan album doi di Matajiwa.

Mungkinkah kau akui bahwa dirimu itu seorang anak manja yang mengaku
Dirinya pemberontak
Taukah bahwa dirimu itu hanya seorang pecandu
Dan tak layak 'tuk sepotong cinta yang suci

Sepenggal verse lagu Cukup Dalam Hati karya Anda Perdana diatas, bisa jadi renungan, terutama anak-anak tongkrongan atau orang-orang yg terbiasa menikmati hiburan khas dunia, termasuk Ayas. Bahwa dibalik setiap kenikmatan yg dibagi oleh afeksi komunal, ada hal-hal yg mencabik-cabik fitur pengakuan daripada sebuah mental. Ini adalah salah satu lagu terfavorit dan terbaik menurut ayas, bisa didenger juga chordnya blended in dengan rasa khas Anda. Thank you, man!

Anda Perdana (feat Bonita) – Cukup Dalam Hati

Kemarau

Tiada ranting yang rimbun
Daun pun berguguran
Mata air pun kering
Tiada titik embun turun
Saat itu, kemarau yang datang
Hati gersang dan berdebu
Curah hujan tiada turun
Membasahi jiwa ini

Sekilas verse dari lagu yg canggih keluaran akhir tahun 1970 – 1980 an. Hasil dari Lomba Cipta Lagu Remaja kala itu oleh radio Prambors. Ini lagu, bisa dibilang cukup catchy dan nendang buat ditelinga orang yg terbiasa dengerin lagu-lagu 80 dan 90 an. Dikemas dengan aransemen ciamik dan cukup ceria meski nuansanya kayak orang lagi galau. Seakan-akan mereka lagi cemas ini lagi kemarau, suasananya serba nanggung, mereka butuh sesuatu yg fresh, yg segerin jiwa mereka, yg bisa bikin mereka terhibur dan lebih mudah dalam menikmati hari-hari.

Pertama denger lagu itu, ayas tau dari kanal youtube Ngobryls Jimi x Malau. Ini lagu masih digunakan sebagai opening video video mereka. Link nya bisa diliat ntar, ayas embed juga. Betapa menariknya lagu ini sampe bikin geleng-geleng, anak remaja jaman dulu lagunya sah semua buat dibilang keren. Lagu itu cukup hits juga baik dijamannya ataupun di jaman sekarang tapi lebih ke mereka-mereka yg doyan ngulik lagu Indonesia lawas. Liriknya itu kalo kita baca, ataupun dengerin dari lagunya, kita merasa lagi dicurhatin orang soal kegelisahan mereka yg pengen banget lekas berganti si kemarau ini.

Progresi chord di lagunya pun juga ciamik, alurnya rapi dan ada twistnya jadi enak banget buat didengerin ulang-ulang ga langsung bosen. Cuman emang agak susah nyari yg live ini entah itu cover atau tribute, kebanyakan di youtube lebih ke yg orang-orang latihan.

Prambors – Kemarau (https://www.youtube.com/watch?v=lIeEyJPd5U4)

Reff di lagu ini diisi suara cewek juga, dan lirik reffnya punya inti buat nunjukin ke pendengar kalo mereka butuh lekas mendung dan hujan karena agak tersiksa mungkin sama kemarau, tapi mereka tetep sadar dan sabar, segala sesuatu pasti berlalu pada waktunya. Untuk lagu ciptaan remaja pada tahun itu, keren gila! Ada rasa yg beda gitu tiap dengerin lagu ini. Kita bisa terbawa kesana meskipun masih agak nanggung.

Buat kalian yg doyan ngulik lagu lawas Indonesia, ini adalah salah satu lagu super duper keren dan ajaib ciptaan putra / putri bangsa. Terimakasih buat siapapun yg jadi penulis lagu dan penulis liriknya.

Lembayung Di Rona Pasi

Sekiranya semalam seorang kawan dekat beda kelamin meluapkan carut marutnya. Doi nangis lirih karena nahan di sebuah coffee cafe kecil pinggiran kota diantara sekitar belasan orang pelanggan disana. Ayas mencoba kalem dengan membaca pesan urgensi di chat whatsapp. Kebetulan doi ngechatnya juga biasa aja, kayak orang lagi gabut butuh temen. Ternyata, doi sedang ada masalah mayan gede, bukan family matter, tapi soal problematika bersosial.

Dengan santainya ayas motoran dari pangkal bawah ke cafe itu yg posisinya di atas dan jalannya naik terus. Ya, paling cuma bawa 50km/j lah sambil nahan dingin karena ga jaketan. Siul-siul di sepanjang jalan sambil bikin pattern musik alakadarnya biar ga sepi. Karena berasa gabut akhirnya sedikit ngebut.

Berharap disambut dengan biasa, ayas malah disambut dengan tatapan sinis pas baru aja nyampe sana. Posisi doi tepat sejajar dengan parkiran cafe jadi keliatan. Mukanya agak ga beres nih, pikir ayas dalam hati doang. Matanya kayak udah becek gitu nahan ngantuk kali. Belom juga salaman doi udah geret ke pojokan cafe yg lebih sepi dan lebih gelap. Format duduknya doi jadi ngehadap tembok pembatas ruangan dan ayas yg dapet posisi observer area sekitar. Ga nyampe 5 detik, tipikal cewek, mata merem, bibir manyun, air mata netes, muka memerah, ingusan. Fix ini anak lagi ga beres.

Ayas disini ga mau bahas doi punya masalah apa, biar kami berdua doang aja yg tahu. Tapi, pokok permasalahannya ada di hal-hal sepele, yg terakumulasi jadi rumit. Perumpamaannya gini, kalo kita punya masalah sama A, B dan C, mereka bertiga saling ga kenal. Tapi karena lingkungan main kita ya disitu-situ aja alhasil rumor nyebar dan 3 orang itu saling bikin versi sendiri, bahaya namanya. Ga semua orang bisa menghandle kiasan-kiasan persuasif orang lain. Apalagi yg persuasifnya untuk ngasih kesan negatif. Ga lama selang doi sesenggukan yg kadang beberapa mas-mas diseberang sana liatin dikira ayas yg bikin nangis, doi munculin muka kosongnya. Belom lama nangis di cafe, doi udah kayak orang linglung.

Yang ayas maksud dengan Rona Pasi adalah muka doi, tipikal cewek putih berisi dengan kulit kayak babi… Ya emang kulitnya putih pucat gitu bagian pink-pinknya di urat agak keliatan. Pas nangis, jadi lembayung di sekitar mukanya. Sebuah semburat warna ciamik nan sadis sih. Tapi, momen itu pula yg bikin ayas belajar hal baru. Kita, masing-masing individu, harus bisa tahu gimana caranya bertahan hidup tanpa campur tangan orang lain. Bahwa kita bisa tetep bangkit meski tangan ga ada yg ngangkatin. Momen itu, ayas mencoba memposisikan diri sebagai pendengar yg sangat ketat. Dalam kata lain, ayas ga mau kasih masukan atau opini kalo bener-bener ga ditanya secara langsung. Ini penting banget, karena mereka yg sedang sedih dililit problematika jauh lebih butuh didengarkan ketimbang dibantu. Mereka tidak selemah itu!

Sekitar 2 jam lebih dikit ngobrol sambil dengerin doi curhat, ayas sempatkan untuk saling bertukar pengalaman idup. Sebatas bertukar, bukan judging ataupun debat. Sampe suatu saat kopi udah abis, ciki snack juga udah tinggal debu bumbunya, ayas ngajak doi balik. Taunya ini anak ga mau balik dulu, karena ga mau diliat sama mamanya atau papanya kalo lagi ada masalah dan abis nangis. Alhasil, daripada sebatas berdiam diri di tempat yg sama, ayas ajak doi keliling kota, sama-sama tanpa jaket. Biar emosi tadi yg ngebakar fisik dan psikis doi, bisa cooling down kena angin malem. Kampretnya emang bensin jadi abis soalnya motornya motor temen dan boros banget. Mau ga mau, doi harus dianterin balik, SPBU di sekitar sana ga ada yg 24 jam hiyahiya.

Momentum nganterin dia balik ke rumahnya itu juga cukup berkesan, jalan 30 Km/j biar ga terlalu dingin jam 3 pagi pas nyampe bapaknya nunggu di lincak bambu depan rumah pake sarung. Ayas udah mikir bakalan kena gampar nih, secara ga sedeket itu kalo sama ortunya. Untungnya, papa si doi yg nangis di cafe ini, cuma bilang “Udah jalannya? Dicariin mama kamu”. Dan semua saat itu rasanya berlangsung cepat, doi masuk, bokapnya cuman senyum, ayas langsung cabut. Di jalan balik, kepikiran juga tuh sama cerita doi yg emang cukup rumit tadi. Tapi