Dinamika Transisi

Beberapa waktu lalu ayas menikmati bulan purnama dari ruang diantara sekat-sekat jendela lantai 2. Biasa, sembari menimati kopi dengan sebat dimuka. Melihat gelap dari ruang yg ga kalah gelap adalah nikmat sih bagi ayas. Bulan kala itu, seakan melambai didepan mata, ibarat nyuruh tidur, nyuruh rehat. Secara alam bawah sadar, raga memang terus-terusan bilang capek. Diforsir sana sini itu ga ada enak-enaknya mafren!

Biasanya orang-orang diforsir karena ingin jadi lebih bagus. Ayas sedang tidak dalam fase memperbagus diri. Ini semua ibarat ngangkut beban berat karena harus, bukan karena pengen punya otot bagus. Makin dilalui, makin berasa. Makin dinikmati, makin ga ada enaknya. Makin dipaksa, makin enggan buat mencoba sejenak duduk tenang menikmati semua yg dipandang. Rasanya, ada hal-hal yg emang ga bisa untuk digunakan ataupun dipaksakan terus-menerus. Meskipun itu bukan berarti hal tersebut ga bisa digunakan ataupun dipaksa lho ya.

Dengan menikmati setiap tarikan nafas bercampur nikotin, ayas mencoba mencari esensi. Ayas ingin menggali lebih dalam apasih yg membuat raga masih bertengger tegar disini. Apakah karena kebutuhan, atau hanya sebuah bentuk kemalasan? Apakah ayas cuma takut untuk membuat sebuah pergerakan diantara pagar-pagar pengaman yg ayas sendiri sudah lama dirikan? Semua lagaknya harus kembali pada suatu ideologi paling murni. Bisa jadi ini sebatas dampak daripada pandemi, atau bisa juga karena merasakan sendiri dalam ramai.

Ga bakal bohong, segala sesuatunya berasa seperti terlalu banyak cabang, keributan bergelombang. Ayas merasakan sebuah dinamika transisi, dari yg terbiasa menjadi yg mencoba ditidak-biasakan. Pikiran ini hampir mendominasi rutinitas sehari-hari. Kayak candu yg datang tanpa ampun. Lalu dengan bertenggernya bulan disana, di sebuah titik ruang diantara gelap dan cakrawala, ayas pelan-pelan membuka mata.

Hidup nampaknya akan tetap seperti diorama, dimana panggungnya ada, entitasnya ada, tapi mau dibawa kemana?

Pemberhentian Terakhir

Narasi pada tiap tulisan-tulisan kuno yg membahas tentang hidup kedua, atau hidup setelah mati, sangatlah bervariasi. Pada suatu masa, di musim kata-kata mengalahkan logika, ada sabda. Kadang kita terbawa pada cerita klise. Otak jadi terbiasa menerima dan mengamini segala sesuatu yg mayoritas katakan, atau sepakati. Hal ini ga jauh dari sebuah padanan kata, bahwa privileged people tends to have more trusted words, either it’s fact or fiction. Nyatanya semua akan tiba di pemberhentian terakhir.

Ayas mencoba menggambarkan sebuah masa dimana orang-orang mulai merenung. Mereka kian hari kian berkonflik dengan hati mereka sendiri-sendiri. Ibaratnya hewan yg terbiasa makan daun, sekarang jadi karnivora. Berubah drastis dan berbeda destinasi! Naluri akan kembali kepada titik awal, titik dimana bertahan hidup jauh lebih baik ketimbang berpikir rasional. Semua akan terfokus soal hidup, bukan soal mati. Momentum itulah yg membawa segala bentuk makhluk hidup benar-benar menikmati hidup. Semua kembali pada pola yg diberikan tanda alam semesta.

Pemberhentian terakhir adalah sebuah untaian singkat dari sebegitu panjangnya proses kehidupan. Ujung-ujungnya, kita akan berada pada puncak titik, atau akhir garis. Diluar dari frame yg pernah dilalui ataupun kita ketahui, tak ada yg tahu. Semua ibarat hal-hal yg bisa jadi tak kasat mata, bahkan tak mempan dalam logika. Tapi, semua masih tercakup pada probabilitas, pada kemungkinan-kemungkinan yg belum tentu jadi kebenaran. Kenikmatan dari meragu karena ketidakpastian itulah yg membuat kita merasakan hidup ga sebegitu monoton.

Dengan semangat bergelora masih bermodal nada-nada sederhana, ayas membuat sebuah karya kecil. Musik dengan balutan lirik ini menceritakan tentang Kita, makhluk hidup, manusia, kembali memahami pola singkat dalam hidup. Mencoba bertahan agar tetap bisa menikmati hal-hal yg jauh lebih pasti ketimbang apapun itu yg berada setelah mati. Sekian jumpa dan pergi, beberapa tafsir makna dan mimpi, akan meragu. Mereka berkomplot menjadi solid, menunggu kelabu. Menantikan hari-hari yg penuh dengan kelam tanpa cerahnya langit biru. Goresan sederhana itu ayas rangkum dalam lagu Pemberhentian Terakhir.

Dan naluri kian kembali
Bersatu dengan delusi
Dan mimpimu kian meragu
Menanti hari kelabu
Mengharapkan kehidupan setelah kematian...

Penggalan diatas adalah bait-bait awal, pembuka, pengiring kepada sabda buatan sendiri. Dengan maksud membawa pendengar menikmati ragunya, ayas mencoba memberi ruang agar hal ini ga jadi sebatas pengalaman ayas aja. Untuk lagunya ya nanti, masih ada cukup banyak waktu untuk moles sebuah karya jadi lebih bagus. Presisi adalah kunci, sampai bertemu di Pemberhentian Terakhir.

Seni Seorang Pecandu

Bulan Juni 2020, bisa dibilang dari awal bulan sampe hampir kelar Juni, ayas selalu muter lagunya Anda Perdana – Cukup Dalam Hati. Jangan terkecoh, judulnya boleh dibilang kayak lagu cinta, lagu dayu. Coba deh dengerin, bakalan berputar 180 derajat menjadi sebuah lagu keras dengan lirik yg extra pedas. Ini lagu yg ditulis Anda berawal dari kegelisahan doi dengan kehidupannya, kehidupan teman-temannya yg sama-sama pemakai dan peminum. Siapa itu Anda Perdana? Kalo tau lagunya AADC 1 yg Tentang Seorang apalagi yg versi Dian Sastro nyanyi, itu lagu si Anda ini. Tau band Matajiwa? Vokal gitarnya ya bang Anda ini. Pernah denger lagu Menghitung Hari (2) tapi yg nyanyi cowok suara Rock? Ya si Anda ini juga. Tahu Bonita vokalisnya Bonita and The Hus Band? Anda adalah kakak kandung Bonita, anaknya om Koes Hendratmo “Berpacu Dalam Melodi”.

Anda menempatkan dirinya sebagai objek dan subjek di lagu ini. Melucuti kesadarannya sendiri dengan berterus terang, membuka lebar-lebar tirai kusam yg jarang terjamah oleh pendar cahaya. Anda menyampaikan curhatan singkatnya yg ditulis dalam-dalam disebuah lagu berjudul Cukup Dalam Hati, yg mana doi masukin ke album In Medio (2009). Dengan gayanya yg asik dan keliatan always tipsy, Anda berhasil menciptakan sebuah seni yg menampar keras, ga cuma dirinya sendiri, tapi juga orang-orang diluar sana yg frekuensi hidupnya hampir sama dengan Anda. Bahkan, boleh dibilang orang yg jauh dari lingkaran itu, bisa terbawa dengan sebuah narasi penuh fragmen dan perumpamaan.

Bermodal intisari pengalaman kelam idupnya sendiri, Anda Perdana berhasil menciptakan atmosfir dilagu ini terutama ketika Live. Nanti gout kasih link youtube doi feat Bonita di 10 tahun album In Medio, dan rasakan sendiri betapa ngerinya ini lagu. Sebelum lebih jauh, doi ini memang cukup dikenal dengan musik yg bisa dirasa ada imbuhan experimental. Ada Rocknya, ada Popnya, ada Blues dan Jass kadang ada folksnya. Semua diblender jadi satu dah di album In Medio dan album doi di Matajiwa.

Mungkinkah kau akui bahwa dirimu itu seorang anak manja yang mengaku
Dirinya pemberontak
Taukah bahwa dirimu itu hanya seorang pecandu
Dan tak layak 'tuk sepotong cinta yang suci

Sepenggal verse lagu Cukup Dalam Hati karya Anda Perdana diatas, bisa jadi renungan, terutama anak-anak tongkrongan atau orang-orang yg terbiasa menikmati hiburan khas dunia, termasuk Ayas. Bahwa dibalik setiap kenikmatan yg dibagi oleh afeksi komunal, ada hal-hal yg mencabik-cabik fitur pengakuan daripada sebuah mental. Ini adalah salah satu lagu terfavorit dan terbaik menurut ayas, bisa didenger juga chordnya blended in dengan rasa khas Anda. Thank you, man!

Anda Perdana (feat Bonita) – Cukup Dalam Hati

Kemarau

Tiada ranting yang rimbun
Daun pun berguguran
Mata air pun kering
Tiada titik embun turun
Saat itu, kemarau yang datang
Hati gersang dan berdebu
Curah hujan tiada turun
Membasahi jiwa ini

Sekilas verse dari lagu yg canggih keluaran akhir tahun 1970 – 1980 an. Hasil dari Lomba Cipta Lagu Remaja kala itu oleh radio Prambors. Ini lagu, bisa dibilang cukup catchy dan nendang buat ditelinga orang yg terbiasa dengerin lagu-lagu 80 dan 90 an. Dikemas dengan aransemen ciamik dan cukup ceria meski nuansanya kayak orang lagi galau. Seakan-akan mereka lagi cemas ini lagi kemarau, suasananya serba nanggung, mereka butuh sesuatu yg fresh, yg segerin jiwa mereka, yg bisa bikin mereka terhibur dan lebih mudah dalam menikmati hari-hari.

Pertama denger lagu itu, ayas tau dari kanal youtube Ngobryls Jimi x Malau. Ini lagu masih digunakan sebagai opening video video mereka. Link nya bisa diliat ntar, ayas embed juga. Betapa menariknya lagu ini sampe bikin geleng-geleng, anak remaja jaman dulu lagunya sah semua buat dibilang keren. Lagu itu cukup hits juga baik dijamannya ataupun di jaman sekarang tapi lebih ke mereka-mereka yg doyan ngulik lagu Indonesia lawas. Liriknya itu kalo kita baca, ataupun dengerin dari lagunya, kita merasa lagi dicurhatin orang soal kegelisahan mereka yg pengen banget lekas berganti si kemarau ini.

Progresi chord di lagunya pun juga ciamik, alurnya rapi dan ada twistnya jadi enak banget buat didengerin ulang-ulang ga langsung bosen. Cuman emang agak susah nyari yg live ini entah itu cover atau tribute, kebanyakan di youtube lebih ke yg orang-orang latihan.

Prambors – Kemarau (https://www.youtube.com/watch?v=lIeEyJPd5U4)

Reff di lagu ini diisi suara cewek juga, dan lirik reffnya punya inti buat nunjukin ke pendengar kalo mereka butuh lekas mendung dan hujan karena agak tersiksa mungkin sama kemarau, tapi mereka tetep sadar dan sabar, segala sesuatu pasti berlalu pada waktunya. Untuk lagu ciptaan remaja pada tahun itu, keren gila! Ada rasa yg beda gitu tiap dengerin lagu ini. Kita bisa terbawa kesana meskipun masih agak nanggung.

Buat kalian yg doyan ngulik lagu lawas Indonesia, ini adalah salah satu lagu super duper keren dan ajaib ciptaan putra / putri bangsa. Terimakasih buat siapapun yg jadi penulis lagu dan penulis liriknya.

Lembayung Di Rona Pasi

Sekiranya semalam seorang kawan dekat beda kelamin meluapkan carut marutnya. Doi nangis lirih karena nahan di sebuah coffee cafe kecil pinggiran kota diantara sekitar belasan orang pelanggan disana. Ayas mencoba kalem dengan membaca pesan urgensi di chat whatsapp. Kebetulan doi ngechatnya juga biasa aja, kayak orang lagi gabut butuh temen. Ternyata, doi sedang ada masalah mayan gede, bukan family matter, tapi soal problematika bersosial.

Dengan santainya ayas motoran dari pangkal bawah ke cafe itu yg posisinya di atas dan jalannya naik terus. Ya, paling cuma bawa 50km/j lah sambil nahan dingin karena ga jaketan. Siul-siul di sepanjang jalan sambil bikin pattern musik alakadarnya biar ga sepi. Karena berasa gabut akhirnya sedikit ngebut.

Berharap disambut dengan biasa, ayas malah disambut dengan tatapan sinis pas baru aja nyampe sana. Posisi doi tepat sejajar dengan parkiran cafe jadi keliatan. Mukanya agak ga beres nih, pikir ayas dalam hati doang. Matanya kayak udah becek gitu nahan ngantuk kali. Belom juga salaman doi udah geret ke pojokan cafe yg lebih sepi dan lebih gelap. Format duduknya doi jadi ngehadap tembok pembatas ruangan dan ayas yg dapet posisi observer area sekitar. Ga nyampe 5 detik, tipikal cewek, mata merem, bibir manyun, air mata netes, muka memerah, ingusan. Fix ini anak lagi ga beres.

Ayas disini ga mau bahas doi punya masalah apa, biar kami berdua doang aja yg tahu. Tapi, pokok permasalahannya ada di hal-hal sepele, yg terakumulasi jadi rumit. Perumpamaannya gini, kalo kita punya masalah sama A, B dan C, mereka bertiga saling ga kenal. Tapi karena lingkungan main kita ya disitu-situ aja alhasil rumor nyebar dan 3 orang itu saling bikin versi sendiri, bahaya namanya. Ga semua orang bisa menghandle kiasan-kiasan persuasif orang lain. Apalagi yg persuasifnya untuk ngasih kesan negatif. Ga lama selang doi sesenggukan yg kadang beberapa mas-mas diseberang sana liatin dikira ayas yg bikin nangis, doi munculin muka kosongnya. Belom lama nangis di cafe, doi udah kayak orang linglung.

Yang ayas maksud dengan Rona Pasi adalah muka doi, tipikal cewek putih berisi dengan kulit kayak babi… Ya emang kulitnya putih pucat gitu bagian pink-pinknya di urat agak keliatan. Pas nangis, jadi lembayung di sekitar mukanya. Sebuah semburat warna ciamik nan sadis sih. Tapi, momen itu pula yg bikin ayas belajar hal baru. Kita, masing-masing individu, harus bisa tahu gimana caranya bertahan hidup tanpa campur tangan orang lain. Bahwa kita bisa tetep bangkit meski tangan ga ada yg ngangkatin. Momen itu, ayas mencoba memposisikan diri sebagai pendengar yg sangat ketat. Dalam kata lain, ayas ga mau kasih masukan atau opini kalo bener-bener ga ditanya secara langsung. Ini penting banget, karena mereka yg sedang sedih dililit problematika jauh lebih butuh didengarkan ketimbang dibantu. Mereka tidak selemah itu!

Sekitar 2 jam lebih dikit ngobrol sambil dengerin doi curhat, ayas sempatkan untuk saling bertukar pengalaman idup. Sebatas bertukar, bukan judging ataupun debat. Sampe suatu saat kopi udah abis, ciki snack juga udah tinggal debu bumbunya, ayas ngajak doi balik. Taunya ini anak ga mau balik dulu, karena ga mau diliat sama mamanya atau papanya kalo lagi ada masalah dan abis nangis. Alhasil, daripada sebatas berdiam diri di tempat yg sama, ayas ajak doi keliling kota, sama-sama tanpa jaket. Biar emosi tadi yg ngebakar fisik dan psikis doi, bisa cooling down kena angin malem. Kampretnya emang bensin jadi abis soalnya motornya motor temen dan boros banget. Mau ga mau, doi harus dianterin balik, SPBU di sekitar sana ga ada yg 24 jam hiyahiya.

Momentum nganterin dia balik ke rumahnya itu juga cukup berkesan, jalan 30 Km/j biar ga terlalu dingin jam 3 pagi pas nyampe bapaknya nunggu di lincak bambu depan rumah pake sarung. Ayas udah mikir bakalan kena gampar nih, secara ga sedeket itu kalo sama ortunya. Untungnya, papa si doi yg nangis di cafe ini, cuma bilang “Udah jalannya? Dicariin mama kamu”. Dan semua saat itu rasanya berlangsung cepat, doi masuk, bokapnya cuman senyum, ayas langsung cabut. Di jalan balik, kepikiran juga tuh sama cerita doi yg emang cukup rumit tadi. Tapi

Kepulan Debu Di Udara

Beranjak dewasa adalah sebuah proses yg bisa dilalui untuk orang-orang yg bisa survive dari masa-masa kecil dan masa remaja. Esensi dari sebuah pendewasaan diri adalah ketika kita bisa berkembang dari segala jenis tekanan-tekanan luar dan dalam. Bahwa gravitasi tak sebatas dari bumi, tapi juga dari masing-masing pribadi. Bahwa kita bisa menjadi lebih dari kemarin, dan lusa bisa lebih dahsyat dari saat ini.

Dulu, tiap perjumpaan dengan orang baru sering menjadi sebuah cerita dengan bonus ilmu kehidupan. Di kala itu, ayas ikut sana sini, saling saut, saling sharing, intinya tukar tambah kiat-kiat survive dalam hidup meskipun tidak dijelaskan secara gamblang. Identitas kita terbentuk, mulai dari sebatas obrolan recehan sambil sebat, sampai diskusi berjam-jam karena ada problematika kehidupan yg individual ataupun komunal.

Sekarang, orang-orang berjumpa hanya sebatas berbagi cerita, tanpa ada intisari yg bisa diserap dengan serat-serat makna kata. Seenggaknya untuk ayas saja. Lalu lalang cuma menceritakan karena ingin cerita, tanpa kehadiran sosok, visual, ataupun bekas disana. Apalagi, era pandemi, semua serba virtual. Mau ketemu aja susah, karena masih sadar, ini bukan waktunya buat kumpul-kumpul. Sementara diluar sana, banyak orang-orang yg ga bisa sabar dan keluar main sana sini, padahal mereka sedang tidak melakukan hal yg cukup penting.

Andaikata ayas terjebak di era seperti ini untuk waktu yg lebih lama, ayas bisa merasakan sekat-sekat dalam tiap perbincangan, dalam setiap aksi yg terjadi, dalam setiap narasi. Kita dipaksa untuk berlaku baik, layaknya seorang kawan yg benar-benar CS sekalipun tidak sedekat itu. Semua dengan embel-embel formalitas. Meski garis senioritas blur, tetep aja ada tembok-tembok strata yg bikin masing-masing dari kita merasakan bahaya. Intinya, semua jadi kurang terasa ikhlas.

Nampaknya dalam kurun waktu yg lama, ga akan ada perubahan besar yg bakalan terjadi. Seenggaknya dari analisa gembel yg diobservasi oleh mata sehari-hari. Yang jauh, makin jauh. Yang dekat, terpaksa jauh. Yang belum kenal, memaksakan diri untuk kenalan. Semua berakhir disebuah perpisahan yg entah sementara atau bertahan untuk jangka waktu yg lama.

Ayas, merindukan kepulan debu di udara yg menghiasi celotehan kehidupan kawan-kawan lama…

Dari Rumah, Berjamaah

Terhitung hari ini, udah beberapa hari terlewati di Magelang, dari rumah, tanpa rutinitas pulang pergi Magelang Jogja setiap harinya. Hasil diskusi para petinggi pemerintah membuat semua orang wajib kerja dari rumah, dan ya sudah. Kadang memang hal-hal kayak gini patut dipaksakan biar semua terjaga dan aman. Semua ini kan juga lebih ke pemanfaatan peraturan. Semua serba Work From From.

Gembar gembor pandemi makin hari kian berdampak ngeri. Ga jarang orang malah bikin sensasi via jalan-jalan keluar, bilang aman kok, sehat kok, muda kok, pe kok. Ga ada hal-hal lain mungkin mereka makanya ya hura-hura sambel kosek gitu. Sebisanya tetap mencari pengamanan, via dirumah jangan keluar.

Sebenernya bagus aja bisa berdiam dirumah dan fokus kerja. Hanya aja, ini bikin ayas merasakan sekat, jadi kurang dekat. Biasanya bisa sambil ngecengin, ngobrol, atau sebatas say hi. Sekarang-sekarang ini ya jelas engga. Semua jadi punya dunianya sendiri. Itu berlaku bagi mereka yg menikmati jarak ya. Bagi yg ga terbiasa, ayas yakin psikis mereka meronta. Merongrong tajam mengaum kencang buat lekas kelar ini pandemi.

Semua berharap berinteraksi secara normal, tanpa menyentuh…

Tapi, apa hal ini bakalan tetep berlangsung terjadi? Mari kita liat beberapa bulan lagi…

Jauhisasi

Persuasif dalam lihainya memainkan suasana
Kita terbawa pada jarak
Pada bentang luas selat
Pada terbang dan apungnya medium

Dari barat laut kabar tersiar
Gempar menampar
Hingar Berbingar
Dan semua menjauh tersebar

Kita bicarakan pada malam yang hampir pagi
Menjerumuskan biasa jadi kecam mencekam
Menafsirkan tangguh dan patuh saling silang
Diakhiri tunduk agar tak batuk

Aku tetap berpangkal di lingkup sini
Dan kau,
Canduku yang bukan berasal dari tembakau,
Berlabuh kencang ke tanah seberang
Ke kota labuhan bersama mama
Menjalin nostalgia ibu dan anak

Nanti, sekiranya sehat berangsur kembali
Regulasi wajibnya tak seketat ini
Sementara tertunda dalam jumpa
Jauhisasi kita nikmati terpaksa

February, 2020

Gelombang Kawula Tua

Tentang sebuah memori yg tersendat di masa lalu, kadang kita ga sadar terbawa untuk bernostalgia. Biasanya ini terjadi kalo ada momentum yg pas, yg men-trigger sebuah rasa lama, gila ga tuh. Kebetulan juga, akhir-akhir ini, ayas sedang merasakan Gelombang Kawula Tua.

Gelombang ini sebenernya simple, hanya bak kita ke-trigger suasana tempo dulu entah itu masa kecil, remaja atau pas lagi kampret-kampretnya. Kenapa disebut kawula tua? Ya karena ayas udah ga muda lah itungannya tapi ga sebegitu tua juga kan, productive stage lah kasarannya. Gelombang ini ga cuman dikasih taburan dari apa yg kita rasakan sekarang, tapi visualisasi dari keadaan kita kala itu. Ambil contoh nih, lagunya Rancid, Time Bomb dan Ruby Soho, ketika lagu itu keputer di youtube, seketika ayas terbawa ke masa kelas 2 dan 3 SD, masa-masa awal kenal musik punk dengan segala tetek bengek kaset pita plus tape recorder kala itu. Ya, ayas kenal musik di era masih Kaset Tape dan Kaset CD, mungkin ada piranti lain waktu itu, tapi karena punyanya cuman Tape dan VCD ya intinya berputar dikisaran itulah.

Dulu, kala kampung halaman ini masih banyak tempat rimbun nan segar, kali masih cukup berisik dan agak jernih, rumah belom makan tempat saling himpit sok kenal, ayas menikmati masa kecil (SD) dengan musik-musik Punk, Rock, Blues, Ska, Pop 2000, Heavy Metal, Rockabilly dan tentusaja Country begitupun dengan subgenre lain yg ga jauh-jauh dari itu lah ya. Jaman itu masih banyak kanal radio, bahkan dulu saking minimnya piranti elektronik, hiburannya ya Radio, Tape, VCD, kadang TV, udah. Jaman itu HP belom begitu marak, ya gimana HP 500 rebu pulsanya 1 juta, bukan ranah kami lah waktu itu. Tahun-tahun itu mungkin sekitar 2002 – 2004 lah ya, bermunculan musik-musik asik yg kalo ga energetic ya bener-bener nampar feeling. Ibaratnya, untuk yg mainstream, Dewa, Peterpan, Tipe-X, Slank, Edane, Jamrud dkk itu muncul mulu di radio, atau diputer di tukang-tukang jualan kaset era itu. Sementara untuk skena indie kebanyakan pada hijrah ke MTV atau kaset-kaset bajakan radio alias hasil record via tape recorder kayak Endank Soekamti, Shaggy Dog, Superman Is Dead, The Upstairs, Netral, Goodnight Electric, Club Eighties dan jajarannya. Asik mafren!

Berlanjut di kelas 3 SD yg pertama kali belajar gitar kopong, make gitar akustik custom pabrikan gada merek seharga 125 ribu kala itu. Momen ini ayas gunakan untuk ngulik lagu-lagu dari abang-abangan lah ya belajarnya, bukan secara langsung tapi via dengerin. Contoh band-bandnya lebih banyak ke Punk dan Rock sih, kayak Ramones, Rancid, SID, Netral, Endank Soekamti, AC/DC, GnR, Dewa, Scorpion, White Lion, Superglad dan Led Zeppelin. Kebetulan juga era itu abang-abangan yg satu RT itu hampir semua ngeband, mereka kadang juga ikut festival yg sempat satu panggung juga pas SMP lawan mereka yg udah kuliah sekitaran.

Dari hasil ngulik lagu tadi, memori tahun-tahun era 2010 kebawah adalah momen kejayaan dalam menikmati lagu-lagu ciamik sih kalo ayas boleh bilang. Disana ga ada band-band yg terkenal karena tampang doang, apalagi karena sensasi, semua dikenal karena karya dan proses panjang jungkir balik di belantika musik planet Bumi. Bisa jadi karena ngulik lagu yg lebih ke Punk, Rock dan Metal dulu, ditambah Ayah ayas suka muter lagu-lagu GnR, Scorpion, Bon Jovi, Heart, Nike Ardila, Rinto Harahap, Iwan Fals, Chrisye, Deddy Dores, Bill & Brod (lagunya: Madu dan Racun, Singkong dan Keju, dll), semua akumulasi itu membekas sampe sekarang. Ya kebanyakan lagu-lagu itu 90 2000an tapi ada juga yg dibawah 90 alias 80an.

Sedikit banyak ayas belajar dari renungan dan tatapan kosong ke atap kamar, ayas terjebak di Gelombang Kawula Tua, meski tetep mengakui dan menikmati hidup di era modernisasi. Ini cuman sebatas selera seni terutama musik, tulis, dan rupa. Semua juga ada unsur ayah ayas yg di tempat kerjanya dulu juga buka club malam gitu beralih fungsi tergantung jam. Isinya ya lagu-lagu joged kala itu cuman mungkin karena isinya kebanyakan musik instrument / pattern dan minim lirik makanya kurang inget. Hal itu juga yg membawa ayas ngulik lagu-lagu lawas termasuk nimbrung di tiap acara wawancara, musik performance, atau apapun itu yg berhubungan dengan era-era lawas tadi, ketemulah Ngobryls nya Jimi Malau yg kebetulan bahas musik dengan kadang bawa kita ke masa era kejayaan itu pula, thank you mafren.

Nanti, entah kapan, kalo jadi, ayas bakalan ikut berpartisipasi bikin gelombang ini merajai lagi di sini, biar musiknya ga absurd gajelas kayak sekarang. Lame!

Tahun Baru, Panggung Baru?

Hello, mafren.

Terhitung sejak post ini dibuat, ya, agak telat, 2 Januari 2020, banyak banget orang mulai ngasih tau resolusi-resolusi mereka diluar sana. Beberapa majang di instastory, dijadiin highlight, ada juga yg masang di status twitter, di pinned, dan ga jarang yg ngepost video itu di kanal youtube. Ga bisa dipungkiri sih, budaya bikin resolusi kayak gini udah cukup lama ada, seenggaknya sejak jaman facebook masih digandrungi banget dulu, awal-awal tapi ya. Tapi, setelah ditengok kebelakang, sebenernya resolusi ini ga beda dari “new year wishes” yg ada di mig33 (jadul), friendster, ataupun mywapblog dulu. Bedanya di nama doang.

Jadi, singkat cerita, ada beberapa temen yg bikin list 10 resolusi 2020 bulan Januari ini. Kebanyakan dari mereka sih intinya nulis soal bakalan lebih sukses di karir sama married atau dapat calon married. Secara umur mereka juga ga muda sih, tapi, masih bisa lah dibilang “belom saatnya” kalo soal urusan married tadi. Nah, ada salah satu temen yg ga begitu deket nyeletuk nih. Katanya, dia bakalan bikin gebrakan baru, yg mana temen-temen sejawatnya (tua lagi) belom pernah ngelakuin. Alhasil, ayas ikutin dah kemana dia mau bawa tuh “gebrakan” sebenernya.

Kebetulan, si kawan yg penggebrak tadi, punya planning buat bikin semacam pergerakan, underground, dalam hal seni rupa. Kurang lebih doi pengen menyampaikan keresahan dan sedikit dendam ke orang-orang yg doi anggap terlalu sok asik dalam hidup. Poin utamanya sih, orang-orang yg otaknya ga logis. Well, ayas ngerasa ini sebuah momentum yg bagus nih. Karena ayas juga sebisa mungkin menjejali pelan-pelan rationalitas ke kehidupan sehari-hari, bahkan ke obrolan yg ya ga sebegitu masuk buat bawa rational kesana. Tapi, itu perlu, karena rational dan logis harus beriringan ada di / jadi standar kesadaran manusia. Hal ini bakalan berdampak pada pola hidup, pola pikir dan pola asuh baik itu ngasuh anak, ngasuh masyarakat, ataupun ngasuh ego diri sendiri. Sayangnya, ayas ga bisa dan ga mumpuni di bidang seni rupa (lukis, gambar, desain dkk). Alhasil ayas kontribusi di project si penggebrak ini via seni tulis (sajak dan lirik). Kebetulan beberapa karya ada yg di post di IG, tapi ga bakalan semua taroh sana, karena bukan pasarnya dan bukan ranahnya. Bahaya nanti kalo tulisan-tulisan kayak gitu ditaroh diatas permukaan tanah, ambyar!

Singkat cerita lagi, anak-anak band punk rock ayas, ikut-ikutan juga. Mungkin mereka mikir ini jalurnya sama, mungkin. Selang beberapa minggu, makin tambah gede nih pergerakan, meski tetep underground. Lucunya adalah, prediksi kami yg bakalan jadi boomerang negatif karena terlalu vulgar dan brutal dan tabu, malah direspon positif sama lumayan banyak orang, seenggkanya mereka yg sejalan atau hampir ga berseberangan laju.

Semua itu berjalan mulus kayak mukanya Ariel Tatum, sampe akhirnya ada news soal Corona atau virus dari Cina. So far, belom nyampe Indonesia sih, kayaknya. Cuma, desas desus buah bibir anak-anak tongkrongan kerasa kayak ini gelombang penyakit bakalan ke indo dalam waktu dekat. Entah kapan itu, yg pasti ini dari testimoni keliatan cukup ngeri, makanya bisa-bisa jadi penghambat pergerakan.

Pergerakannya apa itu? Terus apa hubungannya sama “panggung” di judul post? Well, panggung disini maksudnya tempat / wadah untuk berseni. Setelah cukup lama vakum dari seni yg menampar karena sibuk cari cuan di seni yg merakyat, alias seni jualan, akhirnya bisa dapet momentum dan panggung lagi. Tapi, ini masih awalan sih, entah deh besok kedepannya gimana. Cuma, ketika ada gerakan di air yg tenang, gelombangnya bisa tetep keliatan meski dari jauh kan?