Terima Kasih, Seperempat

Terhitung dini hari pada tanggal ini, ketika memulai bergantinya hari, ayas teriakkan lantang-lantang soal sekilas perjalanan. Persoal detak jantung dan hembus nafas. Persoal masa-masa yg sempat dan mungkin akan kembali terjadi. Dengan menyebut syukur kepada alam dengan segala ruang dan rupanya nan luas, dengan segala eskalasi tata surya dan runtutan debu-debu angkasa, terimakasih untuk Seperempat Abad ini.

Genap 25 tahun di sebuah tahun yg paling amburadul karena pandemi dan social distancing, ayas merasakan ini bukan waktunya untuk submissive layaknya menua di tahun-tahun sebelumnya. Begitu banyak problematika yg sudah sempat terselesaikan, begitupun yg cuma dilarikan, menghiasi segala sisi tapak perjalanan. Karenanya, ayas sudah tidak sudi untuk pura-pura baik-baik saja. Ini adalah fase metamorfosa, fase paling mencekam dalam pelukan dosa dan logika.

Kepada semesta yang menjadikan ayas ada, mari bersulang!

Durasi Bukan Batas Seni

Ayas kerap kali menulis bahwa seni ga boleh dibatasi. Seni adalah hal yg memang selayaknya dibiarkan merdeka, bahkan tanpa ada aturan-aturan apapun didalamnya. Hal ini termasuk jangan masukkan hukum politik ke ranah seni sekalipun seni bisa digunakan untuk hukum dan politik. Yang jadi tolak ukur sekarang, bagi para seniman yg baru muncul, adalah durasi. Kenapa kok jadi durasi? Karena akhir-akhir ini, terutama pandemi, seni makin hari makin diminati via media sosial.

Barangkali kita tahu kalo Youtube, IG story, IG TV, twitter, facebook dll bisa digunakan untuk media penyebaran karya. Mau itu tertulis, audio, visual, audio visual, gambar dan lainnya. Bahkan ga jarang ditemui seniman-seniman ini membuka gerbang via virtual secara full. Terlepas mereka menamakan diri sebagai creator atau bukan, karya tetaplah karya dari penciptanya.

Platform digital membawa angin segar ibaratnya ke industri hiburan dan seniman. Patut digaris bawahi, seni bukan berarti hiburan. Di IG story, dengan max 15 detik per story atau 1 menit per post slide, seniman tadi acap mengakali dengan meringkas konten. Ga jarang ada orang yg mendedikasikan karya mereka bisa muat untuk 60 detik saja, bahkan ada yg 15 detik. Mau itu cover lagu, lagu original, short video, monolog, dll yg berhubungan dengan durasi. Showcase mereka punya durasi, tapi karya mereka tidak sedang dibatasi.

Durasi hanyalah sebuah kesepakatan bahwa sebuah karya bisa punya kesempatan untuk ditampilkan “cerita / pesannya” pada suatu waktu. Terlepas penonton bisa menonton ulang terus-terusan, kontennya tetap akan berada didalam koridor durasi tadi. Ibarat kita nonton film 2 jam, mau kita ulang berapa kalipun, konten filmnya akan tetap sama, terangkum di 2 jam tersebut. Yang jadi pembeda ya tentu di social media lebih pendek, 15 detik, 60 detik, 3 menit, dll.

Durasi lagaknya sebagai sebuah tantangan sekaligus peluang, toh pameran tidak selalu dibuka 24 jam, 7 hari seminggu. Cara seniman mengemas konten yg ia punya dalam sebuah karya cipta merupakan sebuah jalur tersendiri. Jalur yg dikhususkan untuk mereka yg menikmati kompresi meskipun ga salah juga ketika seniman tadi mau untuk tetap full durasi terpotong-potong. Semua persoal selera, semua persoal esensi dan estetika.

Blues, Punk dan Rock

Mengawali bulan kemerdekaan Indonesia, Agustus, ayas mencoba mereka ulang trigger-trigger yg membawa ayas dalam menikmati seni. Beberapa post sebelum ini, sempat ayas gelontorkan beberapa band / musisi yg kebetulan didengerin / diikuti jaman kecil, remaja hingga sekarang. List itu didominasi oleh seni musik yg auranya berkutat diseputaran Blues, Punk dan Rock beserta turunannya. Inti dari semua penggambaran ayas terhadap apa yg ayas dengar dan ayas mainkan ya dari 3 style itu.

Blues, sebuah genre musik yg berasal dari nada-nada sederhana tapi saling terhubung, ciri khasnya adalah jembatan nada layaknya chromatic interval padahal bukan. Genre ini seringkali dibilang mbahnya genre / subgenre musik lain. Rock berakar dari Blues dengan balutan keras di musiknya. Jazz berakar dari Blues tapi dengan improvisasi yg lebih tertata. Punk berakar dari Blues tapi dengan irama yg lebih cepat dan singkat dengan konten lirik yg juga hampir mirip, kegelisahan, keresahan, ideologi dari mereka yg ada dipinggir. Metal pun juga Blues dengan improvisasi cadas yg lebih brutal dengan gaya yg lebih bawah tanah. Kalau ditarik garis ga lurus, musik banyak berakar dari Blues, tapi bukan berarti musik-musik tadi sama dengan Blues ya.

Punk, genre yg sering disebut pinggiran karena didominasi rebel dan street life. Ya kalo dilihat dari budaya memang dari sana induknya, tapi sebelum itupun juga punk sudah dibentuk oleh band yg bisa dengan gampang diterima telinga masyarakat umumnya. Punk menjadi salah satu genre yg digandrungi anak-anak 90an remaja ataupun 2000an awal. Jaman itu, skatepunk, melodicpunk, poppunk, punk rock dll bisa ditemukan di gadget lawas / tape dan radio yg memang didominasi remaja. Ambil contoh Ramones, Rancid, Blink 182, Avril, Green Day, dll yg juga dikonsumsi oleh para remaja dimana abang-abangan mereka mungkin juga menikmati selain Metal, Rock ataupun Trash kala itu. Punk soal menjadi bebas, soal menjadi entitas yg punya ideologi, dan idelogi itu disebarluaskan.

Rock, genre yg keras dengan nada-nada yg cukup kuat dan ga jarang didominasi minor. Genre satu ini adalah salah satu musik keras yg masih bisa diterima telinga masyarakat, alias tidak sebegitu underground. Meskipun pesan-pesan didalam lagu-lagu rock juga banyak yg benar-benar memberikan kenyataan pahit, ideologi, ataupun hal-hal yg cukup underground lah ya. Keberadaan Rock menjadi sebuah wadah pengembangan warna seni musik. Dari sinilah banyak muncul musik-musik yg berbeda warna, berbeda bentuk tapi masih dari benih yg sama. Belum termasuk dengan segala fusion genre yg ada dalam musik.

Akan tetapi, ayas adalah orang yg lebih menikmati musik secara musik itu sendiri. Ayas kurang minat mengkotak-kotakkan genre. Semua genre bisa dibilang adalah referensi dan patokan bagi musisinya. Nantinya, dalam proses eksekusi, musisinyalah yg punya andil apakah mengikuti genre itu atau mengeksplorasi dengan semerdekanya. Dari sini, ga aneh kalo banyak orang yg beda pandangan soal sebuah lagu masuk genre mana, meskipun lagu lain bisa dikenali dengan cepat ikut mana. Intinya, lagu tersebut adalah karya musik, sebuah seni, terlepas dari style musik itu sendiri seperti apa. Ayas ketika suka, ga peduli deh genrenya apaan, karya yg bagus pasti ayas apresiasi. Catatan, “Bagus” adalah hal yg relatif, tergantung individunya masing-masing.

Dari Blues yg dibawa B.B. King, Deep Purple, Jimi Hendrix, Led Zeppelin, The Rollies, Deddy Stanzah, Godbless, dll, berangsur ke Punk yg dikenalkan oleh radio dan MTV kalo ga salah saat itu kayak Ramones, Rancid, NOFX, SID, Netral, Social Distortion, Avril, Blink 182, dll, dilanjut dengan Rocknya The Rolling Stones, The Beatles, AC/DC, Pink Floyd, GnR, Queen, Dewa, Nike Ardila, Jamrud, dll. Semuanya mungkin menjadi penerang jalan anak-anak remaja yg menikmati 90an dan awal 2000an secara general, mungkin. Bagi ayas pribadi, mereka menjadi bara api yg siap setiap saat menjadi kobar bakaran obor.

Beruntungnya ayas adalah tidak mengikuti jaman, untuk urusan seni, ayas mencoba mengakar pada hal-hal yg ayas sukai. Dengan kata lain, halam hal seni, ayas tidak mencoba untuk “suka karena terpaksa” dengan membiasakan diri menikmati seni-seni yg emang ga ayas sukai. Beberapa kejadian ada temen-temen ayas yg biar keliatan keren ngikut-ngikutin alur dan arus, biar trendy. Bagus buat mereka, tapi bagi ayas pribadi, selera adalah hak setiap individu. Dan ayas memilih untuk menjadi orang yg berselera seperti itu. Toh dipenghujung episode, seni akan tetap menjadi seni, sebuah karya yg kita sebegai orang kedua ataupun ketiga, menikmati. Biarkan senimannya, orang pertama, yg berkarya semerdekanya mereka. Suka bilang suka, ga suka ya sudah ga suka aja. Blues, Punk dan Rock akan menjadi selera ayas agar ayas tetap sadar untuk kembali ke asal.

Dinamika Transisi

Beberapa waktu lalu ayas menikmati bulan purnama dari ruang diantara sekat-sekat jendela lantai 2. Biasa, sembari menimati kopi dengan sebat dimuka. Melihat gelap dari ruang yg ga kalah gelap adalah nikmat sih bagi ayas. Bulan kala itu, seakan melambai didepan mata, ibarat nyuruh tidur, nyuruh rehat. Secara alam bawah sadar, raga memang terus-terusan bilang capek. Diforsir sana sini itu ga ada enak-enaknya mafren!

Biasanya orang-orang diforsir karena ingin jadi lebih bagus. Ayas sedang tidak dalam fase memperbagus diri. Ini semua ibarat ngangkut beban berat karena harus, bukan karena pengen punya otot bagus. Makin dilalui, makin berasa. Makin dinikmati, makin ga ada enaknya. Makin dipaksa, makin enggan buat mencoba sejenak duduk tenang menikmati semua yg dipandang. Rasanya, ada hal-hal yg emang ga bisa untuk digunakan ataupun dipaksakan terus-menerus. Meskipun itu bukan berarti hal tersebut ga bisa digunakan ataupun dipaksa lho ya.

Dengan menikmati setiap tarikan nafas bercampur nikotin, ayas mencoba mencari esensi. Ayas ingin menggali lebih dalam apasih yg membuat raga masih bertengger tegar disini. Apakah karena kebutuhan, atau hanya sebuah bentuk kemalasan? Apakah ayas cuma takut untuk membuat sebuah pergerakan diantara pagar-pagar pengaman yg ayas sendiri sudah lama dirikan? Semua lagaknya harus kembali pada suatu ideologi paling murni. Bisa jadi ini sebatas dampak daripada pandemi, atau bisa juga karena merasakan sendiri dalam ramai.

Ga bakal bohong, segala sesuatunya berasa seperti terlalu banyak cabang, keributan bergelombang. Ayas merasakan sebuah dinamika transisi, dari yg terbiasa menjadi yg mencoba ditidak-biasakan. Pikiran ini hampir mendominasi rutinitas sehari-hari. Kayak candu yg datang tanpa ampun. Lalu dengan bertenggernya bulan disana, di sebuah titik ruang diantara gelap dan cakrawala, ayas pelan-pelan membuka mata.

Hidup nampaknya akan tetap seperti diorama, dimana panggungnya ada, entitasnya ada, tapi mau dibawa kemana?

Pemberhentian Terakhir

Narasi pada tiap tulisan-tulisan kuno yg membahas tentang hidup kedua, atau hidup setelah mati, sangatlah bervariasi. Pada suatu masa, di musim kata-kata mengalahkan logika, ada sabda. Kadang kita terbawa pada cerita klise. Otak jadi terbiasa menerima dan mengamini segala sesuatu yg mayoritas katakan, atau sepakati. Hal ini ga jauh dari sebuah padanan kata, bahwa privileged people tends to have more trusted words, either it’s fact or fiction. Nyatanya semua akan tiba di pemberhentian terakhir.

Ayas mencoba menggambarkan sebuah masa dimana orang-orang mulai merenung. Mereka kian hari kian berkonflik dengan hati mereka sendiri-sendiri. Ibaratnya hewan yg terbiasa makan daun, sekarang jadi karnivora. Berubah drastis dan berbeda destinasi! Naluri akan kembali kepada titik awal, titik dimana bertahan hidup jauh lebih baik ketimbang berpikir rasional. Semua akan terfokus soal hidup, bukan soal mati. Momentum itulah yg membawa segala bentuk makhluk hidup benar-benar menikmati hidup. Semua kembali pada pola yg diberikan tanda alam semesta.

Pemberhentian terakhir adalah sebuah untaian singkat dari sebegitu panjangnya proses kehidupan. Ujung-ujungnya, kita akan berada pada puncak titik, atau akhir garis. Diluar dari frame yg pernah dilalui ataupun kita ketahui, tak ada yg tahu. Semua ibarat hal-hal yg bisa jadi tak kasat mata, bahkan tak mempan dalam logika. Tapi, semua masih tercakup pada probabilitas, pada kemungkinan-kemungkinan yg belum tentu jadi kebenaran. Kenikmatan dari meragu karena ketidakpastian itulah yg membuat kita merasakan hidup ga sebegitu monoton.

Dengan semangat bergelora masih bermodal nada-nada sederhana, ayas membuat sebuah karya kecil. Musik dengan balutan lirik ini menceritakan tentang Kita, makhluk hidup, manusia, kembali memahami pola singkat dalam hidup. Mencoba bertahan agar tetap bisa menikmati hal-hal yg jauh lebih pasti ketimbang apapun itu yg berada setelah mati. Sekian jumpa dan pergi, beberapa tafsir makna dan mimpi, akan meragu. Mereka berkomplot menjadi solid, menunggu kelabu. Menantikan hari-hari yg penuh dengan kelam tanpa cerahnya langit biru. Goresan sederhana itu ayas rangkum dalam lagu Pemberhentian Terakhir.

Dan naluri kian kembali
Bersatu dengan delusi
Dan mimpimu kian meragu
Menanti hari kelabu
Mengharapkan kehidupan setelah kematian...

Penggalan diatas adalah bait-bait awal, pembuka, pengiring kepada sabda buatan sendiri. Dengan maksud membawa pendengar menikmati ragunya, ayas mencoba memberi ruang agar hal ini ga jadi sebatas pengalaman ayas aja. Untuk lagunya ya nanti, masih ada cukup banyak waktu untuk moles sebuah karya jadi lebih bagus. Presisi adalah kunci, sampai bertemu di Pemberhentian Terakhir.

Lembayung Di Rona Pasi

Sekiranya semalam seorang kawan dekat beda kelamin meluapkan carut marutnya. Doi nangis lirih karena nahan di sebuah coffee cafe kecil pinggiran kota diantara sekitar belasan orang pelanggan disana. Ayas mencoba kalem dengan membaca pesan urgensi di chat whatsapp. Kebetulan doi ngechatnya juga biasa aja, kayak orang lagi gabut butuh temen. Ternyata, doi sedang ada masalah mayan gede, bukan family matter, tapi soal problematika bersosial.

Dengan santainya ayas motoran dari pangkal bawah ke cafe itu yg posisinya di atas dan jalannya naik terus. Ya, paling cuma bawa 50km/j lah sambil nahan dingin karena ga jaketan. Siul-siul di sepanjang jalan sambil bikin pattern musik alakadarnya biar ga sepi. Karena berasa gabut akhirnya sedikit ngebut.

Berharap disambut dengan biasa, ayas malah disambut dengan tatapan sinis pas baru aja nyampe sana. Posisi doi tepat sejajar dengan parkiran cafe jadi keliatan. Mukanya agak ga beres nih, pikir ayas dalam hati doang. Matanya kayak udah becek gitu nahan ngantuk kali. Belom juga salaman doi udah geret ke pojokan cafe yg lebih sepi dan lebih gelap. Format duduknya doi jadi ngehadap tembok pembatas ruangan dan ayas yg dapet posisi observer area sekitar. Ga nyampe 5 detik, tipikal cewek, mata merem, bibir manyun, air mata netes, muka memerah, ingusan. Fix ini anak lagi ga beres.

Ayas disini ga mau bahas doi punya masalah apa, biar kami berdua doang aja yg tahu. Tapi, pokok permasalahannya ada di hal-hal sepele, yg terakumulasi jadi rumit. Perumpamaannya gini, kalo kita punya masalah sama A, B dan C, mereka bertiga saling ga kenal. Tapi karena lingkungan main kita ya disitu-situ aja alhasil rumor nyebar dan 3 orang itu saling bikin versi sendiri, bahaya namanya. Ga semua orang bisa menghandle kiasan-kiasan persuasif orang lain. Apalagi yg persuasifnya untuk ngasih kesan negatif. Ga lama selang doi sesenggukan yg kadang beberapa mas-mas diseberang sana liatin dikira ayas yg bikin nangis, doi munculin muka kosongnya. Belom lama nangis di cafe, doi udah kayak orang linglung.

Yang ayas maksud dengan Rona Pasi adalah muka doi, tipikal cewek putih berisi dengan kulit kayak babi… Ya emang kulitnya putih pucat gitu bagian pink-pinknya di urat agak keliatan. Pas nangis, jadi lembayung di sekitar mukanya. Sebuah semburat warna ciamik nan sadis sih. Tapi, momen itu pula yg bikin ayas belajar hal baru. Kita, masing-masing individu, harus bisa tahu gimana caranya bertahan hidup tanpa campur tangan orang lain. Bahwa kita bisa tetep bangkit meski tangan ga ada yg ngangkatin. Momen itu, ayas mencoba memposisikan diri sebagai pendengar yg sangat ketat. Dalam kata lain, ayas ga mau kasih masukan atau opini kalo bener-bener ga ditanya secara langsung. Ini penting banget, karena mereka yg sedang sedih dililit problematika jauh lebih butuh didengarkan ketimbang dibantu. Mereka tidak selemah itu!

Sekitar 2 jam lebih dikit ngobrol sambil dengerin doi curhat, ayas sempatkan untuk saling bertukar pengalaman idup. Sebatas bertukar, bukan judging ataupun debat. Sampe suatu saat kopi udah abis, ciki snack juga udah tinggal debu bumbunya, ayas ngajak doi balik. Taunya ini anak ga mau balik dulu, karena ga mau diliat sama mamanya atau papanya kalo lagi ada masalah dan abis nangis. Alhasil, daripada sebatas berdiam diri di tempat yg sama, ayas ajak doi keliling kota, sama-sama tanpa jaket. Biar emosi tadi yg ngebakar fisik dan psikis doi, bisa cooling down kena angin malem. Kampretnya emang bensin jadi abis soalnya motornya motor temen dan boros banget. Mau ga mau, doi harus dianterin balik, SPBU di sekitar sana ga ada yg 24 jam hiyahiya.

Momentum nganterin dia balik ke rumahnya itu juga cukup berkesan, jalan 30 Km/j biar ga terlalu dingin jam 3 pagi pas nyampe bapaknya nunggu di lincak bambu depan rumah pake sarung. Ayas udah mikir bakalan kena gampar nih, secara ga sedeket itu kalo sama ortunya. Untungnya, papa si doi yg nangis di cafe ini, cuma bilang “Udah jalannya? Dicariin mama kamu”. Dan semua saat itu rasanya berlangsung cepat, doi masuk, bokapnya cuman senyum, ayas langsung cabut. Di jalan balik, kepikiran juga tuh sama cerita doi yg emang cukup rumit tadi. Tapi

Kepulan Debu Di Udara

Beranjak dewasa adalah sebuah proses yg bisa dilalui untuk orang-orang yg bisa survive dari masa-masa kecil dan masa remaja. Esensi dari sebuah pendewasaan diri adalah ketika kita bisa berkembang dari segala jenis tekanan-tekanan luar dan dalam. Bahwa gravitasi tak sebatas dari bumi, tapi juga dari masing-masing pribadi. Bahwa kita bisa menjadi lebih dari kemarin, dan lusa bisa lebih dahsyat dari saat ini.

Dulu, tiap perjumpaan dengan orang baru sering menjadi sebuah cerita dengan bonus ilmu kehidupan. Di kala itu, ayas ikut sana sini, saling saut, saling sharing, intinya tukar tambah kiat-kiat survive dalam hidup meskipun tidak dijelaskan secara gamblang. Identitas kita terbentuk, mulai dari sebatas obrolan recehan sambil sebat, sampai diskusi berjam-jam karena ada problematika kehidupan yg individual ataupun komunal.

Sekarang, orang-orang berjumpa hanya sebatas berbagi cerita, tanpa ada intisari yg bisa diserap dengan serat-serat makna kata. Seenggaknya untuk ayas saja. Lalu lalang cuma menceritakan karena ingin cerita, tanpa kehadiran sosok, visual, ataupun bekas disana. Apalagi, era pandemi, semua serba virtual. Mau ketemu aja susah, karena masih sadar, ini bukan waktunya buat kumpul-kumpul. Sementara diluar sana, banyak orang-orang yg ga bisa sabar dan keluar main sana sini, padahal mereka sedang tidak melakukan hal yg cukup penting.

Andaikata ayas terjebak di era seperti ini untuk waktu yg lebih lama, ayas bisa merasakan sekat-sekat dalam tiap perbincangan, dalam setiap aksi yg terjadi, dalam setiap narasi. Kita dipaksa untuk berlaku baik, layaknya seorang kawan yg benar-benar CS sekalipun tidak sedekat itu. Semua dengan embel-embel formalitas. Meski garis senioritas blur, tetep aja ada tembok-tembok strata yg bikin masing-masing dari kita merasakan bahaya. Intinya, semua jadi kurang terasa ikhlas.

Nampaknya dalam kurun waktu yg lama, ga akan ada perubahan besar yg bakalan terjadi. Seenggaknya dari analisa gembel yg diobservasi oleh mata sehari-hari. Yang jauh, makin jauh. Yang dekat, terpaksa jauh. Yang belum kenal, memaksakan diri untuk kenalan. Semua berakhir disebuah perpisahan yg entah sementara atau bertahan untuk jangka waktu yg lama.

Ayas, merindukan kepulan debu di udara yg menghiasi celotehan kehidupan kawan-kawan lama…

Dari Rumah, Berjamaah

Terhitung hari ini, udah beberapa hari terlewati di Magelang, dari rumah, tanpa rutinitas pulang pergi Magelang Jogja setiap harinya. Hasil diskusi para petinggi pemerintah membuat semua orang wajib kerja dari rumah, dan ya sudah. Kadang memang hal-hal kayak gini patut dipaksakan biar semua terjaga dan aman. Semua ini kan juga lebih ke pemanfaatan peraturan. Semua serba Work From From.

Gembar gembor pandemi makin hari kian berdampak ngeri. Ga jarang orang malah bikin sensasi via jalan-jalan keluar, bilang aman kok, sehat kok, muda kok, pe kok. Ga ada hal-hal lain mungkin mereka makanya ya hura-hura sambel kosek gitu. Sebisanya tetap mencari pengamanan, via dirumah jangan keluar.

Sebenernya bagus aja bisa berdiam dirumah dan fokus kerja. Hanya aja, ini bikin ayas merasakan sekat, jadi kurang dekat. Biasanya bisa sambil ngecengin, ngobrol, atau sebatas say hi. Sekarang-sekarang ini ya jelas engga. Semua jadi punya dunianya sendiri. Itu berlaku bagi mereka yg menikmati jarak ya. Bagi yg ga terbiasa, ayas yakin psikis mereka meronta. Merongrong tajam mengaum kencang buat lekas kelar ini pandemi.

Semua berharap berinteraksi secara normal, tanpa menyentuh…

Tapi, apa hal ini bakalan tetep berlangsung terjadi? Mari kita liat beberapa bulan lagi…

Gelombang Kawula Tua

Tentang sebuah memori yg tersendat di masa lalu, kadang kita ga sadar terbawa untuk bernostalgia. Biasanya ini terjadi kalo ada momentum yg pas, yg men-trigger sebuah rasa lama, gila ga tuh. Kebetulan juga, akhir-akhir ini, ayas sedang merasakan Gelombang Kawula Tua.

Gelombang ini sebenernya simple, hanya bak kita ke-trigger suasana tempo dulu entah itu masa kecil, remaja atau pas lagi kampret-kampretnya. Kenapa disebut kawula tua? Ya karena ayas udah ga muda lah itungannya tapi ga sebegitu tua juga kan, productive stage lah kasarannya. Gelombang ini ga cuman dikasih taburan dari apa yg kita rasakan sekarang, tapi visualisasi dari keadaan kita kala itu. Ambil contoh nih, lagunya Rancid, Time Bomb dan Ruby Soho, ketika lagu itu keputer di youtube, seketika ayas terbawa ke masa kelas 2 dan 3 SD, masa-masa awal kenal musik punk dengan segala tetek bengek kaset pita plus tape recorder kala itu. Ya, ayas kenal musik di era masih Kaset Tape dan Kaset CD, mungkin ada piranti lain waktu itu, tapi karena punyanya cuman Tape dan VCD ya intinya berputar dikisaran itulah.

Dulu, kala kampung halaman ini masih banyak tempat rimbun nan segar, kali masih cukup berisik dan agak jernih, rumah belom makan tempat saling himpit sok kenal, ayas menikmati masa kecil (SD) dengan musik-musik Punk, Rock, Blues, Ska, Pop 2000, Heavy Metal, Rockabilly dan tentusaja Country begitupun dengan subgenre lain yg ga jauh-jauh dari itu lah ya. Jaman itu masih banyak kanal radio, bahkan dulu saking minimnya piranti elektronik, hiburannya ya Radio, Tape, VCD, kadang TV, udah. Jaman itu HP belom begitu marak, ya gimana HP 500 rebu pulsanya 1 juta, bukan ranah kami lah waktu itu. Tahun-tahun itu mungkin sekitar 2002 – 2004 lah ya, bermunculan musik-musik asik yg kalo ga energetic ya bener-bener nampar feeling. Ibaratnya, untuk yg mainstream, Dewa, Peterpan, Tipe-X, Slank, Edane, Jamrud dkk itu muncul mulu di radio, atau diputer di tukang-tukang jualan kaset era itu. Sementara untuk skena indie kebanyakan pada hijrah ke MTV atau kaset-kaset bajakan radio alias hasil record via tape recorder kayak Endank Soekamti, Shaggy Dog, Superman Is Dead, The Upstairs, Netral, Goodnight Electric, Club Eighties dan jajarannya. Asik mafren!

Berlanjut di kelas 3 SD yg pertama kali belajar gitar kopong, make gitar akustik custom pabrikan gada merek seharga 125 ribu kala itu. Momen ini ayas gunakan untuk ngulik lagu-lagu dari abang-abangan lah ya belajarnya, bukan secara langsung tapi via dengerin. Contoh band-bandnya lebih banyak ke Punk dan Rock sih, kayak Ramones, Rancid, SID, Netral, Endank Soekamti, AC/DC, GnR, Dewa, Scorpion, White Lion, Superglad dan Led Zeppelin. Kebetulan juga era itu abang-abangan yg satu RT itu hampir semua ngeband, mereka kadang juga ikut festival yg sempat satu panggung juga pas SMP lawan mereka yg udah kuliah sekitaran.

Dari hasil ngulik lagu tadi, memori tahun-tahun era 2010 kebawah adalah momen kejayaan dalam menikmati lagu-lagu ciamik sih kalo ayas boleh bilang. Disana ga ada band-band yg terkenal karena tampang doang, apalagi karena sensasi, semua dikenal karena karya dan proses panjang jungkir balik di belantika musik planet Bumi. Bisa jadi karena ngulik lagu yg lebih ke Punk, Rock dan Metal dulu, ditambah Ayah ayas suka muter lagu-lagu GnR, Scorpion, Bon Jovi, Heart, Nike Ardila, Rinto Harahap, Iwan Fals, Chrisye, Deddy Dores, Bill & Brod (lagunya: Madu dan Racun, Singkong dan Keju, dll), semua akumulasi itu membekas sampe sekarang. Ya kebanyakan lagu-lagu itu 90 2000an tapi ada juga yg dibawah 90 alias 80an.

Sedikit banyak ayas belajar dari renungan dan tatapan kosong ke atap kamar, ayas terjebak di Gelombang Kawula Tua, meski tetep mengakui dan menikmati hidup di era modernisasi. Ini cuman sebatas selera seni terutama musik, tulis, dan rupa. Semua juga ada unsur ayah ayas yg di tempat kerjanya dulu juga buka club malam gitu beralih fungsi tergantung jam. Isinya ya lagu-lagu joged kala itu cuman mungkin karena isinya kebanyakan musik instrument / pattern dan minim lirik makanya kurang inget. Hal itu juga yg membawa ayas ngulik lagu-lagu lawas termasuk nimbrung di tiap acara wawancara, musik performance, atau apapun itu yg berhubungan dengan era-era lawas tadi, ketemulah Ngobryls nya Jimi Malau yg kebetulan bahas musik dengan kadang bawa kita ke masa era kejayaan itu pula, thank you mafren.

Nanti, entah kapan, kalo jadi, ayas bakalan ikut berpartisipasi bikin gelombang ini merajai lagi di sini, biar musiknya ga absurd gajelas kayak sekarang. Lame!

Tahun Baru, Panggung Baru?

Hello, mafren.

Terhitung sejak post ini dibuat, ya, agak telat, 2 Januari 2020, banyak banget orang mulai ngasih tau resolusi-resolusi mereka diluar sana. Beberapa majang di instastory, dijadiin highlight, ada juga yg masang di status twitter, di pinned, dan ga jarang yg ngepost video itu di kanal youtube. Ga bisa dipungkiri sih, budaya bikin resolusi kayak gini udah cukup lama ada, seenggaknya sejak jaman facebook masih digandrungi banget dulu, awal-awal tapi ya. Tapi, setelah ditengok kebelakang, sebenernya resolusi ini ga beda dari “new year wishes” yg ada di mig33 (jadul), friendster, ataupun mywapblog dulu. Bedanya di nama doang.

Jadi, singkat cerita, ada beberapa temen yg bikin list 10 resolusi 2020 bulan Januari ini. Kebanyakan dari mereka sih intinya nulis soal bakalan lebih sukses di karir sama married atau dapat calon married. Secara umur mereka juga ga muda sih, tapi, masih bisa lah dibilang “belom saatnya” kalo soal urusan married tadi. Nah, ada salah satu temen yg ga begitu deket nyeletuk nih. Katanya, dia bakalan bikin gebrakan baru, yg mana temen-temen sejawatnya (tua lagi) belom pernah ngelakuin. Alhasil, ayas ikutin dah kemana dia mau bawa tuh “gebrakan” sebenernya.

Kebetulan, si kawan yg penggebrak tadi, punya planning buat bikin semacam pergerakan, underground, dalam hal seni rupa. Kurang lebih doi pengen menyampaikan keresahan dan sedikit dendam ke orang-orang yg doi anggap terlalu sok asik dalam hidup. Poin utamanya sih, orang-orang yg otaknya ga logis. Well, ayas ngerasa ini sebuah momentum yg bagus nih. Karena ayas juga sebisa mungkin menjejali pelan-pelan rationalitas ke kehidupan sehari-hari, bahkan ke obrolan yg ya ga sebegitu masuk buat bawa rational kesana. Tapi, itu perlu, karena rational dan logis harus beriringan ada di / jadi standar kesadaran manusia. Hal ini bakalan berdampak pada pola hidup, pola pikir dan pola asuh baik itu ngasuh anak, ngasuh masyarakat, ataupun ngasuh ego diri sendiri. Sayangnya, ayas ga bisa dan ga mumpuni di bidang seni rupa (lukis, gambar, desain dkk). Alhasil ayas kontribusi di project si penggebrak ini via seni tulis (sajak dan lirik). Kebetulan beberapa karya ada yg di post di IG, tapi ga bakalan semua taroh sana, karena bukan pasarnya dan bukan ranahnya. Bahaya nanti kalo tulisan-tulisan kayak gitu ditaroh diatas permukaan tanah, ambyar!

Singkat cerita lagi, anak-anak band punk rock ayas, ikut-ikutan juga. Mungkin mereka mikir ini jalurnya sama, mungkin. Selang beberapa minggu, makin tambah gede nih pergerakan, meski tetep underground. Lucunya adalah, prediksi kami yg bakalan jadi boomerang negatif karena terlalu vulgar dan brutal dan tabu, malah direspon positif sama lumayan banyak orang, seenggkanya mereka yg sejalan atau hampir ga berseberangan laju.

Semua itu berjalan mulus kayak mukanya Ariel Tatum, sampe akhirnya ada news soal Corona atau virus dari Cina. So far, belom nyampe Indonesia sih, kayaknya. Cuma, desas desus buah bibir anak-anak tongkrongan kerasa kayak ini gelombang penyakit bakalan ke indo dalam waktu dekat. Entah kapan itu, yg pasti ini dari testimoni keliatan cukup ngeri, makanya bisa-bisa jadi penghambat pergerakan.

Pergerakannya apa itu? Terus apa hubungannya sama “panggung” di judul post? Well, panggung disini maksudnya tempat / wadah untuk berseni. Setelah cukup lama vakum dari seni yg menampar karena sibuk cari cuan di seni yg merakyat, alias seni jualan, akhirnya bisa dapet momentum dan panggung lagi. Tapi, ini masih awalan sih, entah deh besok kedepannya gimana. Cuma, ketika ada gerakan di air yg tenang, gelombangnya bisa tetep keliatan meski dari jauh kan?