Ceritakan Harimu

Pada raga yang lekas menua
Tubuh elegan nona bersuara
Seakan aku menanti bersua
Dalam tak bisa yang tak biasa

Ibarat menggores kanvas putih
Lapisan itu sudah pasti tak polos lagi
Dengan berkembangnya angka
Bertambah pula corak rupa sarat makna

Bukankah,
Kita sudah cukup puas berdiri sendiri?

Bukankah,
Kita sudah cukup kenyang saling berdiam?

Meski tak terpungkiri,
Kafeinmu dan Kafeinku beda bumbu
Jalan pikirmu dan pikirku saling berkubu
Narasiku dan narasimu sempat pula bertemu

Lalu,
Rumah mana lagi yang masih kau cari-cari?

Sekalipun akan tetap ada hujan setelah munculnya pelangi
Sudikah ceritakan harimu kepada payung yang terbuang ini?

Nanti,
Akan kuganti,
Setelah kau mau,
Persoal waktumu yang terbuang karena aku...

- 10 Agustus, 2020 -