Hidup untuk Hidup

Hidup untuk Hidup

Banyak dari kawan-kawan seperhelatan seperguruan sepertongkrongrongan diskusi dan adu argumentasi soal hidup itu buat apa sih. Kenapa sih harus hidup, kenapa pula kita merasa tertuntut untuk ini itu, jadi seperti A minimal, punya seperti B minimal dan sebagainya. Ga jarang dari kami beda pendapat semua. Kalo diliat lebih luas, semua itu soal selera. Kita bisa jadi apa saja dan mau kapanpun juga, selama kita bisa mewujudkannya. Ibarat kata, kalo kita mau tapi cuma masih malu-malu tanpa aksi, ya gabakal keturutan. Nah, hal itu ada ambil bagian gede buat tujuan hidup. Misal, ingin jadi seniman, ingin jadi entrepreneur, ingin jadi artis, ingin jadi anggota DPR, ingin jadi presiden dan ingin ingin yg lain.

Andai kata kita punya kemauan, kita punya aksi dan waktu untuk mengeksekusi hal itu, probabilitas kita bisa mendapatkan apa yg kita tuju akan jauh lebih besar ketimbang leha-leha foya-foya. Beda otak, beda kemauan, kan wajar. Mereka yg merasa tertuntut biasanya menyamakan selera sesuai apa yg mereka rasa baik. Misal, ortu pengen mereka jadi PNS, yaudah, kalo mereka menghormati ortu dengan cara mengusahakan apa yg ortu mereka mau, ya mereka punya tujuan buat jadi PNS. Sampe sini garis bawahi, ayas bukan orang yg berpegang dari keinginan orang lain, dalam artian, mau orang lain bilang apa minta apa, kalo ayas ga merasa tertarik melakukannya, ayas akan tetap independent, konteksnya hidup ya bukan tugas (kerjaan, tanggung jawab dkk). Tapi ada juga mereka yg memang ga sengaja, ga punya kemauan, akhirnya terinspirasi entah dari ngobrol sama orang atau nonton sesuatu yg bikin mereka pengen jadi XYZ. Sah-sah aja, ga ada yg salah daripada mencoba.

Ayas bisa mengakui, ayas lebih memilih hidup untuk hidup, entah itu buat diri sendiri ataupun juga untuk orang lain. Dalam artian gini, beberapa orang hidup untuk submissive kepada sebuah hal yg mereka anggap sakral, mereka sampai rela mati untuk hal itu. Yang patut dilihat adalah, ketika mereka mati, so far, ga ada jaminan mereka akan mendapatkan hal yg lebih baik daripada ketika mereka hidup. Kita tidak bisa membuktikan bahwa kita akan hidup setelah proses kematian, setidaknya sampe tahun 2020 ini. Yang ada hanyalah sebuah narasi-narasi atas dasar “Yakin” tanpa bukti konkrit, tapi tetep aja banyak yg tunduk tanpa mencoba buat sedikit aja lebih rasional.

Ayas bukan orang mau mengorbankan hidup demi sesuatu yg konyol dan bener-bener ga masuk akal. Tapi semisal, ada hal konyol yg kebetulan memang realita dan faktanya ada, ayas fine-fine aja menjadi si konyol tadi. Tapi kalo hal-hal konyol ini bener-bener diluar kontrol, bener-bener absurd dan ga logis, bener-bener keliatan bangkainya tapi dibodoamatkan khalayak ramai, ayas sangat tidak sudi. Ramai bukan sembarangan ketika banyak orang yg percaya, bahkan kebodohan yg paling mikroskopis pun akan sangat menjadi bahaya.

Mari kita coba merenung sejenak, meluangkan waktu untuk merenungkan segala hal yg kita anggap benar. Mencoba memahami hal-hal yg nampaknya sedari kecil kita yakini tanpa berani mempertanyakan. Mari kita mulai memproses segala sesuatunya dengan mengembangkan pola pikir kita. Biar apa? Biar kita punya tujuan yg jelas, biar kita tak jadi korban dari sebuah adat usang, adat yang sangat-sangat tidak relevan di masa sekarang ini. Semua demi kemajuan diri sendiri, sosial, dan tentunya kemajuan ilmu pengetahuan. Karena belajar untuk nyaman menjadi orang yg “Tidak Tahu” jauh lebih baik ketimbang memaksakan diri mereka sebagai orang yang “Pasti” tahu akan segala sesuatunya, yg pasti “Benar”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *