Kota Cerita

Kota menjadi tumbuh kekar besar nan sangar
Julang tinggi menjilat langit pekat
Dan kami masih duduk-duduk cantik di pinggiran mata angin
Menikmati akar rumput bertabur garam diperut
Selayaknya, menuai santai
Menikmati tua yang berangsur damai
Tetapi tidak...
Si tua bangka ini, tak berprogresi
Dengan hiruk pikuk tanah lahir berbuah getir
Pada sebuah kumuh kecil di tepian Sunda Kelapa
Sesak nafas si tua beranjak pikun
Menelan asam tanpa manisnya
Menenggak serat pati pembangunan kota
Dijamunya aku dengan segelas kopi hitam dicangkir pipih
Tertegun tertawa terbahak berdua
Makmurnya peradaban tak tercermin dari sudut sejarah tertinggalkan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *