Mari Bercerita

https://unsplash.com/photos/B6iHcrsxnKE

Kalo ayas inget setahun ini, dari Januari sampai Desember, ayas belajar banyak dari banyak orang juga. Jangan salah paham dulu, ayas menjalankan protokol kesehatan di tengah pandemi dengan sangat-sangat baik meskipun tetep keluar beberapa kali buat manggung atau buat “berproses” bareng temen. Orang-orang yg banyak tadi lebih ke yg ayas temui sekali doang (sampai detik ini) tapi aktif kontak di WA atau Telegram.

Orang-orang tadi adalah orang-orang yg bertukar pikiran secara unik dengan karakternya sendiri-sendiri via suara (mulut). Kebanyakan, hampir semua, emang via call karena meminimalisir ngumpul di tengah pandemi, cuma beberapa memang one on one. Yang lebih utama dari ketemu langsung adalah proses dimana kami bercerita tentang banyak hal, terkoneksi, berjam-jam dan “nelen” hal baru dari POV orang lain. Beberapa ada yg lebih fokus soal problematika idup, beberapa yg lain lebih ke gimana caranya biar bisa lebih maju dari status mereka saat ini.

Kita adalah produk dari diri kita sendiri, kita adalah garis dari apa yg kita gores. Dimanapun, kapanpun, siapapun, kita adalah apa yg kita tanam, tapi kita juga apa yg kita tabur. Dalam artian, lingkungan mengubah cara pandang kita, pengetahuan memberi barikade antara diri kita dengan lingkungan tadi dengan konteks mengolah informasi dan beraksi atas informasi tersebut. Ga semua bisa hidup dengan nyaman, ga semua hidup nyaman sedari lahir dan akan tetap nyaman selamanya. Kita berproses, kita tumbuh bersamaan dengan waktu.

Cerita-cerita yg nampaknya sederhana, bagi ayas selalu punya core, root, pusat yg paling mendalam dimana hal tersebut punya value. Mau apapun itu, problematika, ego, narsisme, ambisi, impian, renjana dan apapun yg mendasari orang untuk bercerita atas dasar meluapkan “isi” dari pikiran dan perasaannya selalu punya value. Ayas berterimakasih telah bertemu cukup banyak orang baru di tahun ini, baik yg perempuan, pula yg laki. Ayas berterimakasih karena mereka, dekat atau jauhnya, sudah membawa pijakan langkah kaki ini setapak lebih maju, menapak lebih tegas tetapi santai dan kalem.

Teruntuk segala makhluk yg menjadikan 2020 sebagai sebuah panggung pengenalan diri dengan sisi lain hidup via POV orang lain dengan segala naik turun hidupnya, Terima kasih. Semesta menuntun kita diantara hamparan batu dan debu-debu angkasa, Terima kasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *