Pada Segala Juang Sanak Familia

https://unsplash.com/photos/b8rkmfxZjdU

Pasang surut hidup nampaknya bukan sebuah hal yg jarang ditemui di setiap percakapan kita sama orang lain. Terutama mereka yg sadar akan keadaannya, kondisinya, dan tau kalo dia lagi ga baik-baik aja. Bukan berarti dengan “nerimo” alias pasrah terus hidup jadi ga berasa naik turun, tetep berasa. Yang jadi masalah cuma kita mau menjadikan hal tersebut “big deal” atau sebatas “ah yaudahlah ya”. Semua ini persoal perjuangan dari masing-masing individunya. Ga semua orang bisa seyaudahlah kayak gitu. Wajar dan sah-sah aja ketika ada orang yg merasa dia lagi naik tau-tau ga lama cuma dalam hitungan hari atau bahkan jam langsung terjun jatuh bebas tenggelam ke dasar lautan. Post ini dikhususkan kepada segala sanak familia non kandung, orang-orang yg ditemui seenggaknya dalam 15 tahun terakhir.

Ada kala dimana kita, berbuat bodoh, bukan karena kita ga pinter, tapi karena kita males berusaha dengan cara yg lain, atau kita ga punya cukup support dari lingkungan disekitar, atau bahkan kita cuma salah pemikiran dan main terobos aja. Ada kala dimana kita merasa apa yg kita pijaki sekarang ini sebatas “lucky chance”, yg bahkan kalo disuruh jelasin kitanya juga ga paham kenapa bisa survive sampai di titik ini. Tapi, ada korelasi antara ketidakpahaman dengan kenyataan bahwa kita tetap hidup-hidup aja meski gatau kenapa. Semua ada di sebuah momentum yg disebut “Proses”. Beberapa dari kita sama sekali ga sadar bahwa setiap waktu, meski kadang bolong-bolong, kita berproses. Kita berproses bersama dengan pengalaman, paksaan, pemikiran, ekspektasi, tuntutan, tanggung jawab dan lain hal dimana semua bermuara di sebuah titik, “progres”.

Jangan salah, proses dan progres bukanlah hal yg sama. Proses adalah apa yg terjadi, progres adalah durasi atau kuantitas yg bisa kita ukur. Kita berproses untuk mencapai garis finish, tapi sampe titik mana kita saat ini, itu masuk lingkupnya progres. Kalau dalam POV relativitas, proses adalah apa yg kita lakukan pada kondisi di titik tertentu, tapi progres adalah output dari apa yg kita lakukan tadi. Kita berproses dengan belajar pemrograman misalnya, progresnya bisa jadi kita paham apa itu OOP, Database, API, algoritma dan struktur data, atau apapun itu yg menunjukkan bahwa kita “berpindah” dari satu titik ke titik yg baru. Perlu dicatat, perpindahan itu tidak ada korelasinya dengan pasti maju / positif, progres mundur itu juga hal yg wajar, apalagi saat kita menempatkannya kedalam sebuah konteks yg terkomparasi dengan hal-hal lain yg juga harus diproses bersamaan / paralel.

Sanak familia yg ayas maksud disini, adalah semua orang yg sempat datang, masih ada, ataupun sudah berjarak, yg pernah berproses bersama baik secara langsung ataupun tidak langsung, sengaja ataupun tidak sengaja tetapi saling sadar bahwa kami berada pada botol yg sama. Dimanapun kalian berada, terjal dan mulusnya hidup ataupun manis kecut pahitnya realita apapun yg kalian alami, mari berproses lebih tegas lagi, lebih tertata, agar kita bisa mencapai progres yg memuaskan, yg menapak maju, bukan mundur. Hidup adalah untuk hidup, nikmatilah hidup ini dengan perjuangan dan hasil panen daripada benih tadi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *