Kepulan Debu Di Udara

Beranjak dewasa adalah sebuah proses yg bisa dilalui untuk orang-orang yg bisa survive dari masa-masa kecil dan masa remaja. Esensi dari sebuah pendewasaan diri adalah ketika kita bisa berkembang dari segala jenis tekanan-tekanan luar dan dalam. Bahwa gravitasi tak sebatas dari bumi, tapi juga dari masing-masing pribadi. Bahwa kita bisa menjadi lebih dari kemarin, dan lusa bisa lebih dahsyat dari saat ini.

Dulu, tiap perjumpaan dengan orang baru sering menjadi sebuah cerita dengan bonus ilmu kehidupan. Di kala itu, ayas ikut sana sini, saling saut, saling sharing, intinya tukar tambah kiat-kiat survive dalam hidup meskipun tidak dijelaskan secara gamblang. Identitas kita terbentuk, mulai dari sebatas obrolan recehan sambil sebat, sampai diskusi berjam-jam karena ada problematika kehidupan yg individual ataupun komunal.

Sekarang, orang-orang berjumpa hanya sebatas berbagi cerita, tanpa ada intisari yg bisa diserap dengan serat-serat makna kata. Seenggaknya untuk ayas saja. Lalu lalang cuma menceritakan karena ingin cerita, tanpa kehadiran sosok, visual, ataupun bekas disana. Apalagi, era pandemi, semua serba virtual. Mau ketemu aja susah, karena masih sadar, ini bukan waktunya buat kumpul-kumpul. Sementara diluar sana, banyak orang-orang yg ga bisa sabar dan keluar main sana sini, padahal mereka sedang tidak melakukan hal yg cukup penting.

Andaikata ayas terjebak di era seperti ini untuk waktu yg lebih lama, ayas bisa merasakan sekat-sekat dalam tiap perbincangan, dalam setiap aksi yg terjadi, dalam setiap narasi. Kita dipaksa untuk berlaku baik, layaknya seorang kawan yg benar-benar CS sekalipun tidak sedekat itu. Semua dengan embel-embel formalitas. Meski garis senioritas blur, tetep aja ada tembok-tembok strata yg bikin masing-masing dari kita merasakan bahaya. Intinya, semua jadi kurang terasa ikhlas.

Nampaknya dalam kurun waktu yg lama, ga akan ada perubahan besar yg bakalan terjadi. Seenggaknya dari analisa gembel yg diobservasi oleh mata sehari-hari. Yang jauh, makin jauh. Yang dekat, terpaksa jauh. Yang belum kenal, memaksakan diri untuk kenalan. Semua berakhir disebuah perpisahan yg entah sementara atau bertahan untuk jangka waktu yg lama.

Ayas, merindukan kepulan debu di udara yg menghiasi celotehan kehidupan kawan-kawan lama…

Dari Rumah, Berjamaah

Terhitung hari ini, udah beberapa hari terlewati di Magelang, dari rumah, tanpa rutinitas pulang pergi Magelang Jogja setiap harinya. Hasil diskusi para petinggi pemerintah membuat semua orang wajib kerja dari rumah, dan ya sudah. Kadang memang hal-hal kayak gini patut dipaksakan biar semua terjaga dan aman. Semua ini kan juga lebih ke pemanfaatan peraturan. Semua serba Work From From.

Gembar gembor pandemi makin hari kian berdampak ngeri. Ga jarang orang malah bikin sensasi via jalan-jalan keluar, bilang aman kok, sehat kok, muda kok, pe kok. Ga ada hal-hal lain mungkin mereka makanya ya hura-hura sambel kosek gitu. Sebisanya tetap mencari pengamanan, via dirumah jangan keluar.

Sebenernya bagus aja bisa berdiam dirumah dan fokus kerja. Hanya aja, ini bikin ayas merasakan sekat, jadi kurang dekat. Biasanya bisa sambil ngecengin, ngobrol, atau sebatas say hi. Sekarang-sekarang ini ya jelas engga. Semua jadi punya dunianya sendiri. Itu berlaku bagi mereka yg menikmati jarak ya. Bagi yg ga terbiasa, ayas yakin psikis mereka meronta. Merongrong tajam mengaum kencang buat lekas kelar ini pandemi.

Semua berharap berinteraksi secara normal, tanpa menyentuh…

Tapi, apa hal ini bakalan tetep berlangsung terjadi? Mari kita liat beberapa bulan lagi…

Jauhisasi

Persuasif dalam lihainya memainkan suasana
Kita terbawa pada jarak
Pada bentang luas selat
Pada terbang dan apungnya medium

Dari barat laut kabar tersiar
Gempar menampar
Hingar Berbingar
Dan semua menjauh tersebar

Kita bicarakan pada malam yang hampir pagi
Menjerumuskan biasa jadi kecam mencekam
Menafsirkan tangguh dan patuh saling silang
Diakhiri tunduk agar tak batuk

Aku tetap berpangkal di lingkup sini
Dan kau,
Canduku yang bukan berasal dari tembakau,
Berlabuh kencang ke tanah seberang
Ke kota labuhan bersama mama
Menjalin nostalgia ibu dan anak

Nanti, sekiranya sehat berangsur kembali
Regulasi wajibnya tak seketat ini
Sementara tertunda dalam jumpa
Jauhisasi kita nikmati terpaksa

February, 2020

Gelombang Kawula Tua

Tentang sebuah memori yg tersendat di masa lalu, kadang kita ga sadar terbawa untuk bernostalgia. Biasanya ini terjadi kalo ada momentum yg pas, yg men-trigger sebuah rasa lama, gila ga tuh. Kebetulan juga, akhir-akhir ini, ayas sedang merasakan Gelombang Kawula Tua.

Gelombang ini sebenernya simple, hanya bak kita ke-trigger suasana tempo dulu entah itu masa kecil, remaja atau pas lagi kampret-kampretnya. Kenapa disebut kawula tua? Ya karena ayas udah ga muda lah itungannya tapi ga sebegitu tua juga kan, productive stage lah kasarannya. Gelombang ini ga cuman dikasih taburan dari apa yg kita rasakan sekarang, tapi visualisasi dari keadaan kita kala itu. Ambil contoh nih, lagunya Rancid, Time Bomb dan Ruby Soho, ketika lagu itu keputer di youtube, seketika ayas terbawa ke masa kelas 2 dan 3 SD, masa-masa awal kenal musik punk dengan segala tetek bengek kaset pita plus tape recorder kala itu. Ya, ayas kenal musik di era masih Kaset Tape dan Kaset CD, mungkin ada piranti lain waktu itu, tapi karena punyanya cuman Tape dan VCD ya intinya berputar dikisaran itulah.

Dulu, kala kampung halaman ini masih banyak tempat rimbun nan segar, kali masih cukup berisik dan agak jernih, rumah belom makan tempat saling himpit sok kenal, ayas menikmati masa kecil (SD) dengan musik-musik Punk, Rock, Blues, Ska, Pop 2000, Heavy Metal, Rockabilly dan tentusaja Country begitupun dengan subgenre lain yg ga jauh-jauh dari itu lah ya. Jaman itu masih banyak kanal radio, bahkan dulu saking minimnya piranti elektronik, hiburannya ya Radio, Tape, VCD, kadang TV, udah. Jaman itu HP belom begitu marak, ya gimana HP 500 rebu pulsanya 1 juta, bukan ranah kami lah waktu itu. Tahun-tahun itu mungkin sekitar 2002 – 2004 lah ya, bermunculan musik-musik asik yg kalo ga energetic ya bener-bener nampar feeling. Ibaratnya, untuk yg mainstream, Dewa, Peterpan, Tipe-X, Slank, Edane, Jamrud dkk itu muncul mulu di radio, atau diputer di tukang-tukang jualan kaset era itu. Sementara untuk skena indie kebanyakan pada hijrah ke MTV atau kaset-kaset bajakan radio alias hasil record via tape recorder kayak Endank Soekamti, Shaggy Dog, Superman Is Dead, The Upstairs, Netral, Goodnight Electric, Club Eighties dan jajarannya. Asik mafren!

Berlanjut di kelas 3 SD yg pertama kali belajar gitar kopong, make gitar akustik custom pabrikan gada merek seharga 125 ribu kala itu. Momen ini ayas gunakan untuk ngulik lagu-lagu dari abang-abangan lah ya belajarnya, bukan secara langsung tapi via dengerin. Contoh band-bandnya lebih banyak ke Punk dan Rock sih, kayak Ramones, Rancid, SID, Netral, Endank Soekamti, AC/DC, GnR, Dewa, Scorpion, White Lion, Superglad dan Led Zeppelin. Kebetulan juga era itu abang-abangan yg satu RT itu hampir semua ngeband, mereka kadang juga ikut festival yg sempat satu panggung juga pas SMP lawan mereka yg udah kuliah sekitaran.

Dari hasil ngulik lagu tadi, memori tahun-tahun era 2010 kebawah adalah momen kejayaan dalam menikmati lagu-lagu ciamik sih kalo ayas boleh bilang. Disana ga ada band-band yg terkenal karena tampang doang, apalagi karena sensasi, semua dikenal karena karya dan proses panjang jungkir balik di belantika musik planet Bumi. Bisa jadi karena ngulik lagu yg lebih ke Punk, Rock dan Metal dulu, ditambah Ayah ayas suka muter lagu-lagu GnR, Scorpion, Bon Jovi, Heart, Nike Ardila, Rinto Harahap, Iwan Fals, Chrisye, Deddy Dores, Bill & Brod (lagunya: Madu dan Racun, Singkong dan Keju, dll), semua akumulasi itu membekas sampe sekarang. Ya kebanyakan lagu-lagu itu 90 2000an tapi ada juga yg dibawah 90 alias 80an.

Sedikit banyak ayas belajar dari renungan dan tatapan kosong ke atap kamar, ayas terjebak di Gelombang Kawula Tua, meski tetep mengakui dan menikmati hidup di era modernisasi. Ini cuman sebatas selera seni terutama musik, tulis, dan rupa. Semua juga ada unsur ayah ayas yg di tempat kerjanya dulu juga buka club malam gitu beralih fungsi tergantung jam. Isinya ya lagu-lagu joged kala itu cuman mungkin karena isinya kebanyakan musik instrument / pattern dan minim lirik makanya kurang inget. Hal itu juga yg membawa ayas ngulik lagu-lagu lawas termasuk nimbrung di tiap acara wawancara, musik performance, atau apapun itu yg berhubungan dengan era-era lawas tadi, ketemulah Ngobryls nya Jimi Malau yg kebetulan bahas musik dengan kadang bawa kita ke masa era kejayaan itu pula, thank you mafren.

Nanti, entah kapan, kalo jadi, ayas bakalan ikut berpartisipasi bikin gelombang ini merajai lagi di sini, biar musiknya ga absurd gajelas kayak sekarang. Lame!

Tahun Baru, Panggung Baru?

Hello, mafren.

Terhitung sejak post ini dibuat, ya, agak telat, 2 Januari 2020, banyak banget orang mulai ngasih tau resolusi-resolusi mereka diluar sana. Beberapa majang di instastory, dijadiin highlight, ada juga yg masang di status twitter, di pinned, dan ga jarang yg ngepost video itu di kanal youtube. Ga bisa dipungkiri sih, budaya bikin resolusi kayak gini udah cukup lama ada, seenggaknya sejak jaman facebook masih digandrungi banget dulu, awal-awal tapi ya. Tapi, setelah ditengok kebelakang, sebenernya resolusi ini ga beda dari “new year wishes” yg ada di mig33 (jadul), friendster, ataupun mywapblog dulu. Bedanya di nama doang.

Jadi, singkat cerita, ada beberapa temen yg bikin list 10 resolusi 2020 bulan Januari ini. Kebanyakan dari mereka sih intinya nulis soal bakalan lebih sukses di karir sama married atau dapat calon married. Secara umur mereka juga ga muda sih, tapi, masih bisa lah dibilang “belom saatnya” kalo soal urusan married tadi. Nah, ada salah satu temen yg ga begitu deket nyeletuk nih. Katanya, dia bakalan bikin gebrakan baru, yg mana temen-temen sejawatnya (tua lagi) belom pernah ngelakuin. Alhasil, ayas ikutin dah kemana dia mau bawa tuh “gebrakan” sebenernya.

Kebetulan, si kawan yg penggebrak tadi, punya planning buat bikin semacam pergerakan, underground, dalam hal seni rupa. Kurang lebih doi pengen menyampaikan keresahan dan sedikit dendam ke orang-orang yg doi anggap terlalu sok asik dalam hidup. Poin utamanya sih, orang-orang yg otaknya ga logis. Well, ayas ngerasa ini sebuah momentum yg bagus nih. Karena ayas juga sebisa mungkin menjejali pelan-pelan rationalitas ke kehidupan sehari-hari, bahkan ke obrolan yg ya ga sebegitu masuk buat bawa rational kesana. Tapi, itu perlu, karena rational dan logis harus beriringan ada di / jadi standar kesadaran manusia. Hal ini bakalan berdampak pada pola hidup, pola pikir dan pola asuh baik itu ngasuh anak, ngasuh masyarakat, ataupun ngasuh ego diri sendiri. Sayangnya, ayas ga bisa dan ga mumpuni di bidang seni rupa (lukis, gambar, desain dkk). Alhasil ayas kontribusi di project si penggebrak ini via seni tulis (sajak dan lirik). Kebetulan beberapa karya ada yg di post di IG, tapi ga bakalan semua taroh sana, karena bukan pasarnya dan bukan ranahnya. Bahaya nanti kalo tulisan-tulisan kayak gitu ditaroh diatas permukaan tanah, ambyar!

Singkat cerita lagi, anak-anak band punk rock ayas, ikut-ikutan juga. Mungkin mereka mikir ini jalurnya sama, mungkin. Selang beberapa minggu, makin tambah gede nih pergerakan, meski tetep underground. Lucunya adalah, prediksi kami yg bakalan jadi boomerang negatif karena terlalu vulgar dan brutal dan tabu, malah direspon positif sama lumayan banyak orang, seenggkanya mereka yg sejalan atau hampir ga berseberangan laju.

Semua itu berjalan mulus kayak mukanya Ariel Tatum, sampe akhirnya ada news soal Corona atau virus dari Cina. So far, belom nyampe Indonesia sih, kayaknya. Cuma, desas desus buah bibir anak-anak tongkrongan kerasa kayak ini gelombang penyakit bakalan ke indo dalam waktu dekat. Entah kapan itu, yg pasti ini dari testimoni keliatan cukup ngeri, makanya bisa-bisa jadi penghambat pergerakan.

Pergerakannya apa itu? Terus apa hubungannya sama “panggung” di judul post? Well, panggung disini maksudnya tempat / wadah untuk berseni. Setelah cukup lama vakum dari seni yg menampar karena sibuk cari cuan di seni yg merakyat, alias seni jualan, akhirnya bisa dapet momentum dan panggung lagi. Tapi, ini masih awalan sih, entah deh besok kedepannya gimana. Cuma, ketika ada gerakan di air yg tenang, gelombangnya bisa tetep keliatan meski dari jauh kan?

Prolog

Pada setiap karya tulis, biasanya terdapat kalimat pembuka kan tuh, disebutnya prolog. Disini ayas sih maksudnya sebatas say hi sama pembaca (kalo ada).

Berbeda dengan sub site lain, khusus di Jurnal bakalan dibahas dengan santai. Make bahasa sangat non formal lah ya, atau campuran. Ya bisa dibilang versi tidak kolotnya site-siteku yang lain. Apalagi ini lebih ke blog yang emang blog doang, buat corat-coret, kali aja ada kepikiran apa gitu. Tapi tentu, kayak blog yg udah pernah dideactivate dulu, disini bakalan lebih ke bahas hasil observasi sih. Disclaimer aja sih, jangan dianggap serius yg ayas tulis disini, entar situ malah ke-distract mikir yg engga.

Blog ini sebenernya udah dibikin dari 2019, ya ini sekitar pertengahan bulan Desember 2019 lah. Cuman ya gitu, masih versi local baru di deploy pertengahan 2020. Mumpung tahun 2020 juga lebih banyak dirumah ketimbang keluar-keluar ye ga ye.

Jadi, selamat datang di sisi tertulis seorang Hernanda Cahyo. Tulisan-tulisan yg ga penting juga sih buat kalian, tapi cukup penting buat ayas pribadi karena menyalurkan observasi, ngeluarin uneg-uneg, plus buang semua hujatan dah tuh dimari.

Baek-baek, be straight forward.