Pemberhentian Terakhir

Narasi pada tiap tulisan-tulisan kuno yg membahas tentang hidup kedua, atau hidup setelah mati, sangatlah bervariasi. Pada suatu masa, di musim kata-kata mengalahkan logika, ada sabda. Kadang kita terbawa pada cerita klise. Otak jadi terbiasa menerima dan mengamini segala sesuatu yg mayoritas katakan, atau sepakati. Hal ini ga jauh dari sebuah padanan kata, bahwa privileged people tends to have more trusted words, either it’s fact or fiction. Nyatanya semua akan tiba di pemberhentian terakhir.

Ayas mencoba menggambarkan sebuah masa dimana orang-orang mulai merenung. Mereka kian hari kian berkonflik dengan hati mereka sendiri-sendiri. Ibaratnya hewan yg terbiasa makan daun, sekarang jadi karnivora. Berubah drastis dan berbeda destinasi! Naluri akan kembali kepada titik awal, titik dimana bertahan hidup jauh lebih baik ketimbang berpikir rasional. Semua akan terfokus soal hidup, bukan soal mati. Momentum itulah yg membawa segala bentuk makhluk hidup benar-benar menikmati hidup. Semua kembali pada pola yg diberikan tanda alam semesta.

Pemberhentian terakhir adalah sebuah untaian singkat dari sebegitu panjangnya proses kehidupan. Ujung-ujungnya, kita akan berada pada puncak titik, atau akhir garis. Diluar dari frame yg pernah dilalui ataupun kita ketahui, tak ada yg tahu. Semua ibarat hal-hal yg bisa jadi tak kasat mata, bahkan tak mempan dalam logika. Tapi, semua masih tercakup pada probabilitas, pada kemungkinan-kemungkinan yg belum tentu jadi kebenaran. Kenikmatan dari meragu karena ketidakpastian itulah yg membuat kita merasakan hidup ga sebegitu monoton.

Dengan semangat bergelora masih bermodal nada-nada sederhana, ayas membuat sebuah karya kecil. Musik dengan balutan lirik ini menceritakan tentang Kita, makhluk hidup, manusia, kembali memahami pola singkat dalam hidup. Mencoba bertahan agar tetap bisa menikmati hal-hal yg jauh lebih pasti ketimbang apapun itu yg berada setelah mati. Sekian jumpa dan pergi, beberapa tafsir makna dan mimpi, akan meragu. Mereka berkomplot menjadi solid, menunggu kelabu. Menantikan hari-hari yg penuh dengan kelam tanpa cerahnya langit biru. Goresan sederhana itu ayas rangkum dalam lagu Pemberhentian Terakhir.

Dan naluri kian kembali
Bersatu dengan delusi
Dan mimpimu kian meragu
Menanti hari kelabu
Mengharapkan kehidupan setelah kematian...

Penggalan diatas adalah bait-bait awal, pembuka, pengiring kepada sabda buatan sendiri. Dengan maksud membawa pendengar menikmati ragunya, ayas mencoba memberi ruang agar hal ini ga jadi sebatas pengalaman ayas aja. Untuk lagunya ya nanti, masih ada cukup banyak waktu untuk moles sebuah karya jadi lebih bagus. Presisi adalah kunci, sampai bertemu di Pemberhentian Terakhir.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *