Durasi Bukan Batas Seni

hernanda cahyo

Ayas kerap kali menulis bahwa seni ga boleh dibatasi. Seni adalah hal yg memang selayaknya dibiarkan merdeka, bahkan tanpa ada aturan-aturan apapun didalamnya. Hal ini termasuk jangan masukkan hukum politik ke ranah seni sekalipun seni bisa digunakan untuk hukum dan politik. Yang jadi tolak ukur sekarang, bagi para seniman yg baru muncul, adalah durasi. Kenapa kok jadi durasi? Karena akhir-akhir ini, terutama pandemi, seni makin hari makin diminati via media sosial.

Barangkali kita tahu kalo Youtube, IG story, IG TV, twitter, facebook dll bisa digunakan untuk media penyebaran karya. Mau itu tertulis, audio, visual, audio visual, gambar dan lainnya. Bahkan ga jarang ditemui seniman-seniman ini membuka gerbang via virtual secara full. Terlepas mereka menamakan diri sebagai creator atau bukan, karya tetaplah karya dari penciptanya.

Platform digital membawa angin segar ibaratnya ke industri hiburan dan seniman. Patut digaris bawahi, seni bukan berarti hiburan. Di IG story, dengan max 15 detik per story atau 1 menit per post slide, seniman tadi acap mengakali dengan meringkas konten. Ga jarang ada orang yg mendedikasikan karya mereka bisa muat untuk 60 detik saja, bahkan ada yg 15 detik. Mau itu cover lagu, lagu original, short video, monolog, dll yg berhubungan dengan durasi. Showcase mereka punya durasi, tapi karya mereka tidak sedang dibatasi.

Durasi hanyalah sebuah kesepakatan bahwa sebuah karya bisa punya kesempatan untuk ditampilkan “cerita / pesannya” pada suatu waktu. Terlepas penonton bisa menonton ulang terus-terusan, kontennya tetap akan berada didalam koridor durasi tadi. Ibarat kita nonton film 2 jam, mau kita ulang berapa kalipun, konten filmnya akan tetap sama, terangkum di 2 jam tersebut. Yang jadi pembeda ya tentu di social media lebih pendek, 15 detik, 60 detik, 3 menit, dll.

Durasi lagaknya sebagai sebuah tantangan sekaligus peluang, toh pameran tidak selalu dibuka 24 jam, 7 hari seminggu. Cara seniman mengemas konten yg ia punya dalam sebuah karya cipta merupakan sebuah jalur tersendiri. Jalur yg dikhususkan untuk mereka yg menikmati kompresi meskipun ga salah juga ketika seniman tadi mau untuk tetap full durasi terpotong-potong. Semua persoal selera, semua persoal esensi dan estetika.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *