Sepotong Syair Tersiar

https://unsplash.com/photos/nwWUBsW6ud4

Beberapa hari kebelakang ini, mungkin ayas sedikit mengeksplorasi tentang kenapa sih ayas dengan senangnya dalam hati membuka diri buat mengakui kalo ayas punya POV yg berbeda ketimbang beberapa sanak kolega. POV ini termasuk dari segi apa yg ayas percaya. Sebelum lebih lanjut, ayas pastikan ayas ga akan secara gamblang menulis apa yg ayas tujukan di sebuah tulisan yg bisa diakses khalayak ramai kayak gini, ayas lebih menikmati jalur private ketika ngebahas hal ini. Tapi, ayas coba analogikan beberapa poin penting yg membuat ayas, menjadi ayas.

Ga bisa dipungkiri, style dan selera musik / seni ayas emang tua, ayas masih ngulik lagu-lagunya AC/DC, masih menikmati swingnya Frank Sinatra dan Dean Martin, masih singalong sama lagu-lagunya The Ink Spot, masih suka dengerin nyanyiannya Tante Lien alias Wieteke Van Dort apalagi yg Halo Bandoeng (ngeri ini). Tapi dibalik selera fashion dan seni yg lawas dan tua, ayas berpikiran ke depan, ayas ga terpaku pada adat-adat usang. Garis bawahi kata adat-adat usang. Adat ini adalah apa yg diturun temurunkan, dari kakek, nenek, ayah ibu, dan leluhur terdahulu. Kalo ditanya kapan melakukan ini itu kayak ortu dulu, ayas dengan senang hati bilang ah udah ga pernah, kemungkinan besar ga akan pernah lagi. Jangan salah, ayas lahir di lingkungan yg kental dengan kepercayaan, meskipun makin kesini makin fleksibel, jaman kecil dan remaja dulu, semua serba kepercayaan, kepercayaan, kepercayaan. Ayas sempat menulis kayaknya di platform lain beberapa tahun yg lalu, semesta tidak peduli dengan apapun yg kita yakini.

Benar aja kan, kalo ayas pikir-pikir lagi, apasih yg semesta mau dari kita itu? Ada yg tau? Ada yg pernah bisa menerka kira-kira kenapa sih orang-orang berteriak soal keadilan sementara dunia ga pernah memberikan sumber daya secara adil. Maksudnya gini, orang yg lahir di negara A, kaya akan minyak, dia kerjaannya minyak semua dari tukang ngebor sampai yg punya kilang minyaknya. Toh tetap, dari sumber yg mahal, si tukang ngebor tadi tidak semerdeka yg punya kilang minyaknya. Bandingkan dia dengan orang di negara B yg isinya konflik semua ga punya minyak ga ada sumber daya alam yg bagus, pekerjaan pun ga ada, mereka makan dari sisa-sisa ladang yg bisa ditanami tanaman pokok. Mereka ga punya privilege yg sama dengan si tukang bor, yg kemungkinan masih bisa beli TV, punya internet atau minimal menyekolahkan anak-anaknya di area yg lebih aman dan nyaman. Bandingkan lagi dengan perempuan-perempuan di negara C, yg selalu dipaksa tertutup, ga boleh keluar malam, ga boleh ini itu dan diwajibkan di dapur dan di kamar, ada! Lalu lantas sisi adilnya dimana? Dunia bukan tempat bagi kita untuk meminta keadilan, dunia adalah panggung bagi setiap individu untuk memperjuangkan keadilan versi mereka sendiri demi mendapatkan hidup yg cukup nyaman dan aman. Semua soal survival.

Masing-masing dari kita merasa takut buat ga mendapatkan haknya, sementara kita sendiri masih mengedepankan ego dalam memilih hak-hak apa saja yg bisa kita peroleh. Kita adalah agen daripada diri kita sendiri, kita adalah makhluk yg memang pada dasarnya tamak dan ingin menjadi titik poros perputaran dunia. Semua tentang kita, dan hanya kita. Sifat dasar inilah yg membuat orang jaman dulu, takut. Mereka merasa harus menemukan sebuah cara, dimana ego daripada orang-orang lain tersebut bisa dikendalikan, bisa tertata, bisa diatur secara hukum. Tapi, mereka ga bisa serta merta bilang “Eh ini kamu harus begini, karena kalo begitu kamu nanti aku hukum” Ya kalo gitu sebelum mereka kelar ngomong udah abis duluan dipukulin satu kampung. Dia mencoba menguasai attitude orang lain dengan membawa nama diri sendiri, sebuah narsisme yg kelewat absurd bukan?

Kalau benar kita ga bisa mengatur orang lain karena masing-masing punya ego dan punya keberanian untuk memberontak, lantas apa yg orang jaman dulu bikin biar bisa mengatur orang lain sesuai kehendaknya tapi meminimalisir konflik yg ada? Jawabannya simple, buat sebuah klaim yg sangat membingungkan, tapi memberikan hadiah dan berisi hukuman bagi yg melanggar, klaim ini harus berasal dari sebuah hal yg ajaib dan menakjubkan. Sebuah entitas tinggi yg melebihi logika manusia jaman itu. Sebuah konsep dimana kamu akan menjadi baik, suci dan tinggi, dan akan menerima kenikmatan melimpah nanti KALAU kamu mengikuti apa yg aku bilang sesuai apa yg entitas ini bisikkan di telingaku, tanpa pamrih, tanpa tanya, tanpa pikir panjang. Menarik bukan? Orang mana yg ga doyan hadiah? Apalagi kalo embel-embelnya hadiah ini diberi oleh sesuatu yg sangat besar, sangat kuat, yg menjadi awal dari sebuah sesuatu dan menjadi akhir daripada segalanya. Kamu bakalan dapet hadiah dari sesuatu yg sangat mencintai kamu, menyayangi kamu sebagai bagian dari dia, melindungi kamu, mendengarkan keluh kesahmu, menjaga kamu disaat kamu sakit, mengasihi kamu sampai kapanpun, dia sangat mencintai kamu sampai-sampai dia bisa ada dimanapun kamu berada, dia tau apa yg kamu mau bahkan sebelum kamu meminta. Sungguh luar biasa bukan?

Bukankah indah jika ada sesuatu yg sangat mencintai kamu segitunya? Tapi ingat, syarat dan ketentuan berlaku, kamu ga boleh melakukan apa yg ga dia suka, kamu wajib melakukan apapun yg dia mau, atau kamu bakalan diseret, digantung dan dijatuhkan kepada sebuah liang penuh bara api, yg berceceran lahar panas yg bakalan bikin kulit kamu kering terbakar dan mengelupas, yg akan menghujami kamu dengan anak panah, batu tajam, bilah pisau, memenggal lidahmu, mengkoyakkan isi badanmu, menginjak kepalamu dan menusuk rongga-rongga dadamu, mencabik-cabik dagingmu dan mencambuk organ vitalmu, mengangkatmu tinggi ke atas langit dan menghempaskan badanmu ke permukaan duri-duri beracun sampai badanmu penuh nanah dan terpecah belah. SEMUA KARENA DIA SAYANG KAMU DAN DIA ADALAH SESUATU YG PASTI BAIK. Sebuah kasih sayang yg dilandasi oleh paksaan dan hukuman bagi ayas adalah hal konyol, lebih konyol lagi ya yang mau.

Ayas ga tega menulis paragraf diatas sebetulnya, tapi ayas merasa memang benar demikian, kita ga perlu jadi pinter buat tau dan paham apasih maksud dari tulisan-tulisan yg tertuang di buku kuno itu, bahkan ketika dipaksa “itu kan cuma perumpamaan”, tetap aja penyiksaan atas dasar hukuman tadi sadar tidak sadar, suka tidak suka, membuat siapaun yg sedari kecil dicekoki aturan-aturan tersebut untuk TAKUT. Alih-alih mereka sepakat menjadi baik, mereka malah fokus untuk tidak tersiksa nantinya. Mereka menjadi produk adat usang yg menarget jiwa-jiwa tak tenang, jiwa-jiwa yg tidak bisa berkawan dengan kenyataan. Jiwa-jiwa tadi adalah sasaran empuk, yg kebetulan mendarah daging, mengendap disetiap lekukan otak anak, cucu, dan cicitnya. Dipaksakan oleh khalayak ramai untuk dipercaya atas dasar kepedulian? Bagi ayas, ketika ayas dipaksa menjadi baik, ayas merasakan bahwa ayas sebenarnya dikekang, bahkan ketika ayas mencoba membebaskan diri, stigma akan hukuman dikala nanti masih akan terngiang-ngiang sekalipun ayas pastikan ayas ga bisa membuktikan apakah hukuman tersebut ada, termasuk apakah beliau juga merupakan sebuah fakta.

Orang jaman dulu mungkin bisa termakan oleh syair yg tersiar dengan tatanan kosakata penuh makna dan mutiara, tapi ayas bisa lihat makin kesini, segalanya semakin tidak relevan, dan ayas ga sendirian. Ketika ayas meng-klaim, Ayas punya mobil yg rodanya 20 tapi jalannya didalam air, sekuat apapun kamu percaya klaim ayas tadi, ga menjadikan mobil dengan 20 roda milik ayas tadi benar-benar ada! Pertama, ayas ga punya mobil dengan roda 20, apalagi mobil yg jalannya didalem air. Satu-satunya cara untuk menunjukkan realita yg sebenarnya adalah, ya ayas harus nunjukkin ke kamu kalo mobil itu emang ada dan bener-bener bisa jalan di air. Simple kan? Keyakinan kamu soal klaim ayas ga relevan dengan kenyataan. Mau kamu ga percayapun, faktanya tetap ga akan berubah. Alih-alih dibilang hebat, klaim ayas di era modern kayak gini malah bisa dibilang gila, terbukti itu sudah berapa banyak orang yg bikin aliran baru dicemooh satu planet, apakabar tetua jaman dulu yg “moon maap nih” nyoba ngetweet komat kamitnya di jaman sekarang, zonk! Ayas memimpikan semua orang bisa berpikir setidaknya sedikit lebih rasional ketimbang submissive iya iya aja ketika ada sesepuh / orang penting yg mengklaim sesuatu. Bung, semua manusia punya cacat, dan circular logic ga kan membantu mereka untuk membuktikan sesuatu yg memang selama ini ga terbukti. Bahkan ketika ayas bikin klaim itu dalam bentuk buku, 2000 tahun lagi, orang debat apakah ayas punya mobil 20 roda jalan di air ga akan ada bisa buktiin, karena emang ga ada barangnya, sekalipun buku ayas sendiri yg menunjukkan kepemilikan barang tadi dalam bentuk tulisan.

Tidak ada kebenaran yg pasti, tapi kita bisa mencari tau kebeneran yg lebih mendekati dengan kenyataan dengan bertanya dan meriset fakta, keluar dari zona iya iya aja dan mulailah berjibaku membasmi tabu. Buka matamu, sebelum ia selamanya tertutup.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *