Perihal Perih dan Parah

Terhitung akhir Februari ini, ayas menemukan sesosok kawan baru yg ga bisa disebut namanya, kawan yg nampaknya udah tau agak lama cuma baru inget kalo kami pernah satu lingkungan pergaulan. Biasa, karena mungkin terlalu asik dan fokus berkomunikasi dengan orang lain sampai detail-detail diluar konteks kurang dipahami dengan lebih seksama. Doi adalah sama, anak UB juga, alumni lah ya. Kebetulan kami satu grup Line di second account dulu, akun yg cuman buat testing aja. Ternyata dia masih aktif update, ayas kebetulan liat postingannya dan mencoba komen, meski ga kenal dan ga inget kapan saling add-nya.

Doi bikin postingan mini dengan nada satir yg menarik: “Ketika muda dulu, aku nyoba buat ngejar mimpi, pas udah tua kayak sekarang ini, mimpi ini malah yg ngerjain diriku sendiri.” Ayas tertarik untuk komen ngasal, “Iyasih, menua dan hidup di kaki sendiri emang nikmatnya beda kayak pas masih bisa leha-leha sambil TA (titip absen kelas)”. Niatnya iseng, doi malah ngechat, kemungkinan besar kami ini pernah ngobrol tapi lupa aja kapan dan ngapain gitu. Dia buka chatnya dengan sebuah kalimat yg udah sangat jarang ayas temuin semenjak cabut dari Malang, “Yo opo Yo, isih nde Malang a?”. Waduh, itu kosakata ngalam mania dengan logat jatimnya yg bernuansa beda. Makin yakin ini orang udah pernah ngobrol tapi ga diinget.

Ayas selalu makin berani buat ngomong to the point aja sama orang lain bahkan yg baru kenal, ayas bilang terus terang aja soal kondisi dan situasi yg terjadi, toh mikirnya informasi yg ayas beri ga ada dampak negatifnya ke diri sendiri. Chat panjang, dan sampailah kepada titik dimana ayas kembali ke mode normal, mode dimana lebih doyan ngobrol make mulut ketimbang ngetik, ya call. Untungnya doi juga lagi gabut dan ada pikiran makanya diiyain aja. Udah hampir satu setengah tahun mungkin ayas ga pernah make Line, nyoba lagi dan emang feelnya ga seasik dulu, tapi kali ini nyoba buat menggunakan fitur yg dulu sering banget ayas pake, Freecall / FC sekalian cari temen ngobrol.

Rupa-rupanya doi ini pernah satu kepanitiaan, beda divisi, ya kepanitiaan salah satu dari sekian banyak kepanitiaan yg ayas ikutin lah ya. Tapi doi lebih minat buat ngebahas status tadi, tentang Dikerjain Mimpi. Dengan gamblang dan semangat 45 doi ngomong panjang lebar soal keluh kesahnya sehabis punya kerjaan sendiri yg juga salah satu dari hobi, doi adalah seorang Graphic Illustrator, kerjaannya bikin ilustrasi tapi bentuk vector, pekerjaan yg doi kejar meskipun lulusan Fakultas Teknologi Pangan. Di sini ayas menerima info-info menarik nan membuka wawasan, sebuah hal yg ga ayas duga akan berasal dari seorang kawan lama yg ayas sendiri bisa-bisanya lupa. Dia nyeritain tentang kerjaannya yg serba tertekan, penuh dengan paksaan, ga ada bebas-bebasnya, padahal seni. Dia mati-matian belajar bikin ilustrasi dan desain grafis, ikutin course yg berbau DKV dan semacamnya demi nyalurin hobi dia, design dan ngegambar. Sayangnya, hal yg dia dapet dikantornya itu sebatas kayak tukang setting, dia ga menciptakan ilustrasi sesuai apa yg dia mau, dia harus nurut ke siapapun yg ngebayar dia. Namanya juga jualan jasa mau seni ataupun ngga, kebanyakan clientnya lah yg pasti bakalan minta ini itu disesuaikan meskipun mereka ga sebegitu paham teknikal ataupun segi artistiknya.

Dia cerita perihal perih dan parahnya menjadi orang yg bekerja di bidang desain dan ilustrasi di negeri sendiri. Ga jauh beda kayak orang yg jualan jasa bikin website, serba nurut dan kurang berkembang kreativitasnya karena tuntutan si pemberi cuan. Dia banting setir dari kerjaan yg bisa bikin dia lebih cepat kaya, kalopun itu yg dia cari, ke pekerjaan yg memang dia minati, awalnya. Dia buang kesempatan buat jadi seseorang yg lebih jadi, demi sesuatu yg dia pegang. Ayas malah menikmati kegigihan doi yg merelakan hal-hal yg ga dia sukain tadi meski lebih menguntungkan demi sebuah prinsip. Tapi dia keliatan agak menyesal emang, ayas tau dia pasti merasa kurang dihargai, wajar.

Belajar dengan tidak sengaja dari seorang kawan lama seperti inilah yg ingin ayas coba lakukan kembali. Kali-kali ada kawan lama ayas yg bisa diajak ngobrol lebih asik dan lebih blak-blakan kayak doi. Syukur-syukur bisa diajak sharing dan diskusi. Emang sih, kebanyakan udah pada sibuk, bukan antara ayas dengan mereka aja, tapi antara mereka dengan orang yg paling dekat dengan mereka sendiripun juga sudah saling tersekat kesibukan. Tapi, apakah proses pertemanan juga akan menjadi perih dan parah selayaknya bekerja untuk orang? Ayas rasa tidak, semua tergantung siap atau ngganya kita meluangkan waktu, memberikan ruang untuk menjamu sosok-sosok lama yg pernah bersliweran di sela-sela narasi kehidupan.

Mendobrak Monoton

Esok udah Februari aja, sebulan berasa sangat cepat, tanpa satu hal yg menahan sebentar untuk menikmati hari-hari. Pagi ke malam ke pagi lagi. Ayas merasakan segelintir kisah klasik rutinitas yg sejatinya ampas. Ya, ayas emang bukan orang yg bisa nyaman melakukan hal yg sama diulang-ulang. Ayas bisa konsisten untuk beberapa saat melakukan hal yg sama, beberapa hari mungkin, tapi setelahnya jenuh dan enggan buat bilang “Fine”. Monoton membunuh pikiran, mengaburkan kenikmatan dari setiap perbuatan dan pencapaian. Ayas butuh sesuatu yg sangat baru.

Januari ini, lumayanlah ada yg bisa dihasilkan dari banyak segi. Kalo soal kerjaan, kelar. Kalo soal seni, ada yg jadi karya beberapa. Tapi soal hal lain yg selalu bikin “kosong” rongga-rongga dada, belum terpenuhi. Ayas menemukan diri sendiri pada sebuah monoton yg kelewat rutin. Pola yg sama diteruskan berhari-hari, berminggu-minggu. Ayas bosan, sangat! Bosan bukan berarti tidak punya sesuatu untuk dikerjakan, ngga ngga, ayas punya banyak yg perlu dikerjakan, tapi karena sama atau mirip dan itu-itu lagi, bosan!

Demi meneruskan kesehatan pikiran di masa dimana ga bisa asik dan santai kemana-mana, ayas mencoba membuka achievement baru. Alakadarnya aja, yg penting ada sesuatu yg baru. Mulai dari hal konyol sampai hal paling rumit ayas lakukan. Hasilnya? Masih kosong. Biasanya ayas bisa sambil tipis-tipis belajar tech stack baru dikala bosan, tapi sekarang feelnya kayak menggandakan kerjaan kalo habis full ngoding pas kelar ngoding lagi. Ayas butuh sesuatu yg beda yg ga ada sangkut pautnya dengan dunia app / web development.

Usut punya usut, ada yg namanya studio nganggur, ya karena memang pandemi ga ada yg make, sepi. Ayas berkenalan dengan beberapa orang yg punya studio tadi, di pinggiran Magelang. Ga jauhlah dari rumah meski rumah di tengah kota, dan yg penting aman, tempatnya sepi area sepi penghuninya minim. Karena lama ga megang drum, ayas ada keinginan buat sekali lagi nyoba main sambil berajar. O tentu aja, Rockabluesy dan Freeman Syndicate ga ada di daerah ini. Makanya ayas cari temen baru. Kebetulan malah yg punya studionya yg iba… Ngga ngga, maksudnya mereka gabut juga makanya jamming lah dengan frekuensi seadanya. Untungnya mereka banyak tau musik-musik lama, ya kayak Rolling Stones, Deep Purple dan Social D mereka tau, so se frekuensilah sudah seenggknya buat jamming. Di momen inilah ayas mulai ngelirik sesosok emak-emak pantura. Bukan buat apa-apa, tolong kondisikan asumsinya, tapi doi jago nampar drumnya, mungkin karena sering nampar suami dan anaknya hiyahiya. Ngga ngga, canda.

Emak-emak pantura ini jadi cikal bakal Dosis Ngedubrak Mingguan, sebuah proses main dan mendalami drumming setiap minggu, minimal 2 jam. Toh nyewa studio juga murah, ilmunya ga dimintain mahal, cuma disuruh nraktir makan siang kalo kesana, so why not? Weekend disempatkanlah ya kalo ga lagi pergi keluar, buat sekadar haha hihi juga ga masalah, ini hal baru, masih tetep cuci tangan dan pakai masker. Abis dari studio mandi. Ayas mencoba biar lebih mahir aja sih, karena dari dulu emang doyan kalo ngedrum tuh kayaknya lebih menggebu. Cuman dulu skillnya ya… ya sebatas tau aja lah ya. Makanya sekarang mendalami lebih dalam, buat apa? Semua demi sebuah proses dan progres di bidang seni, khususnya musik. Sebuah alur kehidupan yg ayas pegang dengan teramat sangat.

Pemberhentian Terakhir

Narasi pada tiap tulisan-tulisan kuno yg membahas tentang hidup kedua, atau hidup setelah mati, sangatlah bervariasi. Pada suatu masa, di musim kata-kata mengalahkan logika, ada sabda. Kadang kita terbawa pada cerita klise. Otak jadi terbiasa menerima dan mengamini segala sesuatu yg mayoritas katakan, atau sepakati. Hal ini ga jauh dari sebuah padanan kata, bahwa privileged people tends to have more trusted words, either it’s fact or fiction. Nyatanya semua akan tiba di pemberhentian terakhir.

Ayas mencoba menggambarkan sebuah masa dimana orang-orang mulai merenung. Mereka kian hari kian berkonflik dengan hati mereka sendiri-sendiri. Ibaratnya hewan yg terbiasa makan daun, sekarang jadi karnivora. Berubah drastis dan berbeda destinasi! Naluri akan kembali kepada titik awal, titik dimana bertahan hidup jauh lebih baik ketimbang berpikir rasional. Semua akan terfokus soal hidup, bukan soal mati. Momentum itulah yg membawa segala bentuk makhluk hidup benar-benar menikmati hidup. Semua kembali pada pola yg diberikan tanda alam semesta.

Pemberhentian terakhir adalah sebuah untaian singkat dari sebegitu panjangnya proses kehidupan. Ujung-ujungnya, kita akan berada pada puncak titik, atau akhir garis. Diluar dari frame yg pernah dilalui ataupun kita ketahui, tak ada yg tahu. Semua ibarat hal-hal yg bisa jadi tak kasat mata, bahkan tak mempan dalam logika. Tapi, semua masih tercakup pada probabilitas, pada kemungkinan-kemungkinan yg belum tentu jadi kebenaran. Kenikmatan dari meragu karena ketidakpastian itulah yg membuat kita merasakan hidup ga sebegitu monoton.

Dengan semangat bergelora masih bermodal nada-nada sederhana, ayas membuat sebuah karya kecil. Musik dengan balutan lirik ini menceritakan tentang Kita, makhluk hidup, manusia, kembali memahami pola singkat dalam hidup. Mencoba bertahan agar tetap bisa menikmati hal-hal yg jauh lebih pasti ketimbang apapun itu yg berada setelah mati. Sekian jumpa dan pergi, beberapa tafsir makna dan mimpi, akan meragu. Mereka berkomplot menjadi solid, menunggu kelabu. Menantikan hari-hari yg penuh dengan kelam tanpa cerahnya langit biru. Goresan sederhana itu ayas rangkum dalam lagu Pemberhentian Terakhir.

Dan naluri kian kembali
Bersatu dengan delusi
Dan mimpimu kian meragu
Menanti hari kelabu
Mengharapkan kehidupan setelah kematian...

Penggalan diatas adalah bait-bait awal, pembuka, pengiring kepada sabda buatan sendiri. Dengan maksud membawa pendengar menikmati ragunya, ayas mencoba memberi ruang agar hal ini ga jadi sebatas pengalaman ayas aja. Untuk lagunya ya nanti, masih ada cukup banyak waktu untuk moles sebuah karya jadi lebih bagus. Presisi adalah kunci, sampai bertemu di Pemberhentian Terakhir.

Seni Seorang Pecandu

Bulan Juni 2020, bisa dibilang dari awal bulan sampe hampir kelar Juni, ayas selalu muter lagunya Anda Perdana – Cukup Dalam Hati. Jangan terkecoh, judulnya boleh dibilang kayak lagu cinta, lagu dayu. Coba deh dengerin, bakalan berputar 180 derajat menjadi sebuah lagu keras dengan lirik yg extra pedas. Ini lagu yg ditulis Anda berawal dari kegelisahan doi dengan kehidupannya, kehidupan teman-temannya yg sama-sama pemakai dan peminum. Siapa itu Anda Perdana? Kalo tau lagunya AADC 1 yg Tentang Seorang apalagi yg versi Dian Sastro nyanyi, itu lagu si Anda ini. Tau band Matajiwa? Vokal gitarnya ya bang Anda ini. Pernah denger lagu Menghitung Hari (2) tapi yg nyanyi cowok suara Rock? Ya si Anda ini juga. Tahu Bonita vokalisnya Bonita and The Hus Band? Anda adalah kakak kandung Bonita, anaknya om Koes Hendratmo “Berpacu Dalam Melodi”.

Anda menempatkan dirinya sebagai objek dan subjek di lagu ini. Melucuti kesadarannya sendiri dengan berterus terang, membuka lebar-lebar tirai kusam yg jarang terjamah oleh pendar cahaya. Anda menyampaikan curhatan singkatnya yg ditulis dalam-dalam disebuah lagu berjudul Cukup Dalam Hati, yg mana doi masukin ke album In Medio (2009). Dengan gayanya yg asik dan keliatan always tipsy, Anda berhasil menciptakan sebuah seni yg menampar keras, ga cuma dirinya sendiri, tapi juga orang-orang diluar sana yg frekuensi hidupnya hampir sama dengan Anda. Bahkan, boleh dibilang orang yg jauh dari lingkaran itu, bisa terbawa dengan sebuah narasi penuh fragmen dan perumpamaan.

Bermodal intisari pengalaman kelam idupnya sendiri, Anda Perdana berhasil menciptakan atmosfir dilagu ini terutama ketika Live. Nanti gout kasih link youtube doi feat Bonita di 10 tahun album In Medio, dan rasakan sendiri betapa ngerinya ini lagu. Sebelum lebih jauh, doi ini memang cukup dikenal dengan musik yg bisa dirasa ada imbuhan experimental. Ada Rocknya, ada Popnya, ada Blues dan Jass kadang ada folksnya. Semua diblender jadi satu dah di album In Medio dan album doi di Matajiwa.

Mungkinkah kau akui bahwa dirimu itu seorang anak manja yang mengaku
Dirinya pemberontak
Taukah bahwa dirimu itu hanya seorang pecandu
Dan tak layak 'tuk sepotong cinta yang suci

Sepenggal verse lagu Cukup Dalam Hati karya Anda Perdana diatas, bisa jadi renungan, terutama anak-anak tongkrongan atau orang-orang yg terbiasa menikmati hiburan khas dunia, termasuk Ayas. Bahwa dibalik setiap kenikmatan yg dibagi oleh afeksi komunal, ada hal-hal yg mencabik-cabik fitur pengakuan daripada sebuah mental. Ini adalah salah satu lagu terfavorit dan terbaik menurut ayas, bisa didenger juga chordnya blended in dengan rasa khas Anda. Thank you, man!

Anda Perdana (feat Bonita) – Cukup Dalam Hati

Tahun Baru, Panggung Baru?

Hello, mafren.

Terhitung sejak post ini dibuat, ya, agak telat, 2 Januari 2020, banyak banget orang mulai ngasih tau resolusi-resolusi mereka diluar sana. Beberapa majang di instastory, dijadiin highlight, ada juga yg masang di status twitter, di pinned, dan ga jarang yg ngepost video itu di kanal youtube. Ga bisa dipungkiri sih, budaya bikin resolusi kayak gini udah cukup lama ada, seenggaknya sejak jaman facebook masih digandrungi banget dulu, awal-awal tapi ya. Tapi, setelah ditengok kebelakang, sebenernya resolusi ini ga beda dari “new year wishes” yg ada di mig33 (jadul), friendster, ataupun mywapblog dulu. Bedanya di nama doang.

Jadi, singkat cerita, ada beberapa temen yg bikin list 10 resolusi 2020 bulan Januari ini. Kebanyakan dari mereka sih intinya nulis soal bakalan lebih sukses di karir sama married atau dapat calon married. Secara umur mereka juga ga muda sih, tapi, masih bisa lah dibilang “belom saatnya” kalo soal urusan married tadi. Nah, ada salah satu temen yg ga begitu deket nyeletuk nih. Katanya, dia bakalan bikin gebrakan baru, yg mana temen-temen sejawatnya (tua lagi) belom pernah ngelakuin. Alhasil, ayas ikutin dah kemana dia mau bawa tuh “gebrakan” sebenernya.

Kebetulan, si kawan yg penggebrak tadi, punya planning buat bikin semacam pergerakan, underground, dalam hal seni rupa. Kurang lebih doi pengen menyampaikan keresahan dan sedikit dendam ke orang-orang yg doi anggap terlalu sok asik dalam hidup. Poin utamanya sih, orang-orang yg otaknya ga logis. Well, ayas ngerasa ini sebuah momentum yg bagus nih. Karena ayas juga sebisa mungkin menjejali pelan-pelan rationalitas ke kehidupan sehari-hari, bahkan ke obrolan yg ya ga sebegitu masuk buat bawa rational kesana. Tapi, itu perlu, karena rational dan logis harus beriringan ada di / jadi standar kesadaran manusia. Hal ini bakalan berdampak pada pola hidup, pola pikir dan pola asuh baik itu ngasuh anak, ngasuh masyarakat, ataupun ngasuh ego diri sendiri. Sayangnya, ayas ga bisa dan ga mumpuni di bidang seni rupa (lukis, gambar, desain dkk). Alhasil ayas kontribusi di project si penggebrak ini via seni tulis (sajak dan lirik). Kebetulan beberapa karya ada yg di post di IG, tapi ga bakalan semua taroh sana, karena bukan pasarnya dan bukan ranahnya. Bahaya nanti kalo tulisan-tulisan kayak gitu ditaroh diatas permukaan tanah, ambyar!

Singkat cerita lagi, anak-anak band punk rock ayas, ikut-ikutan juga. Mungkin mereka mikir ini jalurnya sama, mungkin. Selang beberapa minggu, makin tambah gede nih pergerakan, meski tetep underground. Lucunya adalah, prediksi kami yg bakalan jadi boomerang negatif karena terlalu vulgar dan brutal dan tabu, malah direspon positif sama lumayan banyak orang, seenggkanya mereka yg sejalan atau hampir ga berseberangan laju.

Semua itu berjalan mulus kayak mukanya Ariel Tatum, sampe akhirnya ada news soal Corona atau virus dari Cina. So far, belom nyampe Indonesia sih, kayaknya. Cuma, desas desus buah bibir anak-anak tongkrongan kerasa kayak ini gelombang penyakit bakalan ke indo dalam waktu dekat. Entah kapan itu, yg pasti ini dari testimoni keliatan cukup ngeri, makanya bisa-bisa jadi penghambat pergerakan.

Pergerakannya apa itu? Terus apa hubungannya sama “panggung” di judul post? Well, panggung disini maksudnya tempat / wadah untuk berseni. Setelah cukup lama vakum dari seni yg menampar karena sibuk cari cuan di seni yg merakyat, alias seni jualan, akhirnya bisa dapet momentum dan panggung lagi. Tapi, ini masih awalan sih, entah deh besok kedepannya gimana. Cuma, ketika ada gerakan di air yg tenang, gelombangnya bisa tetep keliatan meski dari jauh kan?

Dengarkan Podcast di Spotify