Tumbuh dan Berkembang, Tapi Belum Berbuah

https://unsplash.com/photos/M9jrKDXOQoU

Dari benih-benih sederhana yg diolah dan diproses sekitaran pertengahan tahun 90an, jadilah sesosok biasa dengan segala sarkas dan dosa-dosa dunianya. Selama beberapa tahun kebelakang terhitung dari 2016 dimana bulan yg sama dengan tumbangnya raga Bapak, ayas sudah cukup mendapatkan progres meskipun tidak seberapa. Tapi kalo diliat-liat lagi, ini progres yg lebih nendang ketimbang progres yang lain. Tentu, ini progres yg baik karena sekitara 2 tahunan lebih terakhir-terakhir ini, ayas mendapatkan panggung baru dan menjadi penata panggungnya, bukan cuma pemain.

Kalau diliat lebih dalem lagi, 4 atau 5 tahun yg lalu, ayas masih berada pada kolong-kolong ego, dimana yg ayas lakukan adalah bersenang-senang, digadai dengan waktu, tapi outputnya ga sebegitu keliatan karena jatohnya ke internal diri / otak. Sekarang, tetap menggadaikan waktu, tetapi outputnya ayas rasakan lebih tinggi dan lebih luas plus keliatan dari luar. Ayas tetap belajar mengobservasi orang lain, diri sendiri, dan mendapatkan ilmu kehidupan, pemikiran, ide dan gagasan termasuk pengalaman dari sana. Selain itu, ayas juga sudah mampu menghasilkan sesuatu yg ayas bisa nikmatin sebagai sebuah “reward”. Ayas belajar hal lain yg sangat-sangat baru sekitaran 2 tahunan ini, baik itu inter ataupun intra, baik itu konteksnya personal ataupun hal lain yg masih berhubungan dengan hidup.

Oktober bisa jadi sebuah bulan dimana ayas pernah merasakan tragedi, tentu ini balik lagi ke tahun-tahun itu, bagi yg tahu. Tapi sekarang, ayas sudah berdamai dengan masa lalu, konteksnya yg ada hubungannya sama Oktober tadi, dan ayas sudah bisa melanjutkan kisah-kisah masa sekarang demi sebuah masa depan. Ga kerasa emang, kayak bulan-bulan berganti cepet banget, tapi disini ayas merasakan kenikmatan tersendiri. Ada sebuah nikmat yg ayas sadari, yg ayas pahami, dan yg ayas tahu bahwa hal ini adalah fakta, sebuah hal yg sangat nyata, realita. Untuk sampai di titik sekarang ini, ayas mengorbankan banyak hal, entah itu waktu, diri sendiri, ideologi, impian, dan macam lainnya. Tapi, karena ayas tau ini sebuah progres yg baik, ayas menikmatinya dengan teramat sangat.

Beberapa hal memang masih menjadi sebuah momok, sebuah persentase negatif soal hidup. Ayas ga akan bohong soal hal itu, tidak setiap hal yg ayas lakukan berprosesnya nikmat, bahkan outputnya juga benar-benar nikmat. Banyak, ga jarang, sangat-sangat pahit, ada amisnya kadang, getir. Tapi, ayas membekali diri dengan sebuah ilmu mahal, ilmu menyadari situasi dan kondisi. Ayas tahu, kalo mau A, B, C, ya gerak, usaha, ga cuman leyeh-leyeh sambil metik-metik kata mutiara ataupun menggumamkan keinginan keudara, dengan harapan nanti terwujud secara “ajaib”. No, no, no, hidup tak sekonyol itu. Kita, makhluk hidup, adalah subjek daripada survival. Barang siapa tidak bisa bertahan hidup, dia tewas, simple. Itu terlalu gamblang mungkin ya, tapi analoginya ya misal kita ga bisa catch-up sama problematika hidup, terus kita ga punya skill komunikasi yg baik buat minta bantuan ke orang lain, ya persentase kita terjatuh dan tak bisa bangkit lagi~ itu jauh lebih tinggi, yg berujung bisa jadi kita beneran jatuh ambyar permanen. Kita butuh usaha, kita butuh berproses, kita butuh survive.

Ayas sempat jadi katak dalam tempurung yg mempersetankan orang-orang, mempersetankan masa depan, karena ayas yakin dengan gumam-gumam berhadiah berbekal buku ajaib masa depan pasti cerah. Itu dulu! Lebih dari 10 tahun yg lalu! Ayas ga bangga sama sekali soal hal itu, karena makin kesini makin sadar betapa konyolnya ayas kala itu. Orang yg ga bisa dan ga mau usaha, pas-pasan apa adanya, pengen sesuatu yg wah sekali, berasa kayak dunia berputar hanya pada diri sendiri. No, no, no, hidup tidak sebego itu.

Pelajaran dan ilmu yg sangat mahal tadi, ayas jadikan sebuah bekal, sebagai amunisi, biar nanti ayas bisa survive dalam hidup. Beberapa bulan kebelakang bahkan, ketika pandemi, ayas sempatkan mengalokasi waktu demi mengobservasi orang lain secara lebih aktif dan dalam, demi mendalami soft skill hard skill secara lebih teratur dan efisien, demi menemukan, membangun dan mengerjakan milestone via kesadaran tingkat tinggi.

Tanpa semoga-semogaan, mari ayas tunjukkan, hasil daripada sebuah usaha tanpa kebanyakan delusi meminta-minta. Proses ini adalah sebuah proses untuk tumbuh dan sudah berkembang, tapi masih menanti musim kala berbuah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *